Category Archives: Karya Sastra

NU itu Tawasuth

Pada sebuah acara pendidikan kader IPNU di Jember, ada kisah yang menyayat hati. Kisah itu bermula dari seorang kyai yang mengisi materi Aswaja.

“Kita tahu, nilai Aswaja itu salah satunya Tawasuth. Kita semua tahu juga, tawasuth itu artinya sikap agama yang mengambil jalan tengah. Tengah-tengah. Kata orang Jakarta, Tawasuth itu moderat. NU itu Tawasuth,” kata kyai kita ini.

“Tapi ada ta’rif Tawasuth yang kita semua belum tahu. Ya, NU itu Tawasuth. Apa itu?” papar kyai datar.

“NU itu Tawasuth. Artinya NU itu hidup di tengah-tengah garis kemiskinan. Contohnya saya. Anak saya tujuh, tapi kamar tidur di rumah hanya ada dua. Untung ada pesantren. Saya pesantrenkan saja lima anak saya. Alhamdulillah, di rumah jadi tidak empet-empetan,” jelas sang kyai. (Hamzah Sahal)

Iklan

‎”Kedewasaan seseorang”

‎”Kedewasaan seseorang tidak bisa dilihat dari cara dia berjalan, gaya berbicara, selera musik, gaya berpakaian dan hal-hal yang terlalu gampang untuk dibuat-buat lainnya, kedewasaan seseorang hanya dapat dilihat dari kebijaksanaannya dalam menentukan pilihan.”

(Alexius Acchnur)

KAU INI BAGAIMANA , ATAU AKU HARUS BAGAIMANA

Kau ini bagaimana ……
Kau bilang aku merdeka ….
Kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir ……
Aku berpikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana ……..
Kau bilang bergeraklah …….
Aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah ……..
Aku diam saja kau waspadai
Kau ini bagaimana ……..
Kau suruh aku memegang prinsip …….
Aku memegang prinsip …..
Kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran …..
Aku toleran kau bilang aku plin plan
Aku harus bagaimana …..
Aku kau suruh maju ……….
Aku mau maju kau selingkung kakiku ….
Kau suruh aku bekerja ……..
Aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana ???
Kau suruh aku taqwa ….
Khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikuti mu ……
Langkahmu tak jelas arah nya
Aku harus bagaimana ….
Aku kau suruh menghormati hukum ……
Kebijaksanaanmu menyepelekan nya …..
Aku kau suruh berdisiplin ……
Kau menyontohkan yg lain …..
Kau ini bagaimana ….???
Kau bilang tuhan sangat dekat …..
Kau sendiri memanggil manggilnya dengan pengeras suara setiap saat …… Kau bilang …..
Kau suka damai kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana …. ????
Aku kau suruh membangun …….
Aku membangun kau merusak kannya
Aku kau suruh menabung …..
Aku menabung kau menghabiskannya
Kau ini bagaimana … ???
Kau suruh aku menggarap sawah …..
Sawahku kau tanami rumah rumah
Kau bilang aku harus punya rumah …..
Aku punya rumah ….. .
Kau meratakan nya dengan tanah
Aku harus bagaimana …. ????
Aku kau larang berjudi …..
Permainan spekulasimu menjadi jadi
Aku kau suruh bertanggung jawab …..
Kau sendiri terus berucap wallohu a’lam bishshowab
Kau ini bagaimana …. ????
Kau suruh aku jujur …..
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar …..
Aku sabar kau injak tengkuk ku
Aku harus bagaimana ……
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku …….
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu …..
Kau bilang kau selalu memikirkanku …..
Aku s a p a s a j a kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana ….
Kau bilang bicaralah ……
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara …..
Aku bungkam kau tuduh aku apatis
Aku harus bagaimana ….. ???
Kau bilang kritiklah …..
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya …..
Aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana …. ???
Aku bilang terserah kau ……
Kau tidak mau
Aku bilang terserah kita …..
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku
Kau ini bagaimana ….
Atau aku harus bagaimana …. ???

GUS MUS 1987

sumber

hUMOR dari Gus dur; Orang NU Gila

Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.

Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.(okezone)

hUMOR; Mbah Maridjan “Beragama” NU

Mbah Maridjan

KH Hasyim Muzadi, saat itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, membawa oleh-oleh menarik dari lereng Merapi saat terjadi letusan Merapi tahun 2006 lalu. Saat berkunjung ke tempat pengungsian, Hasyim berkesempatan bertemu dengan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Pada kesempatan itu Hasyim menghadiahi sebuah jaket yang pada bagian belakangnya terdapat gambar logo Nahdlatul Ulama (NU).

Mengetahui hal itu, Mbah Maridjan kontan mengatakan, “Nggih niki agomo kulo. Agomo kulo niku NU,” (“Ya ini agama saya. Agama saya itu adalah NU”) serunya seraya menunjuk logo NU pada jaket tersebut.

Penasaran, Hasyim lantas bertanya, “Sanes Islam, Mbah?” (“Bukannya Islam, Mbah?”)

“Nggih sami mawon,”
(“Ya sama saja”) jawab Mbah Maridjan sambil tertawa.

Tokoh masyarakat setempat yang telah meninggal dunia akibat terkena wedhus gembel atau awan panas akibat letusan Merapi ini merupakan wakil rais syuriah Majelis Wakil Cabang NU Cangkringan, Sleman.

Original Content At Website NU