Arsip Blog

NU itu Tawasuth

Pada sebuah acara pendidikan kader IPNU di Jember, ada kisah yang menyayat hati. Kisah itu bermula dari seorang kyai yang mengisi materi Aswaja.

“Kita tahu, nilai Aswaja itu salah satunya Tawasuth. Kita semua tahu juga, tawasuth itu artinya sikap agama yang mengambil jalan tengah. Tengah-tengah. Kata orang Jakarta, Tawasuth itu moderat. NU itu Tawasuth,” kata kyai kita ini.

“Tapi ada ta’rif Tawasuth yang kita semua belum tahu. Ya, NU itu Tawasuth. Apa itu?” papar kyai datar.

“NU itu Tawasuth. Artinya NU itu hidup di tengah-tengah garis kemiskinan. Contohnya saya. Anak saya tujuh, tapi kamar tidur di rumah hanya ada dua. Untung ada pesantren. Saya pesantrenkan saja lima anak saya. Alhamdulillah, di rumah jadi tidak empet-empetan,” jelas sang kyai. (Hamzah Sahal)

Iklan

Wasiat KH. Hasyim Asy’ari Untuk Menjaga Aqidah Kita

Al Ghazali menceritakan sebuah kisah, bahwa disebuah perbukitan nan elok, berdirilah sebuah rumah nan indah dan sedap dipandang mata. Disekeliling rumah itu dirimbuni pelbagai pepohonan yang rindang. Halamannya penuh dengan rerumputan dan bunga-bunga yang menebar keharuman. Begitu mempesona dan memberikan rasa nyaman bagi siapapun yg menghuninya, karena dirawat dengan perawatan yang alami.

Di kesenjaan usianya, si empunya rumah tersebut berwasiat kepada anaknya agar seantiasa menjaga dan merawat pohon dan rumput-rumput itu sebaik mungkin. Begitu pentingnya, samapi-sampai  ia berkata “Selama engkau masih bertempat tinggal dirumah ini, jangan sampai pohon dan tanaman ini rusak, apalagi hilang”.

 

Ketika tiba saatnya si empunya rumah meninggal dunia, sang anak menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh mendiang ayahnya dengan sungguh-sungguh. Rumah itu betul-betul  dirawat, demikian pula pohon dan rumputnya. Tidak hanya itu, si anak kemudian berinisiatif untuk mencari jenis tanaman lain yang menurutnya lebih indah dan lebih harum untuk ditanam dihalaman rumah. Maka, rumah itu semakin menggoda untuk dilihat dan dinikmati.

Si anak berbunga bunga hatinya. Dibenaknya terlintas kebanggaan bahwa dirinya telah berhasil menjalankan amanah dengan menjaga pepohonan dan rerumputan yang menjadi penyejuk rumah lebih dari yang diperintahkan oleh orang tuanya. Bahkan akhirnya, tumbuhan baru yang ditanam si anak mengalahkan “rumput asli” baik dari segi keelokan maupun harumnya.

Namun yang patut disayangkan, tanaman dan rumput yang pernah diwasiatkan oleh ayahnya akhirnya ditelantarkan, sebab menurutnya sudah ada rumput dan tanaman lain yang lebih bagus, lebih sejuk dipandang, lebih harum dan sebagainya. Bahkan saat “rumput asli” tersebut rusak, tak ada rasa penyesalan di hati si anak. “Toh sudah ada tanaman dan rumput yg lebih bagus” pikirnya.

Tetapi anehnya, ketika “rumput asli” peninggalan orang tuanya itu rusak dan musnah tak tersisa, bukan kenyamanan dan ketentraman yg didapat. Karena ternyata, rumah tersebut lambat laun menjelma menjadi tempat istirahat yang menakutkan. Betapa tidak, rumah tersebut dimasuki berbagai macam ular, baik besar maupun kecil yang membuat si anak terpaksa harus meninggalkan rumah tersebut.

Mencermati kisah ini, Al Ghazali memaknai wasiat orang tua tersebut dengan dua hal:

Pertama, agar si anak dapat menikmati keharuman rumput yang tumbuh disekitar rumahnya. Dan makna ini dapat ditangkap dengan baik oleh nalar si anak.

Kedua, agar rumah tersebut aman. Sebab aroma rumput dan tanamn tersebut dapat mencegah masuknya ular kedalam rumah yang tentu berpotensi mengancam keselamatan penghuninya. Namun makna ini tidak ditangkap oleh nalar si anak. ( Qodliyyah al Tasawwuf al Munqidz min al Dlolal, 140 ).

Kisah ini sangat relevan jika di analogikan dengan wasiat syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menghindari ajaran beberapa tokoh yg menurut beliau tidak layak untuk dijadikan panutan oleh ummat islam indonesia, karena banyak hal yang bertentangan dengan apa yang diyakini dan diamalkan oleh ummat islam Indonesia yang dibawa oleh wali songo.

Kata Syaikh Hasyim asy’ari, sebagaimana telah maklum bahwa kaum muslimin di indonesia khususnya tanah jawa sejak dahulu kala menganut satu pendapat, satu madzhab dan satu sumber. Dalam fiqih, menganut madzhab Imam Syafi’i, dalam ushuluddin menganut madzhab Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi, dan dalam tasawuf menganut madzhab imam Ghazali dan Al junaidi.

Kemudian pada tahun 1330 H, muncullah berbagai kelompok dan pendapat yang bertentangan serta tokoh yang kontroversial yang berasal dari timur tengah, khusunya dari saudi.

Untunglah masih ada kelompok yang tetap konsisten dengan ajaran ulama salaf dan berpedoman pada kitab kitab mu’tabaroh/representatif, mencintai ahlul bait, para auliya, dan para sholihin, bertabaruk kepada mereka, berziarah kubur, mebacakan talqin untuk mayyit, meyakini adanya syafa’at, bertawasul dll . ( Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah: 9, Risalah Sunnah wal Bid’ah: 19) .

Wasiat Syaikh Hasyim Asy’ari tersebut bisa dimaknai dengan :

  1. Agar kaum muslimin khusunya warga nahdliyyin dalam mengamalkan ajaran islam, selalu berpegang kepada madzhab yang Mu’tabaroh yang telah disepakati oleh para ulama
  2. Menjaga aqidah ummat islam agar tidak terpengaruh atau dimasuki faham yang bertentangan dengan ajaran ulama salaf yang sudah turun temurun diamalkan oleh ummat Islam dunia khususnya Indonesia dan Nahdliyyin.

 

(Dikutip dari Majalah Risalah NU edisi 07)

Bangkitkan Sejarah Melalui Kirab Resolusi Jihad NU

Cirebon, SGO Online
Barisan Kirab Resolusi Jihad Nahdatul Ulama (NU) memasuki Losari Kabupaten Cirebon Jawa Jawa Barat, Rabu (23/11) sekitar pukul 13.00 WIB. Pasukan kirab yang berangkat dari Surabaya, Jawa Timur, sejak Ahad (20/11) itu disambut Menakertrans, Muhaimin Iskandar, dan Korwil NU Jabar, Helmy Faisal Zaini.

Barisan Pasukan kirab yang berjumlah ratusan orang itu kemudian diarak menggunakan Singa Depok. Arak-arakan itu dimulai dari jembatan Sungai Cisanggarung, yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Tengah-Jawa Barat, hingga panggung acara di terminal Losari yang berjarak sekitar 100 meter.

Pasukan kirab yang menggunakan ratusan motor dan puluhan mobil itu mengarak bendera Merah Putih dan pataka NU. Selanjutnya, benda-benda tersebut diserahkan kepada Helmy Faisal Zaini.

Muhaimin Iskandar, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk membangkitkan sejarah perjuangan para tokoh NU dalam menegakkan kedaulatan NKRI.

Menurut Muhaimin, bangsa Indonesia selama ini hanya mengenal tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Padahal, peristiwa 10 November tidak akan terjadi tanpa adanya peristiwa pada 22 Oktober 1945.

Saat itu, terang Muhaimin, Rais Akbar NU, KH Hasyim Asyari, bersama kiai-kiai besar NU lainnya telah menyerukan jihad fi sabilillah. Seruan itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia mempertahankan NKRI yang baru diproklamasikan.

Namun, kata Muhaimin, resolusi jihad yang diserukan para kyai NU pada 22 Oktober 1945 itu belum diakui secara resmi keberadaannya dalam sejarah Indonesia. Padahal, keberadaan resolusi jihad itu memiliki bukti otentik yang tersimpan di Museum Leiden Belanda. “Hal ini sangat disayangkan,” kata Muhaimin.

Hal senada diungkapkan perwakilan dari tokoh NU Kabupaten Cirebon, KH Lutfi Fuad Hasyim. Dia mengatakan, berdirinya NKRI tak dapat dipisahkan dari perjuangan para kyai dan santri.

Lutfi menyebutkan, salah satu tokoh yang terlibat dalam rapat pada 22 Oktober 1945  adalah KH Abdullah Abas. Tokoh yang berasal dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon itu bahkan dikenal sebagai Singa dari Jawa Barat.

Lutfi menjelaskan, KH Abdullah Abas merupakan ahli strategi perang. Karena itu, kedatangannya ke Surabaya pun disambut gembira masyarakat Surabaya. “Tapi sayang, tokoh-tokoh NU yang berperan pada masa itu tidak masuk dalam sejarah,” kata Lutfi.

Redaktur : Syaifullah Amin (sumber)

Doa Kemerdekaan Gus Mus

Kelompok Indonesia Optimis menyelenggarakan acara 17an secara virtual/digital. Gus Mus pun diminta membacakan doa kemerdekaan. berikut doa yang disampaikan oleh wakil rais aam PBNU ini.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Wahai Keindahan yang menciptakan sendiri segala
yang indah,
Wahai Pencipta yang melimpahkan sendiri segala anugerah
Wahai Maha Pemurah yang telah menganugerahi
kami negeri sangat indah dan bangsa yang menyukai keindahan,
Ya Allah yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah,
Demi nama-nama agungMu yang maha indah
Demi sifat-sifat suciMu yang maha indah
Demi ciptaan-ciptaanMu yang serba indah
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kepekaan menangkap dan mensyukuri keindahan anugerahMu.
Keindahan merdeka dan kemerdekaan
Keindahan hidup dan kehidupan
Keindahan manusia dan kemanusiaan
Keindahan kerja dan pekerjaan
Keindahan sederhana dan kesederhanaan
Keindahan kasih sayang dan saling menyayang
Keindahan kebijaksanaan dan keadilan
Keindahan rasa malu dan tahu diri
Keindahan hak dan kerendahan hati
Keindahan tanggung jawab dan harga diri
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kemampuan mensyukuri nikmat anugerahMu
dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridlai
Selamatkanlah jiwa-jiwa kami
dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami
Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
ke jalan indah menuju cita-cita indah kemerdekaan kami
Kuatkanlah lahir batin kami
untuk melawan godaan keindahan-keindahan imitasi
yang menyeret diri-diri kami dari keindahan sejati
kemanusiaan dan kemerdekaan kami
Merdekakanlah kami dari belenggu penjajahan apa saja
selain penjajahanMu
termasuk penjajahan diri kami sendiri
Kokohkanlah jiwa raga kami
untuk menjaga keindahan negeri kami.
Ya Malikal Mulki Ya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa
Jangan kuasakan atas kami –karena dosa-dosa kami–
penguasa-penguasa yang tak takut kepadaMu
dan tak mempunyai belas kasihan kepada kami.
Anugerahilah bangsa kami pemimpin yang hatinya
penuh dengan keindahan cahaya kasihsayangMu
sehingga kasihsayangnya melimpahruahi rakyatnya
Jangan Engkau berikan kepada kami pemimpin
Yang merupakan isyarat kemurkaanMu atas bangsa kami

Wahai Maha Cahya di atas segala cahya
Pancarkanlah cahyaMu di mata dan pandangan kami
Pancarkanlah cahyaMu di telinga dan pendengaran kami
Pancarkanlah cahyaMu di mulut dan perkataan kami
Pancarkanlah cahyaMu di hati dan  keyakinan kami
Pancarkanlah cahyaMu di pikiran dan sikap kami
Pancarkanlah cahyaMu di kanan dan kiri kami
Pancarkanlah cahyaMu di atas dan bawah kami
Pancarkanlah cahyaMu di dalam diri kami
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan ciptaanMu dan meresapinya
dapat menangkap keindahan anugerahMu dan mensyukurinya
Agar kami dapat menangkap keindahan jalan lurusMu dan menurutinya
dapat menangkap keburukan jalan sesat setan dan menghindarinya

Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan kebenaran dan mengikutinya
dapat menangkap keburukan kebatilan dan menjauhinya
Agar kami dapat menangkap keindahan kejujuran dan menyerapnya
dapat menangkap keburukan kebohongan dan mewaspadainya
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Sirnakan dan jangan sisakan sekelumit pun kegelapan
di batin kami.
Ya Maha Cahya di atas segala cahya
Jangan biarkan sirik dan dengki
hasut dan benci
ujub dan takabur
kejam dan serakah
dusta dan kemunafikan
gila dunia dan memuja diri
lupa akherat dan takut mati
serta bayang-bayang hitam lainnya
menutup pandangan mata-batin kami
dari keindahan wajahMu.
menghalangi kami
mendapatkan kasihMu
menghambat sampai kami
kepadaMu.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Ampunilah dosa-dosa kami
Dosa-dosa para pemimpin dan bangsa kami
Merdekakanlah kami dan kabulkanlah doa kami.
Amin.
@.mustofa bisri

Forum Dialog antar Agama Maroko Berkunjung ke PBNU

Jakarta, NU Online
Delegasi dari Forum Dialog Antar Agama Maroko melakukan kunjungan ke kantor PBNU, Senin (11/7). Mereka diterima oleh KH Said Aqil Siroj dan sejumlah pengurus lainnya. Mereka yang hadir adalah Prof Dr Ben Abdelkrim Filali Mohammed, Prof Dr Muhammad Kharchafi, Prof Dr Ahmed Ziyadi, dan Prof Dr Maryan Ait Ahmad.

Dalam diskusi berbahasa Arab yang berlangsung secara gayeng tersebut, mereka mengapresiasi NU sebagai organisasi massa terbesar di dunia, dan berharap partisipasinya dalam menyelesaikan konflik. Upaya yang dilakukan NU dalam menjadi model bagi Negara Arab untuk belajar menyelesaikan konflik.

Di negara Arab, upaya-upaya perdamaian yang digagas NU telah dikenal, seperti rombongan ulama Lebanon yang dating ke PBNU untuk bertukar fikiran dengan PBNU untuk masalah konflik di Lebanon. Peran NU terus dibutuhkan untuk memperluas dialog dengan para ulama menyelesaikan permasalahan di dunia Islam.

Para intelektual tersebut juga mengakui peran dan pendekatan Indonesia yang mampu menjaga harmoni masyarakatnya, ditengah-tengah keragaman. Karena itu, di beberapa universitas di Maroko, diajarkan bahasa Indonesia,yang nantinya diharapkan sebagai media komunikasi dalam mempelajari kebudayaan Indonesia dalam menyelesaikan berbagai permasalahannya.

Terkait dengan harlah ke-85 NU, ada tiga orang delegasi yang akan hadir dalam pertemuan ulama sufi sedunia. Diantaranya Prof Dr Ahmed Ziyadi, Dr Rajaa Tounsi dan Prof Dr Maryam Ait Ahmad. Mereka akan merepresentasikan beberapa tarekat sufi yang ada di Maroko

Sementara itu Kiai Said Aqil menuturkan NU telah mendorong terciptanya kerukunan antar umat beragama dengan mendorong diperbanyaknya dialog lintas agama yang diprakarsai oleh NU.

Ia juga berharap terdapat pertukarang pelajar Indonesia dan Maroko, dengan mengirimkan santri untuk belajar di sana atau mengirimkan guru agama dari Maroko untuk berkeliling dan mengajar di sejumlah pesantren NU.

Kemungkinan kerjasama lain adalah penerjemahan buku-buku yang dikarang oleh orang NU ke dalam bahasa Arab, dan juga buku bahasa Arab yang dikarang oleh ulama Maroko dalam bahasa Indonesia.

Penulis: Mukafi Niam

sumber NU.OR.ID

Mengenal NU dan Muhammadiyah

Oleh : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo (Rektor UIN Malang)

Saya mengenal NU dan Muhammadiyah sejak kecil. NU saya kenali dari ibu dan ayah saya sendiri, yang kebetulan cukup lama menjadi pengurus organisasi keagamaan ini. Sedangkan mengenal Muhammadiyah dari beberapa orang termasuk kakak saya yang ikut dalam gerakan organisasi ini. Anak-anak muda di desa saya, secara pelan tertarik pada Muhammadiyah, sekalipun kebanyakan orang tua masih bertahan di organisasi semula, Nahdlatul Ulama’ (NU). Anak muda yang tertarik masuk Muhammadiyah, saya yakin bukan karena argumentasi gerakan ini lebih kukuh dibandingkan yang lain, akan tetapi saya lihat lebih disebabkan oleh citra modern pimpinannya. Pimpinan Muhammadiyah adalah seorang pegawai kecamatan, yang tergolong kaya. Berbekal kekayaannya itu dia berhasil membangun pengaruh di kalangan anak-anak muda itu.

Sebagai anak pimpinan NU di tingkat kecamatan, saya agak sulit meninggalkan idiologi keagamaan orang tua saya. Dalam perasaan saya, ketika masih kecil itu, saya harus menjadi pembela faham keagamaan yang dianut oleh kedua orang tua. Cara itu saya rasakan sebagai bagian dari upaya berbakti kepadanya. Saya menyenangi bergaul dengan anak-anak muda yang telah terlebih dahulu terpengaruh oleh faham Muhammadiyah, akan tetapi semangat berbakti pada orang tua tidak mampu mengalahkan pengaruh itu.

Sebagai anak muda, saya merasa kurang senang dengan kritik-kritik yang biasa dilontarkan oleh orang-orang Muhammadiyah dalam berdakwah. Saya merasakan betul, bahwa kritik itu sesungguhnya ditujukan kepada orang tua saya sendiri. Orang Muhammadiyah dalam berdakwah tidak jarang menyampaikan kritik-kritik yang menyakitkan, misalnya menyebut kelompok tua sebagai orang kolot, kuno dan selalu menjalankan amalan yang berbau syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Kritik-kritik itu mungkin ada benarnya, akan tetapi jika hal itu didengarkan oleh kelompok tua, diarasakan sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan hati.

Sebaliknya, kritik-kritik itu sangat menyenangkan jika didengar oleh orang-orang yang sudah menjadi Muhammadiyah. Saya ketika itu juga kurang mengerti, mengapa dalam berdakwah melahirkan suasana menang dan kalah, dan bangga jika ceramahnya berhasil menyakiti orang. Jika seorang dalam berdakwah berani mengkritik kelompok lain, akan disorak-sorai sebagai tanda keberanian dan sekaligus kemenangan. Padahal semakin keras kritik yang dilontarkan, sasaran dakwah, yakni kelompok yang belum masuk organisasi itu, semakin antipati dan bahkan membencinya.

Kritik-kritik yang dilontarkan berhasil memperkukuh kohesifvitas internal orga nisasi. Akan tetapi, sebaliknya akan membuat semakin jauh orang-orang yang belum tertarik masuk pada organisasi Muhammadiyah. Kebencian yang ditimbulkan sebagai akibat kritik-kritik itu juga menunai hasil, yaitu berupa citra yang kurang baik bagi Muhammadiyah. Anak-anak Muhammadiyah, di kalangan oang tua dipandang sebagai anak yang kurang menghargai sopan santun atau tata krama dalam pergaulan. Sehingga, jika ada anak muda yang kurang tawadhu’ pada orang tua, segera disebut sebagai telah terpengaruh Muhammadiyah. Citra Muhammadiyah lantas bukan sebagai organisasi pembaharu yang memperjuangkan nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Rasulullah, melainkan justru sebagai kelompok yang kurang memiliki sopan santun kepada orang tua.

Dua jenis organisasi social keagamaan di tempat kelahiran saya sama-sama tumbuh. Jika disebut kelompok NU adalah merupakan kumpulan orang tua, sedangkan sebaliknya Muhammadiyah merupakan kumpulan anak-anak muda, maka pembedaan itu tidaklah mutlak benarnya. Tidak sedikit anak-anak muda yang masih bertahan di organisasi keagamaan sebelumnya, yakni NU dan ada pula orang tua yang berhasil terkena pengaruh Muhammadiyah. Kedua kelompok tersebut memiliki pengaruh yang sama kuat di desa itu.

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah di seputar ibadat, sesungguhnya tidak masuk hal yang bersifat prinsip. Perbedaan itu misalnya, dalam jumlah roka’at dalam sholat tarweh, menggunakan kunut dan tidak, menggunakan usholli dalam mengawali sholat atau tidak, sholat hari raya di masjid atau di lapangan, sholat jum’at menggunakan adzan sekali atau dua kali, pakai kopyah atau tidak dan semacamnya. Di luar peribadatan itu masih ada perbedaan lain, misalnya orang NU suka kenduri sedang orang Muhammadiyah tidak mau mengundang, tetapi masih mau diundang. Kesediaan menghadiri undangan kenduri bagi Muhammadiyah lantas juga melahirkan kritik dari orang-orang NU. Misalnya orang Muhammadiyah mau diberi tetapi tidak mau memberi.

Perbedaan faham keagamaan tersebut menjadikan masyarakat terprakmentasi secara tajam. Akan tetapi, sebagaimana masyarakat desa pada umumnya, masih memiliki lembaga yang mampu menyatukan di antara kelompok-kelompok itu. Misalnya, peristiwa pernikahan, khitanan, kematian, kegiatan desa yang terkait dengan pemerintahan dan sejenisnya. Betapapun tajamnya perbedaan itu tetapi dengan mudah dapat disatukan kembali.

Perbedaan pandangan itu, biasanya dilontarkan dalam bentuk sindiran dan bahkan juga ejekan. Sindiran atau ejekan kepada kelompok lain, jika dimaksudkan sebagai cara dakwah untuk membangun kesadaran orang lain, sesungguhnya justru kontra produktif. Sindiran atau ejekan itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kebencian. Dan seseorang yang dibuat benci tidak akan mengikuti pikiran, apalagi jejak langkah orang yang melontarkan kritik dan ejekan itu. Oleh karena itu, saya kira perkembangan dakwah Muhammadiyah yang tidak terlalu berhasil dengan cepat, sebagai salah satu sebabnya, cara dakwahnya dilakukan melalui kritik-kritik itu.

Gambaran tentang NU dan Muhammadiyah seperti itulah yang saya lihat dan rasakan t tatkala saya masih tinggal di desa, semasa remaja. Saya juga belum tertarik dengan Muhammadiyah ketika itu, dan bahkan ada perasaan kurang bersimpatik jika mereka mengkritik ayah saya terlalu tajam. Saya berpandangan ketika itu, jika saja faham keagamaan itu disampaikan dengan pendekatan yang tepat, sehingga tidak melukai hati atau perasaan orang, maka saya berkeyakinan Muhammadiyah akan segera diterima masyarakat lebih cepat dan semakin meluas.

Mengikuti konsep yang akhir-akhir ini dilontarkan oleh beberapa anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang dakwah cultural, mungkin itu lebih tepat dijalankan. Saya berkeyakinan, andaikan Muhammadiyah menggunakan pendekatan kultural, dan tidak melakukan pendekatan menang kalah sebagaimana yang banyak dilakukan pada saat itu, maka faham ini tidak akan menemui resistensi yang cukup kuat. Tokh perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya juga tidaklah terlalu mendasar. Apalagi NU sendiri sesungguhnya sangat toleran terhadap perbedaan itu. Mereka sudah terbiasa dengan pandangan berbagai imam madzhab, sehingga apa yang diintrodusir oleh Muhammadiyah sesungguhnya juga bukan dianggap hal baru. Jika ketika itu kegiatan dakwah dilakukan dengan hati-hati, ——tidak terasakan nuansa menang dan kalah, maka umat Islam tidak akan terpolarisasi sebagaimana yang terjadi sekarang ini, yang ternyata tidak mudah untuk diutuhkan kembali.

Semangat dan gerakan dakwah, menyampaikan risalah rasulullah, sebagaimana telah banyak dilakukan, baik oleh NU maupun Muhammadiyah adalah merupakan misi yang sangat terpuji dan mulia. Akan tetapi, menurut al Qur’an dan juga Hadits Nabi hal itu harus dilakukan dengan penuh hikmah, agar jangan sampai menimbulkan perasaan sakit hati, yang kemudian berujung terjadi perpecahan. Selain itu, apapun dalih yang digunakan, semestinya cara-cara dakwah tidak boleh mengganggu kesatuan dan persatuan umat Islam. Umat Islam harus tetap bersatu. Begitulah pesan al Qur’an maupun tauladan Rasulullah saw. Allahu a’lam

Sumber Artikel website-Rektor-UIN-Malang