Category Archives: Berita dan Wawancara

Kh.Hasyim Muzadi Bantah Tudingan Eropa tentang Adanya Intoleransi Beragama di Indonesia

Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi menyangkal penilaian peserta sidang PBB di Jenewa Swiss yang menuduh Indonesia intoleransi beragama. Bahkan mantan Ketua Umum PBNU itu menyerang balik sejumlah negara di Eropa yang intorelansi beragama dalam sejumlah kasus.

“Saya sangat menyayangkan tuduhan intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu pasti, karena laporan dari dalam negeri Indonesia,“ kata mantan Ketua Umum PBNU itu menjawab wartawan di Jakarta Jakarta, Rabu (30/5).

Menurut Hasyim, tidak ada negara di dunia ini yang lebih toleran dari Indonesia dalam beragama. “Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim manapun yang setoleran Indonesia,” jelasnya.

Hasyim lantas mempertanyakan ukuran intoleransi beragama yang dituduhkan oleh peserta sidang PBB di Jenewa Swiss. “Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi politik barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam Indonesia,” katanya.

Kasus GKI Yasmin Bogor, kata Hasyim, juga juga tidak bisa dijadikan ukuran Indonesia intoleransi beragama. “Saya berkali kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional dan dunia untuk kepentingan daripada masalahnya selesai. Kalau ukurannya pendirian gereja, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua,” katanya.

Selanjutnya, katanya, jika yang dijadikan ukuran adalah protes terhadap konser Lady Gaga dan Insyad Manji, kata Hasyim, tidak ada bangsa di dunia ini yang mau tata nilainya dirusak orang lain. “Bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan intelektualisme kosong? Kalau ukurannya HAM di Papua, kenapa TNI, Polri, dan imam masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM?,” katanya.

Lebih lanjut, pengasuh pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini mengatakan, Indonesia lebih baik toleransinya ketimbang Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan pendirian menara masjid. Indonesia, katanya, juga lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan jilbab, dan lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia yang tak menghormati agama karena disana ada UU perkawiman sejenis.

“Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis? Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia dan kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar humanisme dan mana yang sekedar westernisme,” pungkasnya.

Penulis: Munif Arpas (sumber nu.or.id)

Iklan

Adanya upaya mengadu domba GP Ansor dengan kelompok lain -Nahdlatul Ulama News

Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor meminta semua kader Ansor dan Barisan Ansor Serba Guna di seluruh daerah untuk menahan diri dalam menyikapi penyerangan terhadap anggota Banser oleh kawanan pendekar Perguruan Setia Hati Terate (PSHT) di Tulungagung Jawa Timur.

Ketua Umum PP GP Ansor, Nusron Wahid mengatakan, pihaknya meminta semua kader Ansor dan Banser tidak terprovokasi dan melakukan tindakan balasan terhadap kelompok yang merusak dan menyerang anggota Banser di Tulungagung.

“Saya intruksikan, semua menahan diri. Semua harus tenang. Jangan sampai terprovokasi dan main hakim sendiri,” kata Nusron Wahid, di Jakarta, Selasa (29/5).

Ansor, kata Nusron, menyerahkan kasus tersebut kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. “Saya minta kepada polisi untuk menangani kasus ini setuntas-tuntasnya,” ungkap mantan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Lebih lanjut, Nusron mengatakan, Ansor melihat adanya upaya mengaadu domba Ansor dengan kelompok lain dari pihak tertentu dalam kasus tersebut. Mereka ingin merusak citra Ansor dan Banser dengan berharap Banser melakukan serangan balik.

“Ada indikasi adu domba Ansor dengan kelompok lain. Yang diingini mereka, Ansor terpancing kemudian melakukan tindakan radikal, melakukab serangan balasan. Makanya, saya minta jangan sampai ada yang terpancing,” tandasnya.

Karena ada indikasi adu domba, Nusron juga meminta semua pihak mewaspadai munculnya Banser gadungan yang melakukan serangan balik. “Waspadai juga munculnya Banser siluman. Jadi kalau ada yang berbuat tidak baik atas nama Banser, itu bukan Banser,” katanya.

Lalu, siapa kelompok yang ingin mengadu domba ? “Silahkan wartawan tanya sendiri ke orang-orang yang menyerang Banser,” katanya.

Seperti diketahui, dua anggota Banser Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, diserang ratusan pemuda beratribut perguruan silat Setia Hati Terate (SHT). Tindakan brutal para pendekar tersebut tidak hanya melukai dua anggota banser, tapi juga merobohkan dan menginjak-injak papan nama Kantor Ranting Nahdatul Ulama (NU).

Peristiwa penyerangan terjadi pada Ahad 27 Mei 2012 sore di Kantor Ranting NU Desa Wonokromo, Kecamatan Gondang. Dua anggota Banser yang disabet parang adalah Brilian Kusuma Adi (18) dan Moh Rizal Saputra (15).

Adi menderita luka bacok pada punggung. Pemuda asal Desa/Kecamatan Kauman ini terpaksa mendapat tujuh jahitan. Sedangkan Rizal mengalami luka pada bagian pantat dan terpaksa mendapat sembilan jahitan. Saat penyerangan, keduanya mengenakan seragam Banser. Sebab usai melakukan acara jalan sehat dalam rangka memperingati Harlah NU ke-89. Akibat peristiwa tersebut, seluruh anggota Ansor dan Banser langsung berkumpul di Kantor PCNU Tulungagung.

Tidak hanya dari wilayah Tulungagung. Perwakilan Banser dari daerah sekitar Tulungagung juga berdatangan. Di antaranya Kediri, Madiun, Nganjuk, Trenggalek, dan Blitar. Belum lagi pernyataan sikap melalui pesan pendek (SMS) dan BlackBerry Messenger dari Ansor dan Banser wilayah Jombang, Tapal Kuda, dan Madura. Mereka siap mendatangkan pasukan jika diperlukan.

Bahkan sejumlah anggota Banser sudah bersiap melakukan aksi balasan termasuk sweeping kepada warga perguruan SHT di Tulungagung. Untungnya tindakan yang bisa menjurus ke perbuatan brutal tersebut berhasil diredam.

Problematika Umat: Hutang Kepada Orang yang Sudah Meninggal

Kematian adalah suatu keniscayaan bagi semua orang. Suatu saat kita pasti mengalaminya. Kematian bukanlah akhir dari suatu perjalanan kehidupan manusia, justru dengan kematian kehidupan lain di akhirat baru dimulai.Karena itu langkah terbaik adalah bagaimana semaksimal mungkin menjalankan ibadah dan amal saleh sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Kita beramal seakan-akan besok akan meninggal, dan mengerjakan kehidupan duniawi seakan-akan hidup selamanya. Dengan beitu niscaya akan tercapai keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Harta bukanlah tujuan, tapi sarana mempertahankan hidup dan beribadah. Namun, banyak diantara kita yang berusaha mengantisipasi keadaan sepuluh tahun, lima puluh tahun bahkan seratus tahun yang akan datang, tanpa jarang yang mengantisipasi kehidupan akhirat.

Sehubungan dengan harta, hutang-piutang merupakan salah satu hal penting yang dibahas dalam fiqih. Karena dalam sebuah hadits diterangkan bahwa Rasulullah Saw. tidak mau meshalati jenazah yang masih menanggung utang. Karena orang yang meningal masih dalam keadaan menanggung utang, di akhirat kelak akan dituntut dan dimintai pertanggung jawaban.
Oleh karena itu setiap muslim harus berusaha sekuat tenaga melunasi hutang-hutangnya. Kalau memang tidak mampu, hendaknya meminta kerelaan dain (pihak yang menghutangi) untuk membebaskannya. Dalam istilah fiqih hal ini disebut dengan istilah ibra’.

Kewajiban membayar hutang tidak gugur meski dain telah meninggal. Sebab dengan kematian akan terjadi proses pewarisan atau peralihan kepemilikan dari si jenazah kepada ahli warisnya. Termasuk harta yang diwariskan adalah hutang-hutang yang diberiakn kepada si jenazah kepada orang lain semasa hidupnya.
Dengan demikian, madin (pihak yang berhutang) diwajibkan  membayar hutangnya kepada ahli waris almarhum atau almarhumah. Adalah beban madin untuk berusaha mencari mereka guna membayar hutang.

Pertanyaannya , bagaimana jika ahli waris tidak diketahui tempatnya? Seandainya semua ahli waris tidak ditemukan, dan madin pun tampak putus asa, tidak ada harapan sama sekali, kondisi ini tidak secara otomatis menggugurkan kewajiban. Dia masih terbebani melunasinya. Bagaimana caranya? Hal itu diatur dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin, yakni dengan menyerahkan hutang itu untuk kepentingan umat Islam.

Jika didaerahnya kebetulan ada usaha pembangunan masjid atau madrasah, hutang tersebut bisa disumbangkan. Meski jumlahnya mungkin tak seberapa dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan itu. Karena yang penting, si madin menemukan saluran untuk melunasi utangnya.
Dalam hukum hutang-piutang, bila utang beras 10 kilogram, maka membayarnya juga dengan jumlah dan kualitas yang sama pula. Hutang seratus ribu rupiah membayarnya juga seratus  ribu rupiah. Itu adalah kewajiban dan ketentuan minimal. Dalam suatu hadis Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya: “sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang” (Muttafaq Alaihi)

Membayar hutang dengan baik, artinya membayar degan jumlah lebih besar atau dengan kualitas lebih baik, disamping tidak mengulur-ulur waktu kalau pada kenyataanya telah sanggup melunasi. Hanya saja, harus diingat, tambahan yang dibayarkan haruslah dilakukan dengan sukarela dan tidak di syaratkan pada saat akad peminjaman dilakukan. Hal itu betul-betul berdasarkan ketentuan dari si madin. Sebab kalau diwajibkan atau di syaratkan pada saat akad, maka hukumnya malah menjadi haram. Sebab,  hal itu termasuk praktek riba, yang nyata-nyata diharamkan Islam, karena berlawanan dengan semangat saling membantu dan persaudaraan, at-ta’awun wa al-ukhuwah.

Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat. Surabaya: Khalista & LTN PBNU

PCI NU Malaysia Menggalang Dana untuk Pembangunan Markaz

Kuala Lumpur, NU Online
Peringatan Maulid Rosul yang dilaksanakan oleh PCI NU Malaysia pada Ahad tanggal 26 Februari lalu berjalan cukup khidmat dan meriah. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 1500 warga NU di Malaysia diadakan di Payajaras Sungai Buluh, salah satu ranting PCI NU Malaysia.

Acara dimeriahkan oleh beberapa group shalawat antara lain group dari ranting Payajaras, group Shalawat Balakong dan Gambus. Lantunan-lantunan shalawat yang ditampilkan membuat suasana acara serasa diselenggarakan di Indonesia.

Selain dihadiri oleh Katib Aam PBNU KH Malik Madany, acara juga dihadiri oleh anggota Dewan Undangan Negeri (Parlemen di Malaysia) Sungai Buloh.

Ahmad Mu’idi dalam sambutannya mensosialisasikan tentang telah resminya status hukum PCI NU Malaysia, sekaligus menyampaikan beberapa rancangan program yang akan dijalankan NU ke depannya.

Mu’idi juga menyampaikan setelah NU diiktiraf menjadi Pertubuhan atau mendapatkan status hukum dari pemerintah Malaysia, kepengurusan sekarang sangat optimis dapat mewujudkan markaz (sekretariat), di mana pada kepengurusan sebelumnya rencana ini sudah dimulai. Markaz ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai sekretariat NUCIM, namun lebih pada pusat dakwah dan pendidikan bagi masyarakat Muslim Indonesia di Malaysia, khususnya warga Nahdlatul Ulama.

Di tengah sambutannya, Ketum PCI NU Malaysia meminta kepada para jama’ah berpartisipasi dalam pembangunan markaz. Kemudian diiringi lantunan shalawat Mu’idi mulai memberikan isyarakat kepada pengurus lain untuk menyebarkan kotak amal, sebagai tanda penggalangan dana untuk Markaz di periode kepengurusan sekarang mulai digalakkan lagi.

Hasil penggalangan dana dalam acara tersebut setelah dirupiahkan terkumpul Rp. 6.224.000,-. Bendahara PCI NU Malaysia, H. Nasihin menyatakan hasil dari penggalangan dana dalam acara ini sangat membanggakan, bukan hanya dari jumlahnya namun lebih kepada apresiasi para warga untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan markaz ini.

“Perlu diketahui, pada kepengurusan sebelumnya melalui distribusi kupon dana yang terkumpul hampir mencapai 15 juta rupiah,” tutur Nasihin.

Sementara KH Malik Madany MA (Katib Am Syuriah PBNU) memberikan tausiyah dalam acara ini. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan bahwa tidak ada perbedaan antara masyarakat Indonesia maupun Malaysia dalam hal menjalin ukhuwah. Apalagi masyarakat kita sama-sama Muslim. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk selalu mempererat dan mengokohkan tali persaudaraan meskipun kita berbeda negara.

Lebih mendalam Katib Aam PBNU ini mengupas lebih dalam tentang Dzikir. “Dzikir dibagi menjadi dua bentuk, yaitu dzikir ritual seperti ibadah shalat, mengaji dan puasa. Sementara dzikir yang ke dua adalah dzikir aktual. Dzikir aktual dimaknakan dengan pola hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, perkawanan dan pekerjaan”.

Sementara Kiai Liling Sibromalisi, Rais Syuriyah PCI NU Malaysia, menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Karena beliau menilai bahwa semenjak memiliki status badan hukum yang jelas antusias warga terhadap NU sekarang ini semakin tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang membantu mensukseskan acara ini, dan mulai menanyakan prosedur untuk menjadi anggota organisasi.

“Tidak hanya itu, untuk acara pelantikan dan pengajian akbar yang akan dihadiri oleh KH. Said Aqil Siroj pada 29 Maret 2012 nanti, tiga ranting seperti Balakong, Gombak, dan Kg. Pandan bersedia menjadi penyelenggara. Hal tersebut tentu berpengaruh terhadap psikologis pengurus. Dan menjadi faktor motivasi bagi kepengurusan untuk lebih bersemangat dalam memajukan organisasi NU di Malaysia ini”, tutur Kiai Liling.

Redaktur    : Mukafi Niam
Kontributor: Umar Halim

Drama Mbah Maridjan di Puncak Merapi

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

Berperan tidaknya seorang pemimpin sangat tergantung pada karakter yang melekat pada dirinya, sementara karakter dibangun dalam proses pergumulan panjang yang kadang penuh dengan gejolak dan jatuh bangun serta berbagai suka duka. Semuanya itu membentu menjadi jiwa yang ulet, hati yang teguh dan kemauan yang kuat serta pengabdian yang tak kenal batas. Mbah Maridjan adalah salah satu contoh terakhir yang ditunjukkan kita pada saat ini. Ini sebuah pertunjukan yang sangat tepat dalam sebuah panggung politik nasional yang tidak memiliki karakter, sebab para pemimpinnya tidak memiliki jiwa yang ulet, hati yang tegih serta pengabdian yang mendalam. Semuanya bersifat kontraktual.

Dengan kekuatan spiritualnya Mbah Maridjan telah mampu menjaga keseimbangan antara mikrokosmos, manusia yang tercermin dalam dirinya, dengan makrokosmos yakni Gunung Merapi, selama belasan tahun mengabdi, dan selama itu pula berbagai letusan gunung terjadi, masyarakat selamat dan Mbah Maridjan Juga selamat. Sebagai pengabdian yang tulus, ia bertekad mengandikan dirinya seumur hidup untuk menjaga merapi, apalagi ini juga amanah dari Keraton Yogyakarta. Karena itu sebagai panglima Merapi tidak mungkin ia meninggalkan gelanggang, lari berarti meninggalkan tanggung jawab, pantang bagi seorang brahmana mengabaiakan tiugasnya, karena itu akan dipertahankan hingga denyut nadi penghabisan.

Tetapi sang aktor harus mati dalam episode letusan penghabisan, ini memberikan nilai dramatis dan sekaligus sebagai contoh yang dipentaskan di atas panggung Merapi yang dijaganya sendiri. Di atas panggung itu ia mencontohkan bagaimana seorang pemimpin mesti bertindak, dan bertanggung jawab, mengabdi sepenuhnya tanpa pamrih. Darma kematiannya memberikan pelajaran bagi pemipin kita bagaimana moral dan asketisme hidup mesti diperahankan. Asketisme itu tidak hanya menjaga keseimbangan antara sesama mikro kosmos  atau sesama manusia, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan mikro-kosmos dengan makro-kosmos.

Sebagai seorang spiritualis, Mbah Maridjan adalah seorang Rois Syuriyah Nahdlatul Ulama, dengan demikian dia seorang Kiai. Dengan kekiaiannya itulah dia tunjukkan ketinggian moralnya dan sekaligus kerendahan hatinya. Dia lebih banyak berbuat dan memberi keteladanan dari pada omongan. Dia telah menyatukan antara ilmu dengan laku, karena itu omongan hanya akan mengganggu laku. Laku sendiri sudah merupakan pelajaran yang langsung bisa dicerna oleh para muridnya atau masyarakat yang peka. Dengan kekiaiannya itu pula dia bisa menjalankan tugas secara proporsional bagaimana bisa bertindak tanpa harus melanggar syariat agama, terutama saat melaksanakan ritual di atas sana dalam upaya menjaga keseimbangan hidup.

Kerakusan dan lari dari tanggung jawab merupakan wajah dari kepemimpinan saaat ini, sumber daya akan dikeruk tanpa batas, hutan ditebang tanpa menyisakan akar untuk tumbuh kembali, sehingga mengakibatkan longsor dan banjir yang tidaka mengenal ampun. Alam tidak dijaga dan dipelihara, tetapi dimakan habis untuk memenuhi semangat konsumsi yang tidak ada batas, sehingga masyarakat menjadi masyarakat konsumtif yang mengkonsumsi apa saja, malampaui apa yang sebenarnya dibutuhkan, hanya demi nafsu dan kesenangan, tanpa memperhatikan keterbatasasn alam.

Tidak hanya sumber daya alam yang dihabiskan, kekayaan rakyat yang disimpan dalam kas negara juga diambil tanpa sisa baik secara resmi maupun melalui manipulasi. Sehingga pengambilan itu tidak lagi dikategorikan lagi sebagai korupsi, hukum tidak lagi bisa mendeteksi perilaku seperti itu. Karena itu korupotor selalu lepas dari jerat hukum, karena hukum bisa diakali dan dimanipulasi melalui proses jual beli.  Semuanya terjadi karena para pimpinan haus kekuasaan, haus kekayaan serta haus popularitas, padahal semuanya terjadi dengan biaya yang sangat mahal, tidak mungkin dipenuhi tanpa disertai korupsi.

Semua orang termasuk politisi bicara keras bagaimana melestarikan alam, dan menghadapi cuaca yang berubah, serta berbusa-busa mencari cara untuk memberantas korupsi. Mbah Maridjan tentu tidak pernah bicara persoalan seperti itu, karena itu sama sekali bukan cara untuk menyelesaikan masalah, dan memang masalah tidak berada di situ. Tetapi Mbah Maridjan menjalankan satu sikap dan langkah yang bisa menyelesaikan solusi semua problem itu, yaitu hidup asketik. Dengan asketisme tidak butuh uang lebih lalu korupsi. Dengan asketisme itu pula dia tidak perlu merusak dan menebangi pohon, merusak sungai.  Sebaliknya malah merawat dan melindunginya. Itulah pelajaran yang diberikan oleh Mbah Maridan dalam drama yang dipentaskan di atas Gunung Merapi. (Abdul Mun’im DZ)

(sumber)

Bangkitkan Sejarah Melalui Kirab Resolusi Jihad NU

Cirebon, SGO Online
Barisan Kirab Resolusi Jihad Nahdatul Ulama (NU) memasuki Losari Kabupaten Cirebon Jawa Jawa Barat, Rabu (23/11) sekitar pukul 13.00 WIB. Pasukan kirab yang berangkat dari Surabaya, Jawa Timur, sejak Ahad (20/11) itu disambut Menakertrans, Muhaimin Iskandar, dan Korwil NU Jabar, Helmy Faisal Zaini.

Barisan Pasukan kirab yang berjumlah ratusan orang itu kemudian diarak menggunakan Singa Depok. Arak-arakan itu dimulai dari jembatan Sungai Cisanggarung, yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Tengah-Jawa Barat, hingga panggung acara di terminal Losari yang berjarak sekitar 100 meter.

Pasukan kirab yang menggunakan ratusan motor dan puluhan mobil itu mengarak bendera Merah Putih dan pataka NU. Selanjutnya, benda-benda tersebut diserahkan kepada Helmy Faisal Zaini.

Muhaimin Iskandar, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk membangkitkan sejarah perjuangan para tokoh NU dalam menegakkan kedaulatan NKRI.

Menurut Muhaimin, bangsa Indonesia selama ini hanya mengenal tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Padahal, peristiwa 10 November tidak akan terjadi tanpa adanya peristiwa pada 22 Oktober 1945.

Saat itu, terang Muhaimin, Rais Akbar NU, KH Hasyim Asyari, bersama kiai-kiai besar NU lainnya telah menyerukan jihad fi sabilillah. Seruan itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia mempertahankan NKRI yang baru diproklamasikan.

Namun, kata Muhaimin, resolusi jihad yang diserukan para kyai NU pada 22 Oktober 1945 itu belum diakui secara resmi keberadaannya dalam sejarah Indonesia. Padahal, keberadaan resolusi jihad itu memiliki bukti otentik yang tersimpan di Museum Leiden Belanda. “Hal ini sangat disayangkan,” kata Muhaimin.

Hal senada diungkapkan perwakilan dari tokoh NU Kabupaten Cirebon, KH Lutfi Fuad Hasyim. Dia mengatakan, berdirinya NKRI tak dapat dipisahkan dari perjuangan para kyai dan santri.

Lutfi menyebutkan, salah satu tokoh yang terlibat dalam rapat pada 22 Oktober 1945  adalah KH Abdullah Abas. Tokoh yang berasal dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon itu bahkan dikenal sebagai Singa dari Jawa Barat.

Lutfi menjelaskan, KH Abdullah Abas merupakan ahli strategi perang. Karena itu, kedatangannya ke Surabaya pun disambut gembira masyarakat Surabaya. “Tapi sayang, tokoh-tokoh NU yang berperan pada masa itu tidak masuk dalam sejarah,” kata Lutfi.

Redaktur : Syaifullah Amin (sumber)

Di Balik Pemujaan Wahabi

Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba:

مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطاَعَ اللهَ

“Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”

Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,  supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan Rasul-Nya.”

Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut, para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

Primitif

Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau. Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!

Fakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.

Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan. Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, “Kita berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat turunnya wahyu selama 13 tahun.”

Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan, Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau.

Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan. Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW.  Mereka merobohkan rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah Syekh al-Utsaimin?

Kacamata UsaiminBangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.”

pena terakhir yang dikeramatkanSungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

Haul Wahabi

Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:

وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

“Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:

وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ

“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….! Ibnu KhariQ

Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy edisi 96 Juli 2011/Sya’ban 1432 H

go to website forsansalaf.com

 

Suntik dan Infus Saat Berpuasa

Santri Genggong  >> Syariah >> Suntik dan Infus Saat Berpuasa

Suntik dan infus sama-sama memasukkan cairan ke dalam tubuh dengan alat bantu jarum. Bedanya, suntik berisi cairan obat-obatan, sedangkan infuse biasanya berupa nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Pada galibnya, orang sakit tidak memiliki nafsu makan, atau karena pertimbangan tertentu tidak dibenarkan mengkonsumsi makanan menurut cara normal. Di sini, infus menjadi sebuah solusi.


 

Karena perbedaan zat yang dikandung, suntik dan infus memiliki efek yang tidak sama. Setelah diinfus, tubuh akan terasa relative segar dan tidak lapar, meskipun juga tidak kenyang. Sementara suntik, murni obat untuk menyembuhkan penyakit, bukan menggantikan makanan dan minuman.

Suntik dan infus dengan fungsi yang berbeda, pada hakikatnya saling melengkapi. Penyakit susah disembuhkan jika tubuh kekurangan vitamin dan zat-zat lain yang sangat dibutuhkan. Sementara terpenuhinya kebutuhan gizi, tidak secara otomatis melenyapkan penyakit, tanpa ditunjang obat-obatan.
Definisi puasa yang paling praktis adalah meninggalkan makan/minum dan berhubungan seksual. Pengertian makan dan minum dalam konteks berpuasa, ternyata lebih luas dari sekedar memasukkan makanan dan minuman lewat mulut. Ia mencakup masuknya benda ke dalam rongga tubuh (al-jawf) lewat organ yang berlubang terbuka (manfadz maftuh), yaitu mulut, telinga, dubur, kemaluan, dan hidung.

Melihat ketentuan tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa suntik tidak membatalkan puasa. Sebab proses masuknya obat tidak melalui organ berlubang terbuka, tetapi jarum khusus yang ditancapkan ke dalam tubuh. Lagi pula, suntik tidak menghilangkan lapar dan dahaga sam sekali.

Adapun infuse, menurut Dr. yusuf Qardhawi dalam fatawi mu’ashirah, 324, merupakan penemuan baru, sehingga tidak diketemukan keterangan hukumnya dari hadits, shahabat, tabiin, dan para ulama terdahulu. Oleh karena itu, ulama kontemporer berbeda pendapat, antara membatalkan dan tidak. Dr. Yususf Qardhawi, meskipun cenderung kepada pendapat yang tidak membatalkan, menyarankan agar penggunaan infuse dihindari pada saat berpuasa. Alasannya, meskipun infuse tidak mengenyangkan, tetapi cukup menjadikan tubuh terasa relative segar.

Intinya, infuse dapat dilihat dari dua sisi, proses masuk dan efek yang ditimbulkan. Ditinjau dari sisi pertama, infuse tidak membatalkan puasa, seperti suntik, sebab masuknya cairan tidak melalui ogan tubuh yang berlubang terbuka. Tetapi, melihat fakta bahwa ia berpotensi menyegarkan badan dan menghilangkan lapar serta dahaga, kita patut bertanya: apakah menyatakan infuse tidak membatalkan puasa tidak berlawanan dengan tujuan puasa itu sendiri, yakni merasakan lapar dan dahaga sebagai  wahana latihan mengendalikan nafsu dan menumbuhkan empati kepada kaum mustadhafin.

Untuk menghadapi masalah yang disangsikan hukumnya, cara paling aman adalah meninggalkannya, sebagai diajarkan Rasulullah kaitannya dengan perkara syubhat (tidak jelas halal haramnya). Ini artinya, pendapat infuse membatalkan puasa lebih menerminkan sikap berhati-hati (al-ahwath) dalam beragama. Toh orang sakit mendapat dispensasi tebuka pada bulan puasa.
(sumber: Dialog Dengan Kiai Sahal Mahfudh, Ampel Suci)

 

Forum Dialog antar Agama Maroko Berkunjung ke PBNU

Jakarta, NU Online
Delegasi dari Forum Dialog Antar Agama Maroko melakukan kunjungan ke kantor PBNU, Senin (11/7). Mereka diterima oleh KH Said Aqil Siroj dan sejumlah pengurus lainnya. Mereka yang hadir adalah Prof Dr Ben Abdelkrim Filali Mohammed, Prof Dr Muhammad Kharchafi, Prof Dr Ahmed Ziyadi, dan Prof Dr Maryan Ait Ahmad.

Dalam diskusi berbahasa Arab yang berlangsung secara gayeng tersebut, mereka mengapresiasi NU sebagai organisasi massa terbesar di dunia, dan berharap partisipasinya dalam menyelesaikan konflik. Upaya yang dilakukan NU dalam menjadi model bagi Negara Arab untuk belajar menyelesaikan konflik.

Di negara Arab, upaya-upaya perdamaian yang digagas NU telah dikenal, seperti rombongan ulama Lebanon yang dating ke PBNU untuk bertukar fikiran dengan PBNU untuk masalah konflik di Lebanon. Peran NU terus dibutuhkan untuk memperluas dialog dengan para ulama menyelesaikan permasalahan di dunia Islam.

Para intelektual tersebut juga mengakui peran dan pendekatan Indonesia yang mampu menjaga harmoni masyarakatnya, ditengah-tengah keragaman. Karena itu, di beberapa universitas di Maroko, diajarkan bahasa Indonesia,yang nantinya diharapkan sebagai media komunikasi dalam mempelajari kebudayaan Indonesia dalam menyelesaikan berbagai permasalahannya.

Terkait dengan harlah ke-85 NU, ada tiga orang delegasi yang akan hadir dalam pertemuan ulama sufi sedunia. Diantaranya Prof Dr Ahmed Ziyadi, Dr Rajaa Tounsi dan Prof Dr Maryam Ait Ahmad. Mereka akan merepresentasikan beberapa tarekat sufi yang ada di Maroko

Sementara itu Kiai Said Aqil menuturkan NU telah mendorong terciptanya kerukunan antar umat beragama dengan mendorong diperbanyaknya dialog lintas agama yang diprakarsai oleh NU.

Ia juga berharap terdapat pertukarang pelajar Indonesia dan Maroko, dengan mengirimkan santri untuk belajar di sana atau mengirimkan guru agama dari Maroko untuk berkeliling dan mengajar di sejumlah pesantren NU.

Kemungkinan kerjasama lain adalah penerjemahan buku-buku yang dikarang oleh orang NU ke dalam bahasa Arab, dan juga buku bahasa Arab yang dikarang oleh ulama Maroko dalam bahasa Indonesia.

Penulis: Mukafi Niam

sumber NU.OR.ID

Mengenal NU dan Muhammadiyah

Oleh : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo (Rektor UIN Malang)

Saya mengenal NU dan Muhammadiyah sejak kecil. NU saya kenali dari ibu dan ayah saya sendiri, yang kebetulan cukup lama menjadi pengurus organisasi keagamaan ini. Sedangkan mengenal Muhammadiyah dari beberapa orang termasuk kakak saya yang ikut dalam gerakan organisasi ini. Anak-anak muda di desa saya, secara pelan tertarik pada Muhammadiyah, sekalipun kebanyakan orang tua masih bertahan di organisasi semula, Nahdlatul Ulama’ (NU). Anak muda yang tertarik masuk Muhammadiyah, saya yakin bukan karena argumentasi gerakan ini lebih kukuh dibandingkan yang lain, akan tetapi saya lihat lebih disebabkan oleh citra modern pimpinannya. Pimpinan Muhammadiyah adalah seorang pegawai kecamatan, yang tergolong kaya. Berbekal kekayaannya itu dia berhasil membangun pengaruh di kalangan anak-anak muda itu.

Sebagai anak pimpinan NU di tingkat kecamatan, saya agak sulit meninggalkan idiologi keagamaan orang tua saya. Dalam perasaan saya, ketika masih kecil itu, saya harus menjadi pembela faham keagamaan yang dianut oleh kedua orang tua. Cara itu saya rasakan sebagai bagian dari upaya berbakti kepadanya. Saya menyenangi bergaul dengan anak-anak muda yang telah terlebih dahulu terpengaruh oleh faham Muhammadiyah, akan tetapi semangat berbakti pada orang tua tidak mampu mengalahkan pengaruh itu.

Sebagai anak muda, saya merasa kurang senang dengan kritik-kritik yang biasa dilontarkan oleh orang-orang Muhammadiyah dalam berdakwah. Saya merasakan betul, bahwa kritik itu sesungguhnya ditujukan kepada orang tua saya sendiri. Orang Muhammadiyah dalam berdakwah tidak jarang menyampaikan kritik-kritik yang menyakitkan, misalnya menyebut kelompok tua sebagai orang kolot, kuno dan selalu menjalankan amalan yang berbau syirik, tahayul, bid’ah dan khurafat. Kritik-kritik itu mungkin ada benarnya, akan tetapi jika hal itu didengarkan oleh kelompok tua, diarasakan sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan hati.

Sebaliknya, kritik-kritik itu sangat menyenangkan jika didengar oleh orang-orang yang sudah menjadi Muhammadiyah. Saya ketika itu juga kurang mengerti, mengapa dalam berdakwah melahirkan suasana menang dan kalah, dan bangga jika ceramahnya berhasil menyakiti orang. Jika seorang dalam berdakwah berani mengkritik kelompok lain, akan disorak-sorai sebagai tanda keberanian dan sekaligus kemenangan. Padahal semakin keras kritik yang dilontarkan, sasaran dakwah, yakni kelompok yang belum masuk organisasi itu, semakin antipati dan bahkan membencinya.

Kritik-kritik yang dilontarkan berhasil memperkukuh kohesifvitas internal orga nisasi. Akan tetapi, sebaliknya akan membuat semakin jauh orang-orang yang belum tertarik masuk pada organisasi Muhammadiyah. Kebencian yang ditimbulkan sebagai akibat kritik-kritik itu juga menunai hasil, yaitu berupa citra yang kurang baik bagi Muhammadiyah. Anak-anak Muhammadiyah, di kalangan oang tua dipandang sebagai anak yang kurang menghargai sopan santun atau tata krama dalam pergaulan. Sehingga, jika ada anak muda yang kurang tawadhu’ pada orang tua, segera disebut sebagai telah terpengaruh Muhammadiyah. Citra Muhammadiyah lantas bukan sebagai organisasi pembaharu yang memperjuangkan nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Rasulullah, melainkan justru sebagai kelompok yang kurang memiliki sopan santun kepada orang tua.

Dua jenis organisasi social keagamaan di tempat kelahiran saya sama-sama tumbuh. Jika disebut kelompok NU adalah merupakan kumpulan orang tua, sedangkan sebaliknya Muhammadiyah merupakan kumpulan anak-anak muda, maka pembedaan itu tidaklah mutlak benarnya. Tidak sedikit anak-anak muda yang masih bertahan di organisasi keagamaan sebelumnya, yakni NU dan ada pula orang tua yang berhasil terkena pengaruh Muhammadiyah. Kedua kelompok tersebut memiliki pengaruh yang sama kuat di desa itu.

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah di seputar ibadat, sesungguhnya tidak masuk hal yang bersifat prinsip. Perbedaan itu misalnya, dalam jumlah roka’at dalam sholat tarweh, menggunakan kunut dan tidak, menggunakan usholli dalam mengawali sholat atau tidak, sholat hari raya di masjid atau di lapangan, sholat jum’at menggunakan adzan sekali atau dua kali, pakai kopyah atau tidak dan semacamnya. Di luar peribadatan itu masih ada perbedaan lain, misalnya orang NU suka kenduri sedang orang Muhammadiyah tidak mau mengundang, tetapi masih mau diundang. Kesediaan menghadiri undangan kenduri bagi Muhammadiyah lantas juga melahirkan kritik dari orang-orang NU. Misalnya orang Muhammadiyah mau diberi tetapi tidak mau memberi.

Perbedaan faham keagamaan tersebut menjadikan masyarakat terprakmentasi secara tajam. Akan tetapi, sebagaimana masyarakat desa pada umumnya, masih memiliki lembaga yang mampu menyatukan di antara kelompok-kelompok itu. Misalnya, peristiwa pernikahan, khitanan, kematian, kegiatan desa yang terkait dengan pemerintahan dan sejenisnya. Betapapun tajamnya perbedaan itu tetapi dengan mudah dapat disatukan kembali.

Perbedaan pandangan itu, biasanya dilontarkan dalam bentuk sindiran dan bahkan juga ejekan. Sindiran atau ejekan kepada kelompok lain, jika dimaksudkan sebagai cara dakwah untuk membangun kesadaran orang lain, sesungguhnya justru kontra produktif. Sindiran atau ejekan itu tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kebencian. Dan seseorang yang dibuat benci tidak akan mengikuti pikiran, apalagi jejak langkah orang yang melontarkan kritik dan ejekan itu. Oleh karena itu, saya kira perkembangan dakwah Muhammadiyah yang tidak terlalu berhasil dengan cepat, sebagai salah satu sebabnya, cara dakwahnya dilakukan melalui kritik-kritik itu.

Gambaran tentang NU dan Muhammadiyah seperti itulah yang saya lihat dan rasakan t tatkala saya masih tinggal di desa, semasa remaja. Saya juga belum tertarik dengan Muhammadiyah ketika itu, dan bahkan ada perasaan kurang bersimpatik jika mereka mengkritik ayah saya terlalu tajam. Saya berpandangan ketika itu, jika saja faham keagamaan itu disampaikan dengan pendekatan yang tepat, sehingga tidak melukai hati atau perasaan orang, maka saya berkeyakinan Muhammadiyah akan segera diterima masyarakat lebih cepat dan semakin meluas.

Mengikuti konsep yang akhir-akhir ini dilontarkan oleh beberapa anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang dakwah cultural, mungkin itu lebih tepat dijalankan. Saya berkeyakinan, andaikan Muhammadiyah menggunakan pendekatan kultural, dan tidak melakukan pendekatan menang kalah sebagaimana yang banyak dilakukan pada saat itu, maka faham ini tidak akan menemui resistensi yang cukup kuat. Tokh perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya juga tidaklah terlalu mendasar. Apalagi NU sendiri sesungguhnya sangat toleran terhadap perbedaan itu. Mereka sudah terbiasa dengan pandangan berbagai imam madzhab, sehingga apa yang diintrodusir oleh Muhammadiyah sesungguhnya juga bukan dianggap hal baru. Jika ketika itu kegiatan dakwah dilakukan dengan hati-hati, ——tidak terasakan nuansa menang dan kalah, maka umat Islam tidak akan terpolarisasi sebagaimana yang terjadi sekarang ini, yang ternyata tidak mudah untuk diutuhkan kembali.

Semangat dan gerakan dakwah, menyampaikan risalah rasulullah, sebagaimana telah banyak dilakukan, baik oleh NU maupun Muhammadiyah adalah merupakan misi yang sangat terpuji dan mulia. Akan tetapi, menurut al Qur’an dan juga Hadits Nabi hal itu harus dilakukan dengan penuh hikmah, agar jangan sampai menimbulkan perasaan sakit hati, yang kemudian berujung terjadi perpecahan. Selain itu, apapun dalih yang digunakan, semestinya cara-cara dakwah tidak boleh mengganggu kesatuan dan persatuan umat Islam. Umat Islam harus tetap bersatu. Begitulah pesan al Qur’an maupun tauladan Rasulullah saw. Allahu a’lam

Sumber Artikel website-Rektor-UIN-Malang