Category Archives: Artikel Islam

Orang Tua Rosulullah SAW Pasti di Surga!

Rosulullah

Nabi Rosulullah Saw

Seorang mukmin tak akan mengingkari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nabi yang me­miliki kemuliaan dan derajat yang ter­tinggi, baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya dinyatakan oleh Allah SWT dengan firman-Nya yang artinya, “Dan sesungguhnya Engkau (ya Muham­­mad) benar-benar berada di atas akhlaq yang agung.” (QS Al-Qalam: 4).

Jika yang kecil menyifati sesuatu de­ngan “agung”, yang dewasa belum tentu menganggapnya agung. Tetapi jika Allah, Yang Mahabesar menyifati sesua­tu dengan kata “agung”, tidak dapat ter­bayangkan betapa besar keagungan­nya. Dan sudah tentu, makhluk yang agung tidak mungkin keluar kecuali dari rahim yang agung pula.

Kemuliaan Nabi Muhammad SAW mencakup segala hal, termasuk nasab­nya (keturunannya). Beliaulah manusia yang paling baik nasabnya secara mut­lak. Nasab beliau berada di puncak ke­muliaan. Musuh-musuh beliau pun mem­beri pengakuan atas hal tersebut.

Read the rest of this entry

Iklan

Wasiat KH. Hasyim Asy’ari Untuk Menjaga Aqidah Kita

Al Ghazali menceritakan sebuah kisah, bahwa disebuah perbukitan nan elok, berdirilah sebuah rumah nan indah dan sedap dipandang mata. Disekeliling rumah itu dirimbuni pelbagai pepohonan yang rindang. Halamannya penuh dengan rerumputan dan bunga-bunga yang menebar keharuman. Begitu mempesona dan memberikan rasa nyaman bagi siapapun yg menghuninya, karena dirawat dengan perawatan yang alami.

Di kesenjaan usianya, si empunya rumah tersebut berwasiat kepada anaknya agar seantiasa menjaga dan merawat pohon dan rumput-rumput itu sebaik mungkin. Begitu pentingnya, samapi-sampai  ia berkata “Selama engkau masih bertempat tinggal dirumah ini, jangan sampai pohon dan tanaman ini rusak, apalagi hilang”.

 

Ketika tiba saatnya si empunya rumah meninggal dunia, sang anak menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh mendiang ayahnya dengan sungguh-sungguh. Rumah itu betul-betul  dirawat, demikian pula pohon dan rumputnya. Tidak hanya itu, si anak kemudian berinisiatif untuk mencari jenis tanaman lain yang menurutnya lebih indah dan lebih harum untuk ditanam dihalaman rumah. Maka, rumah itu semakin menggoda untuk dilihat dan dinikmati.

Si anak berbunga bunga hatinya. Dibenaknya terlintas kebanggaan bahwa dirinya telah berhasil menjalankan amanah dengan menjaga pepohonan dan rerumputan yang menjadi penyejuk rumah lebih dari yang diperintahkan oleh orang tuanya. Bahkan akhirnya, tumbuhan baru yang ditanam si anak mengalahkan “rumput asli” baik dari segi keelokan maupun harumnya.

Namun yang patut disayangkan, tanaman dan rumput yang pernah diwasiatkan oleh ayahnya akhirnya ditelantarkan, sebab menurutnya sudah ada rumput dan tanaman lain yang lebih bagus, lebih sejuk dipandang, lebih harum dan sebagainya. Bahkan saat “rumput asli” tersebut rusak, tak ada rasa penyesalan di hati si anak. “Toh sudah ada tanaman dan rumput yg lebih bagus” pikirnya.

Tetapi anehnya, ketika “rumput asli” peninggalan orang tuanya itu rusak dan musnah tak tersisa, bukan kenyamanan dan ketentraman yg didapat. Karena ternyata, rumah tersebut lambat laun menjelma menjadi tempat istirahat yang menakutkan. Betapa tidak, rumah tersebut dimasuki berbagai macam ular, baik besar maupun kecil yang membuat si anak terpaksa harus meninggalkan rumah tersebut.

Mencermati kisah ini, Al Ghazali memaknai wasiat orang tua tersebut dengan dua hal:

Pertama, agar si anak dapat menikmati keharuman rumput yang tumbuh disekitar rumahnya. Dan makna ini dapat ditangkap dengan baik oleh nalar si anak.

Kedua, agar rumah tersebut aman. Sebab aroma rumput dan tanamn tersebut dapat mencegah masuknya ular kedalam rumah yang tentu berpotensi mengancam keselamatan penghuninya. Namun makna ini tidak ditangkap oleh nalar si anak. ( Qodliyyah al Tasawwuf al Munqidz min al Dlolal, 140 ).

Kisah ini sangat relevan jika di analogikan dengan wasiat syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menghindari ajaran beberapa tokoh yg menurut beliau tidak layak untuk dijadikan panutan oleh ummat islam indonesia, karena banyak hal yang bertentangan dengan apa yang diyakini dan diamalkan oleh ummat islam Indonesia yang dibawa oleh wali songo.

Kata Syaikh Hasyim asy’ari, sebagaimana telah maklum bahwa kaum muslimin di indonesia khususnya tanah jawa sejak dahulu kala menganut satu pendapat, satu madzhab dan satu sumber. Dalam fiqih, menganut madzhab Imam Syafi’i, dalam ushuluddin menganut madzhab Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi, dan dalam tasawuf menganut madzhab imam Ghazali dan Al junaidi.

Kemudian pada tahun 1330 H, muncullah berbagai kelompok dan pendapat yang bertentangan serta tokoh yang kontroversial yang berasal dari timur tengah, khusunya dari saudi.

Untunglah masih ada kelompok yang tetap konsisten dengan ajaran ulama salaf dan berpedoman pada kitab kitab mu’tabaroh/representatif, mencintai ahlul bait, para auliya, dan para sholihin, bertabaruk kepada mereka, berziarah kubur, mebacakan talqin untuk mayyit, meyakini adanya syafa’at, bertawasul dll . ( Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah: 9, Risalah Sunnah wal Bid’ah: 19) .

Wasiat Syaikh Hasyim Asy’ari tersebut bisa dimaknai dengan :

  1. Agar kaum muslimin khusunya warga nahdliyyin dalam mengamalkan ajaran islam, selalu berpegang kepada madzhab yang Mu’tabaroh yang telah disepakati oleh para ulama
  2. Menjaga aqidah ummat islam agar tidak terpengaruh atau dimasuki faham yang bertentangan dengan ajaran ulama salaf yang sudah turun temurun diamalkan oleh ummat Islam dunia khususnya Indonesia dan Nahdliyyin.

 

(Dikutip dari Majalah Risalah NU edisi 07)

Karomah Seorang Wanita Sholehah

…dia mengusir singa – singa itu tanpa pedang ataupun senjata...

Mutiara Dunia

Kisah ini adalah kisah nyata,tentang seorang wanita sholihah yang diberikan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Salah seorang sholih telah bercerita,”Suatu saat aku pergi ke Makkah untuk menunaikkan ibadah haji bersama dengan beberapa orang sahabatku dalam satu rombongan. Kami berangkat dengan mengendarai unta dengan menyusuri padang pasir yang kering serta panas. Tiba-tiba datanglah rombongan singa yang sangat besar dan terlihat tampak kelaparan. Kami terpaksa berhenti dan semua orang dalam rombongan kami spontan kalang kabut karena takut pada singa-singa itu.”

Kepala rombonganpun ketakutan dan memanggil petugas keamanan untuk mengusir rombongan binatang buas itu.Namun,petugas malah ketakutan dan spontan kalang kabut karena melihat singa yang kelaparan serta besar badannya.Kepala rombonganpun ahirnya bertanya, “Adakah diantara rombongan kita yang berani mengusir singa-singa itu?”

Belum selesai kepala bicara, tiba-tiba ada seorang anggota rombongan menjawab,”Memang tidak ada seorang lelaki pun diantara rombongan kita yang berani mengusir sekawanan singa itu, tapi aku rasa diantara rombongan kita ini ada seseorang yang mampu mengusir singa-singa itu tanpa pedang atau senjata. Dia adalah seorang wanita yang sholihah dan saat ini bersama kita.”

“Katakan dimana wanita sholihah itu dan siapa namanya..?”, tanya kepala rombongan yang dalam keadaan kebingungan. “ia ada dalam haudaj (tandu) untanya, Ummu Fatimah  namanya.”, jawabnya

Kepala rombongan segera menemui wanita itu di dalam tandunya. Setelah menatap wajahnya, ia tersontak kaget karena wanita tersebut ternyata sudah berusia lanjut dan buta kedua matanya. Kemudian ia meminta sambil berkata kepada wanita itu, “Ibu, kalau tidak keberatan, kami mohon kiranya Ibu sudi turun dari unta ini sebentar saja karena kami butuh pertolongan ibu.”

“Memangnya ada apa?”,tanya ibu Fatimah yang keheranan. “Kami dihadang beberapa ekor singa”, jawab sang kepala. “Lalu kenapa kalian takut pada singa itu, padahal kalian laki-laki?”, tanya ibu itu.

“Ya benar bu, kami takut pada binatang buas itu karena kami tak tahu cara menghalaunya”

“Baiklah kalau begitu. Lalu apa yang kalian inginkan dari diriku yang tua dan cacat ini?”

“Kami yang yakin hanya ibu sajalah yang dapat menghalau dan mengusir singa-singa itu”, tegas ketua rombongan.

“Tapi aku ini seorang wanita, apakah kalian senang jika aku dilihat oleh singa-singa jantan itu?”, mendengar perkataan wanita tersebut ketua rombongan hanya diam dan bungkam seribu bahasa.

“Begini, katakan saja pada singa-singa itu, bahwa ibu Fatimah menyampaikan salamnya, dan dia bersumpah atas nama Dzat yang tidak pernah lalai dan tidur”, kemudian katakan pada kawanan singa itu, “Menyingkirlah jangan menghalangi Ibu Fatimah dan rombongannya untuk berjalan ke tanah suci Mekkah.”

Berkata orang sholih yang ada dalam rombongan itu, “Demi Allah, belum selesai ibu itu mengucapkan kata-katanya, melainkan singa-singa itu menyingkir dan lari ketakutan”

“Tak diragukan, kalau wanita ini adalah seorang hamba Allah yang sholihah yang hanya benar-benar takut kepada Allah, sehingga semua mahluk tunduk dan segan kepadanya”, kata ketua rombongan dengan penuh keheranan.

Banyak wanita yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Orang sholih memiliki hati yang lembut penuh rahmat dan kasih sayang, setiap malam mereka bermunajat kepada Allah memohonkan ampun untuk kita. Dan memaafkan kesalahan orang lain. Mengingat perjalanan hidup kaum sholihin, akan menambah iman dan dapat menenangkan hati yang sedih. Kisah ini didapat dari kitab Jaami’ Karoomatil Awliya’ yang pernah dibacakan dihadapan Al Habib Ali Alhabsy, ulama salaf  Yaman.

(Salam: http://www.cintaallah.org)

problematika ummat : Siapakah Mahram (muhrim) itu?

Suatu hal yang wajar apabila setiap manusia mempunyai keinginan agar semua kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi, termasuk didalamnya kebutuhan biologis (seks). Namun bukan berarti dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan hidup kemudian segala hal ditempuh tanpa memperhatikan aturan-aturan serta hukum yang terdapat dalam agama atau lainnya.Pemenuhan kebutuhan biologis dengan melalui zina bagaimanapun adalah perbuatan yang dilarang dan sangat dikutuk oleh agama,baik dia dilakukan dengan suka sama suka atau dengan pemaksaan (pemerkosaan). Dalam Al-Quran disebutkan dengan jelas:

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلًا

Artinya: ”Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isra’: 32)

Agama islam sebenarnya telah mengatur serta menyediakan jalan untuk menyalurkan hasrat kebutuhan biologis yang aman serta diridhai oleh Allah, yaitu dengan melalui pernikahan.
Pernikahan adalahsebuah akad yang di dalamnya mencakup bolehnya mengambil kenikmatan antara kedua belah pihak menurut syariat.

Lebih dari itu pernikahan merupakan sunnah Rasul. Oleh karenanya ia merupakan salah satu bentuk ibadah apabila dimotivasi oleh sunah Rasul tersebut.
Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi untuk dilakukan pernikahan, di antaranya ada mempelai laki-laki dan perempuanyang bukan mahram, ada akad yang dilakukan sendiri oleh wali atau wakilnya, ada dua orang saksi dan ada mahar (maskawin).

Lantas siapakah perempuan mahram itu? Mahram adalah perempuan yang haram untuk dinikahi dengan beberapa sebab. Keharaman dikategorikan menjadi dua macam, pertama hurmah mu’abbadah (haram selamanya) dan kedua hurmah mu’aqqatah (haram dalam waktu tertentu).

Hurmah mu’abbadah terjadi dengan beberapa sebab yakni, kekerabatan, karena hubungan permantuan (mushaharah) dan susuan. Perempuan yang haram dinikahi karena di sebabkan hubungan kekerabatan ada 7 (tujuh), ibu, anak permpuan, saudara perempuan, anak perempuannya saudara laki-laki (keponakan), anak perempuannya saudara perempuan (keponakan), bibi dari ayah, dan yang terahir bibi dari ibu. Dalam Al-Quran disebutkan:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاَتُكُمْ وَبَنَاتُ اْلأَخِ وَبَنَاتُ اْلأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاَّتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاَّتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاَّتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلاَئِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلاَبِكُمْ

Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan seper susuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua permpuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 23)

Ketentuan ini berlaku bagi laki-laki. Dan bagi perempuan berlaku sebaliknya, yaitu haram bagi mereka menikahi ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki dan seterusnya.
Selanjutnya, perempuanyang haram dinikahi karena disebabkan hubungan permantuan ada 4 (empat) yaitu istri ayah, istri anak laki-laki, ibunya istri (mertua) dan anak perempuannya istri (anak tiri).

Kemudian yang haram dinikahi sebab persusuan ada 7 (tujuh) yaitu, ibu yang menyusui, saudara perempuan susuan, anak perempuan saudara laki-laki susuan, anak perempuan saudara perempuan susuan, bibi susuan (saudarah susuan ayah), saudara susuan ibu dan anak perempuan susuan (yang menyusu pada istri).

Apabila pernikahan dengan perempuan yang menjadi mahram tetap dilakukan maka pernikahannya menjadi batal. Bahkan apabila tetap dilanggar dan dilanjutkan akan bisa mengakibatkan beberapa kemungkinan yang lebih berat.

Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat. Surabaya: Khalista & LTN PBNU

Cara Jin Beragama

Ubudiyah – Cara Jin Beragama

Salah satu diantara nama-nama Allah Swt. Yang berjumlah 99 (Sembilan puluh Sembilan) atau yang dikenal dengan sebutan Al-Asma’ Al-Husna adalah Al-Khaliq, artinya dialah yang menciptakan.
Ciptaan-Nya meliputi segala sesuatu, baik itu berupa hal-hal yang nampak oleh mata seperti manusia, hewan, tumbuhan dan alam seisinya ini, maupun keberadaan yang tidak bisa dilihat oleh mata seperti malaikat, surga, neraka dan lain-lain. Termasuk dari mekhluk-Nya yang tidak terlihat oleh mata adalah jin.Jin adalah makhluk ciptaan Allah Swt. Yang berbeda dengan manusia dari asal ciptaanya. Jin dicptakan oleh Allah Swt. Dari api sedangkan manusia diciptakan dari tanah.
Allah berfirman dalam surat Ar-Rahman ayat 15:

وخلق الجان من مارج من نار

Artinya: “Dan dia telah menciptakan jin dari nyala api” (QS. Ar-Rahman ayat: 15)

Demikian pula dalam surat Al-Mu’minun ayat 12 Allah Swt. Menegaskan:

ولقد خلقنا الانسان من سلالة من طين

Artinya: “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati dari tanah” (QS. Al-Mu’minun:12)

Sebagai salah satu makhluk Allah Swt. yang tidak terlihat, jin memiliki berbagai kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain kemmpuan untuk mengubah wujudnya menjadi berbagai macam bentuk menyerupai manusia dan binatang seperti ular, keledai, unta, sapi dan lain-lain. Hal itu seperti sebuah kisah yang dialami oleh sayyidah Aisyah bahwa beliau melihat seekor ular dalam rumahnya. Kemudin beliau memerintakan untuk membunuh ular tersebut. Akhirnya ular itu pun terbunuh, dan tak lama kemudian beliau diberi tahu bahwa:

إنها من النفر الذين استمعوا الوحي من النبي

(ular tersebut adalah termasuk dari golongan yang pernah mendengarkan wahyu dari nabi (golongan jin).

Setelah mengerti akan hal itu beliaupun mengutus seseorang untuk pergi ke Yaman untuk membeli 40 (empat puluh) budak guna memerdekakan.
Juga ada jin yang mampu memindahkan sesuatu dalam waktu yang singkat. Hal itu seperi yang diceritakan dalam Al-Quran pada masa Nabi Sulaiman bahwa Ifrit yang termasuk salah satu jin sanggup untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempt duduknya.

Meskipun jin itu berbeda dalam hal asal penciptaanya, tetapi dia juga mkhluk Allah Swt. Yang tujuan dari penciptaannya sama dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu tidak lain supaya beribdah kepada Allah. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt.dalam surat Adz-Dzariyat, 56:

وماخلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Artinya: “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Oleh karna itu seperti manusia, jin juga mukallaf (dibebani) untuk menjalankan perintah Allah dan menjahui segala yang dilarang-Nya.
Dalam hal ini mereka juga mendapatkan pahala apabila melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Allah Swt. Dan akan disiksa apabila melanggar aturan yang di gariskan.

Jadi, karena mereka semua mukallaf seperti manusia, Allah Swt. Juga mengutus kepada mereka utusan yang akan menyampaikan wahyu.
Para ulama mempunyai pedapat yang sama bahwa risalah nabi kita Muahammad Saw. Tidak hanya terbatas pada manusia saja, melainkan juga mencakup jin, bahkan ada yang mengatakan sampai kepada semua makhluk hidup.

Dalam Al-Quran surat A-Jin di jelaskan
Artinya: “katakanlah telah diwahyukan kepadaku (Nabi Muhammad) bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Quran menakjubkan(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan tuhan kami” (QS. Al-Jin: 1-2)

Dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair juga disebutkan:

والنبي صلى الله عليه وسلم مرسل اليهم

Artinya: “Bahwasanya nabi Muhammad diutus kepada mereka (bangsa jin)

Jadi, diantara mereka  (bangsa jin) juga ada yang melakukan shalat dan syariat-syariat  lain yang telah dibawa Nabi Muhammad Saw.
Kesimpulan akhirnya bahwa jin yang beriman kepada Allah Swt. Sebagai Tuhannya  dan Muhammad Saw. sebagai utusan-Nya yang terakhir sekaligus menyempurnakan risalah-risalah utusan sebelumnya akan berpegang pada Al-Quran dan hadis sebagai pedoman hidup.

Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat. Surabaya: Khalista & LTN PBNU(sumber)

Enam Rahasia Allah – Imam Nawawi AlBantany

Imam Nawawi AlBantany pengarang kitab Nashoihul Ibad menuliskan di dalam bukunya, ada enam rahasia Allah atas rahasia lainnya :

1. Allah merahasiakan ridho-Nya atas taat seorang hamba

Maksudnya ialah Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk senantiasa taat kepada Allah, sekecil apapun taat yang dilakukan oleh seorang Hamba pastilah akan diberi ganjaran oleh Allah SWT,  Allah merahasiakan ridho-Nya dalam ketaatan yang dilakukan oleh seorang hamba, agar hamba itu mau berusaha menambah ketakwaan kepada Allah meskipun pada hal yang sederhana, kita tidak pernah tahu kapan Allah memberikan ridho-Nya, bisa boleh jadi pada hal-hal yang kita anggap kecil dan sederhana.

2. Allah merahasiakan murka atas maksiat seorang Hamba

Ketika umat Nabi Musa melakukan kemaksiatan, maka saat itu juga balasan Allah baik berupa siksa maupun azab akan ditimpakan langsung, begitu juga umat nabi-nabi lainnya, tapi beruntunglah kita yang menjadi umat Nabi Muhammad SAW, karena setiap hari kita berbuat maksiat, melanggar perintah dan mengerjakan larangan Allah, namun Allah tidak langsung menimpakan azab dan musibah kepada kita. Mengapa Allah merahasiakan murka-Nya atas maksiat yang kita kerjakan, ini berarti ketika hidup kita harus selalu berhati-hati dan selalu waspada, jangan-jangan Allah SWT murka manakala hari ini kita berbuat bohong, jangan-jangan Allah murka manakala kita melanggar rambu lalu lintas, menyebrang di sembarang tempat, sholat tidak tepat waktu, tanpa sengaja tergelincir dalam membicarakan orang lain, lupa membaca basmalah sebelum melakukan aktifitas, hal inilah sepantasnya kita harus tanamkan, ketika kita sudah mampu berhati-hati dan waspada takut-takut kalau Allah murka atas sikap dan perilaku kita, maka sesungguhnya kita telah menjadi mukmin yang sejati.

3. Allah merahasiakan malam Lailatul Qadar di dalam bulan ramadhan

Ramadhan adalah bulan yang menyimpan seribu hikmah dan pahala, apapun yang kita kerjakan di bulan suci ini kalau kita niatkan semata-mata  untuk mencari keridhoan Allah maka akan dilipatgandakan pahalanya. Pada sepuluh malam terkahir di Bulan Ramadhan kita ketahui bersama bahwa Allah akan menurunkan malam Lailatul Qadar. Kenapa sih Allah harus merahasiakannya??? Tentu jawabannya agar kita mau bersungguh mencari dan mendapati malam Lalilatul Qadar dengan penuh semangat.

4. Allah merahasiakan Wali-Nya diantara manusia

Hikmahnya agar kita tidak mudah meremehkan dan menyepelekan orang yang ada di sekitar kita, boleh jadi orang yang selama ini kita anggap biasa saja, bahkan mungkin dia bukan dari golongan orang kaya ataupun keturunan terpandang, tetapi karena amalan ibdahnya yang begitu ikhlas dan tulus dikerjakan ternyata dia adalah seorang kekasih Allah (Wali Allah), maka kita tidak pernah diberi tahu siapa saja yang menjadi kekasih Allah di muka bumi ini selain Para Nabi dan Rasul Allah yang telah terpilih.

5. Allah merahasiakan maut di dalam umur

Adakah makhluk di muka bumi ini yang tahu kapan dia akan meninggal??? Jawabannnya sudah pasti tidak ada yang tahu. Bahkan rasululullah saja tidak diberitahu pada usia dan dimana dia akan dijemput oleh malakal maut. Oleh karena itu kita yang masih diberikan umur panjang oleh Allah hendaklah menjadikan maut itu sebagai nasehat yang sangat berarti, kapan maut itu akan datang kita tidak pernah tahu, apakah hari ini, esok, lusa minggu depan, bulan depan ataukah tahun depan, Hanya lah Allah yang maha tahu.

6. Allah merahasiakan Shalat yang utama diantara sholat-sholat wajib

Ternyata di setiap hari yang kita lalui ada sholat utama yang diberikan oleh Allah kepada semua hamba-Nya, tugas kita adalah mencari waktu-waktu utama itu dengan bersungguh-sungguh mengerjakan sholat lima waktu.

sumber artikel

 

Tanya Jawab Seputar Kedudukan Rosulullah SAW , Dengan Mufti Mesir

Syaikh Dr. Ali Jum’ah al-Syafi’i  ” Tanya Jawab Seputar Kedudukan Rosulullah SAW”

Dr. Ali Jum'ah al-Syafi'iDr. Ali Jum’ah al-Syafi’i adalah Mufti resmi Republik Arab Mesir. Beliau bermazhab Syafi’i dalam fikih dan menganut faham Asy’ariyah dalam akidah. Beliau juga mengajar ushul fiqh di universitas al-Azhar dan masih rutin memberikan pengajian fikih dan tasawuf di berbagai masjid dan majelis ta’lim. Di bawah ini beberapa tanya jawab umat bersama Dr. Ali Jum’ah seputar kedudukan Rasulullah Saw. Diterjemah secara singkat dari buku “al-Bayan Lima Yusyghil al-Adzhan” cetakan al-Muqattham Kairo Mesir.

Apakah Saidina Muhammad Saw. adalah ciptaan Allah yang paling mulia nasabnya? Apa dalilnya?
Saidina Muhammad Saw. adalah manusia teragung sebagaimana sabdanya “Aku adalah penghulu seluruh manusia, dan akupun tidak bangga“. Bahkan beliau adalah ciptaan Tuhan yang paling agung. Beliau lebih mulia dari Arsyi. Dari itu, tidaklah layak jika dimuliakan seseorang (meskipun seorang nabi) atau makhluk apapun di atas kemuliaan beliau dalam hal apapun.
Garis keturunan yang mulia adalah keutamaan terpenting yang dimiliki beliau. Allah Swt. telah memuji garis keturunan beliau dalam ayat “Dan perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud“. Saidina Ibnu Abbas Ra. menafsirkan ayat tersebut dengan perkataannya: “Dan perpindahan beliau dari (tulang rusuk) nabi ke nabi, dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, sampai akhirnya lahir menjadi seorang nabi terunggul”. Maka Rasulullah Saw. adalah nabi tersuci nasabnya secara mutlak.
Dalam sebuah hadits dikatakan: “Allah telah memilih Nabi Isma’il dari keturunan Nabi Ibrahim, lalu Allah memilih Bani Kinanah dari Keturunan Nabi Isma’il, kemudian Allah memilih Quraish dari keturunan Bani Kinanah, lalu Allah memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraish, dan akhirnya Allah memilihku dari keturunan Bani Hasyim“.
Apakah benar Allah Swt. menciptakan semua ciptaan-Nya karena / demi Rasulullah Saw.?
Ungkapan-ungkapan seperti itu harus difahami dengan benar dan jangan semudahnya menuduh kafir, fasiq, sesat dan bid’ah. Ini kaidah yang harus dipegang oleh umat Islam ketika mendengar ungkapan apapun dari saudara-saudara mereka yang seagama. Contohnya, seseorang beragama kristen ketika mengungkap bahwa Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati, maka jangan cepat menuduh syirik kepada orang muslim yang senada dengan orang kristen tersebut, sebab orang kristen meyakini bahwa Nabi Isa memiliki kekuatan yang tulen tanpa sumber, sementara orang muslim meyakini bahwa kekuatan itu murni dari Allah dan berlandaskan restu Allah Swt.
Keyakinan sebagian umat Islam bahwa penciptaan Allah Swt. terjadi hanya karena / demi Rasulullah Saw. sama sekali tidak mengandung nilai syirik. Dimanakah letak kekufuran itu apabila seseorang meyakini bahwa Allah menciptakan suatu ciptaan karena seseorang? Keyakinan tersebut sama sekali tidak kontra dengan Islam, prinsip-prinsip akidah maupun dasar-dasar tauhid. Keyakinan tersebut sungguh benar apabila difahami dengan benar pula.
Allah berfirman: “Sungguh Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu“. Nah, pengabdian tersebut tak dapat direalisasikan kecuali melalui Rasulullah Saw. Maka Rasulullah merupakan satu-satunya rujukan bagi umat manusia.
Apakah Rasulullah adalah cahaya? ataukah manusia seperti kita?
Rasulullah adalah cahaya, itu benar. Karena Allah berfirman: “Wahai ahli kitab, telah datang kepadamu cahaya dan kitab yang menerangkan“. Allah juga berfirman: “Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izinNya dan untuk jadi cahaya yang menerangi“. Jadi, tidak salah bila meyakini beliau sebagai cahaya selama Allah sendiri yang menyatakannya. Dalam banyak hadits juga akan ditemukan para sahabat mengatakan bahwa wajah Rasulullah seperti bulan, dan kecahayaan tersebut bersifat fisikis dan bukan sekedar pujian gombal saja dari para sahabat.
Namun, di waktu yang sama, kita tidak boleh menafikan kemanusiaan Rasulullah Saw. karena Allah juga berfirman “Katakanlah: Aku manusia seperti kalian, akan tetapi aku diwahyukan“. Mari kita yakini saja beliau sebagai cahaya berbentuk manusia, tanpa harus melakukan penelitian secara detail. Sungguh, Rasulullah Saw. lebih terang dari bulan dan lebih mulia dari semua ciptaan.
Apakah Rasulullah Saw. adalah awal ciptaan Allah Swt.?
Meskipun hadits yang menyatakan hal tersebut tidak shahih atau maudhu’, namun substansinya bisa saja benar, sebab alam-alam Allah begitu banyak seperti alam ghaib, alam roh, alam jin, alam mala’ikat, alam malakut, alam mulk, alam syahadah, dll. Disana terdapat cahaya-cahaya ciptaan Allah. Mungkin-mungkin saja Rasulullah Saw. adalah cahaya Allah yang pertama kali diciptakan sebagai penguat umat manusia di alam roh.
Apa urgensi cinta Ahlul-Bait? Dan apa batasan-batasannya?
Allah Swt. berfirman: “Katakanlah hai Muhammad: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluargaku“. Dalam banyak hadits, Rasulullah Saw. telah memerintahkan dan mewasiatkan kita untuk mencintai dan berpegang teguh kepada Ahlul-Bait, sebagai tanda cinta kepada Allah dan RasulNya. Selama akidah kita tetap benar maka tidak ada batasan dalam mencintai dan mengekspresikan cinta kita kepada Ahlul-Bait. Kita semua yakin bahwa tiada tuhan selain Allah dan Saidina Muhammad adalah utusan Allah. Semua nabi adalah ma’shum, sementara Ahlul-Bait dan para wali adalah mahfuz.
Apa hukum merayakan / mempringati maulid Nabi?
Perayaan / peringatan maulid Rasulullah Saw. adalah sebaik-baik perbuatan dan semulia-mulia pendekatan kepada Allah Swt. karena merupakan ekspresi cinta kepada Rasulullah Saw. dimana cinta Rasul adalah pokok utama sebuah keimanan.
Sudah banyak ulama’ dan fuqaha’ yang menulis tentang dianjurkannya perayaan maulid dengan mencantumkan argumen-argumen yang kuat semisal Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Syamsuddin al-Dimasyqi, Imam Ibnul-Jauzi, Imam al-Bushairi, dll.
Apakah kedua orangtua Rasul adalah musyrik dan di neraka?
Tidak, karena mereka adalah ahli fatrah yang belum didatangi seorang rasul. Juga karena Rasulullah adalah manusia suci yang lahir dari orang-orang suci. Adapun hadits-hadits yang secara tekstual dan kasat mata menyatakan bahwa kedua orangtua Rasul di neraka, harus difahami dengan benar. Contohnya, hadits yang menjelaskan bahwa Allah tidak mengizinkan Rasulullah beristighfar untuk ibunya, tidaklah selalu bermakna ibunya syirik dan di neraka, sebab Allah masih mengizinkan Rasulullah untuk menziarahi kuburan ibnunya, sementara kuburan orang-orang musyrik tidak boleh diziarahi.
Apakah boleh bertawassul dengan Rasulullah Saw. dalam do’a selepas beliau wafat?
Mazhab empat sudah ijma’ bahwa tawassul dengan Rasul hukumnya ja’iz bahkan mustahab, baik sewaktu beliau masih di dunia maupun setelah meninggal dunia.
Apakah Rasulullah Saw. masih hidup dalam kuburnya? Dan apa pengaruh kehidupan itu bagi kita yang masih di dunia?
Meskipun beliau telah meninggal dunia, namun hubungan beliau dengan kita belum terputus dan beliau masih punya kehidupan lain di alam yang berbeda. Rasulullah Saw. bersabda: “Kehidupanku penting bagimu dan kematianku juga penting bagimu, sebab perbuatanmu akan dilaporkan kepadaku, jika perbuatanmu baik maka aku bersyukur, dan jika buruk maka untukmu aku beristighfar“.
Dalam hadits lain: “Para nabi masih hidup dalam kubur-kubur mereka dan masih melakukan sembahyang“. Dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad-jasad para nabi“. Jadi, Rasulullah dalam maqam beliau di Madinah, masih hidup dengan jasad dan rohnya sekalian, dan masih beribadah serta memberi syafaat dan beristighfar untuk umat. Hal ini tanpa menafikan bahwa beliau telah meninggal dunia.(sumber)

Di Balik Pemujaan Wahabi

Islam sama sekali tak bisa dilepaskan dari sosok Baginda Nabi SAW. Beliau adalah insan yang menerima wahyu dari Allah SWT untuk memberikan pencerahan kepada umat manusia dengan agama yang sempurna ini. Tiada sosok yang patut diagungkan di muka bumi melebihi Baginda Nabi SAW. Segenap keindahan fisik dan budi pekerti terdapat dalam figur Baginda Rasulullah SAW. Mencintai Baginda Nabi SAW adalah bagian dari mencintai Allah SWT. Beliau bersaba:

مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللهَ وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطاَعَ اللهَ

“Barangsiapa mencintaiku, maka ia benar-benar telah mencintai Allah SWT. Barangsiapa menaatiku, maka ia benar-benar telah taat kepada Allah SWT.”

Cinta haruslah disertai dengan penghormatan dan pengagungan. Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan manusia agar mengagungkan sosok Baginda Nabi SAW. Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (8) لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ

“Sesungguhnya kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,  supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya dan mengagungkan Rasul-Nya.”

Cinta para sahabat kepada Baginda Rasul SAW adalah cinta yang patut diteladani. Dalam hadits-hadits disebutkan bagaimana para sahabat saling berebut bekas air wudhu Baginda Nabi SAW. Meski hanya tetesan air, namun air itu telah menyentuh jasad makhluk yang paling dekat dengan Sang Pencipta. Karena itulah mereka begitu memuliakannya dan mengharap berkah yang terpendam di dalamnya. Ketika Baginda Nabi SAW mencukur rambut, para sahabat senantiasa mengerumuni beliau. Mereka ingin mendapatkan potongan rambut beliau meski sehelai. Dengan rambut itu mereka hendak mengenang dan mengharap berkah Nabi SAW. Demikianlah rasa cinta para sahabat kepada Baginda Nabi SAW.

Primitif

Apa yang berlaku saat ini di Bumi Haramain adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan kaidah cinta. Di sana orang-orang Wahabi mengaku mencintai Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sama sekali tidak menghormati beliau SAW. Mereka bahkan melecehkan beliau dan melakukan perbuatan yang teramat tidak pantas kepada sosok sebesar beliau. Bayangkan saja, rumah yang ditempati beliau selama 28 tahun, yang semestinya dimuliakan, mereka ratakan dengan tanah kemudian mereka bangun di atasnya toilet umum. Sungguh keterlaluan!

Fakta ini belakangan terkuak lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Adalah Dr. Sami bin Muhsin Angawi, seorang ahli purbakala, yang mengungkapkan fakta itu. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi SAW. Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak yang berwenang.

Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang mengantongi gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan. Ketika ditanya oleh pewawancara mengenai bangunan apa yang didirikan di atas lahan bersejarah itu, Sami Angawi terdiam dan tak mampu berkata-kata. Si pewawancara terus mendesaknya hingga akhirnya ia mengakui bahwa bangunan yang didirikan kelompok Wahabi di atas bekas rumah Baginda Nabi SAW adalah WC umum. Sami Angawi merasakan penyesalan yang sangat mendalam lantaran penelitiannya selama bertahun-tahun berakhir sia-sia. Ia kemudian mengungkapkan harapannya, “Kita berharap toilet itu segera dirobohkan dan dibangun kembali gedung yang layak. Seandainya ada tempat yang lebih utama berkahnya, tentu Allah SWT takkan menjadikan rumah itu sebagai tempat tinggal Rasul SAW dan tempat turunnya wahyu selama 13 tahun.”

Ulah jahil Wahabi itu tentu saja mengusik perasaan seluruh kaum muslimin. Situs rumah Baginda Nabi SAW adalah cagar budaya milik umat Islam di seluruh penjuru dunia. Mereka sama sekali tidak berhak untuk mengusik tempat terhormat itu. Ulah mereka ini kian mengukuhkan diri mereka sebagai kelompok primitif yang tak pandai menghargai nilai-nilai kebudayaan. Sebelum itu mereka telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah, tempat Syajarah ar-Ridhwan, Masjid Salman Alfarisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002 lalu, mereka meluluhkan masjid cucu Nabi, Imam Ali Uraidhi menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau.

Selama ini kelompok Wahabi berdalih bahwa penghancuran tempat-tempat bersejarah itu ditempuh demi menjaga kemurnian Islam. Mereka sekadar mengantisipasi agar tempat-tempat itu tidak dijadikan sebagai ajang pengkultusan dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemusyrikan. Akan tetapi dalih mereka agaknya kurang masuk akal, sebab nyatanya mereka berupaya mengabadikan sosok Syekh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Mereka mendirikan sebuah bangunan yang besar dan mentereng untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Syekh al-Utsaimin. Bandingkan perlakuan ini dengan perlakuan mereka kepada Baginda Nabi SAW.  Mereka merobohkan rumah Baginda Nabi SAW dan menjadikan tempat yang berkah itu sebagai WC umum, kemudian membangun gedung megah untuk Al-Utsaimin. Siapakah sebetulnya yang lebih mulia bagi mereka? Baginda Rasulullah SAW ataukah Syekh al-Utsaimin?

Kacamata UsaiminBangunan berdesain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syeikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.” Di dalamnya terdapat benda-benda peninggalan Syekh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syekh al-Utsaimin.”

pena terakhir yang dikeramatkanSungguh ironis, mengingat mereka begitu getol memberangus semua peninggalan Baginda Nabi SAW. Ulama mereka bahkan mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi SAW. Beruntung, sebagian benda peninggalan beliau telah dipindahkan ke Turki.

Haul Wahabi

Wahabi melarang keras pengkultusan terhadap diri Baginda Nabi SAW, akan tetapi mereka sendiri melakukan pengkultusan terhadap diri Syekh al-Utsaimin. Mereka membid’ahkan peringatan haul seorang ulama atau wali, akan tetapi belakangan mereka juga menghelat semacam haul untuk Syekh al-Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim.” Betapa ganjilnya sikap kelompok Wahabi ini.

‘Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 lalu di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Rangkaian acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan Ketua yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi, yang memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhammad bin Abdul Aziz Al-Aqil. Yang disebutkan belakangan ini banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin,” ujarnya.

Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Begitu pentingnya perayaan untuk Utsaimin ini sampai-sampai seorang pengagumnya menggubah sebuah syair:

وَاللهِ لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ # مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَحَقَّهُ

“Demi Allah, Seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syeikh Utsaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

Syair itu menunjukkan pengkultusan orang-orang Wahabi terhadap Syekh Utsaimin. Pengagungan yang kebablasan juga mereka berikan kepada pendiri aliran Wahabi, Muhammad bin Abdul Wahab. Seorang Mahasiswa Universitas Riyadh pernah memprotes dosennya, Dr. Abdul Adhim al-Syanawi, karena memuji Rasulullah SAW. Sang dosen menanyakan apa penyebab si mahasiswa membenci Nabi SAW? Mahasiswa itu menjawab bahwa yang memulai perang kebencian adalah Baginda Nabi sendiri (sambil menyitir hadits seputar fitnah yg muncul dari Najed, tempat kelahiran Muhamad bin Abdul Wahab). “Kalau begitu, siapa yang kamu cintai?” tanya sang dosen. Lalu si mahasiswa menjawab bahwa yang dicintainya adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Selanjutnya sang dosen menanyakan alasan kecintaan mahasiswanya itu. “Karena Syekh Muhammad Abdul Wahab menghidupkan sunnah dan menghancurkan bid’ah,” Jawab mahasiswa itu. (kisah ini dicatat Ibrahim Abd al-Wahid al-Sayyid,dalam kitabnya, Kasf al-Litsam ‘an Fikr al-Li’am hlm.3-4.)

Sungguh benar Baginda Nabi SAW. yang dalam salah satu hadits beliau mengisyaratkan bahwa akan ada fitnah (Wahabi) yang bakal muncul dari Najed. Isyarat itu menjadi nyata semenjak munculnya Muhammad bin Abdul Wahab dari Najed yang dengan bantuan kolonial Inggris mencabik-cabik syariat Islam.

Syekh Utsaimin adalah salah satu penerus Muhammad bin Abdul Wahab. Ia juga gencar menyebarkan fitnah lewat tulisan-tulisannya. Salah satu fitnah itu seperti tertera di dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyyah hal 161. Di situ ia menulis:

وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ

“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Agaknya kalimat inilah yang membuat penganut Wahabi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulullah SAW….! Ibnu KhariQ

Sumber :
Majalah Cahaya Nabawiy edisi 96 Juli 2011/Sya’ban 1432 H

go to website forsansalaf.com

 

Tumpas Rasa Malas

Seandainya”, kalimat ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak, sebagian besar orang boleh jadi biasa mengucapkannya, “Seandainya aku melakukan ini, tentunya begini dan begini, tidak justru begini.” Ungkapan ini berkonotasi sebagai angan-angan semu dan sesuatu yang tidak akan terjadi.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat tidak menyukai umatnya mengumbar kata-kata “seandainya”. Beliau mewanti-wantikan kepada mereka bahwa kalimat “lau” (seandainya) adalah tipu daya setan. Orang yang selalu mengumbar kata ini adalah pemalas yang hanya bisa berhasrat tapi tak bersemangat.

Jika kita sudah benar-benar dijangkiti rasa malas, maka cepat-cepatlah berusaha melawan dan membuangnya jauh-jauh. Malas adalah sifat buruk yang wajib dihindari oleh semua muslim. Malas adalah ciri-ciri orang munafik. Firman Allah dalam al-Qur’an (artinya):

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142)

Jika kita mulai kedatangan tamu yang bernama ‘malas’ dan kita ingin mengusirnya, berikut ini beberapa tips yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

1) Perbanyak Doa

Doa adalah senjata orang mukmin, begitulah Nabi menegaskan. Ibnu Qayyim dalam karyanya al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa’ala ‘anid-Dawâ’ asy-Syâfi, menjelaskan bahwa obat mujarab untuk menyembuhkan jiwa orang mukmin yang sudah terjangkiti berbagai penyakit adalah berdoa dan bersungguh-sungguh dalam doa. Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menanggulangi rasa malas adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ والْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رواه أبو داود

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesusahan, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan sifat malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut, dan aku berlindung pada-Mu dari hutang yang tak mampu ditanggung serta kesewenangan orang yang tak mampu dilawan.” (HR Abu Dawud)

 

2) Lawanlah Setan dan Nafsu

Malas sebenarnya berasal dari setan. Setan akan terus berusaha mengusik dan membujuk nafsu manusia untuk malas, baik dalam menunaikan ibadah maupun dalam aktivitas yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

“Setan mengikatkan tiga ikatan di belakang kepala salah seorang dari kalian ketika tidur. Pada setiap ikatan setan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah.” Apabila salah seorang dari kalian terjaga dari tidur, lalu menyebut nama Allah, maka akan terlerai satu ikatan. Jika ia mengambil wudu, maka terlerai satu ikatan lagi. Dan jika ia salat, maka terlerailah semua ikatan. Jika demikian, maka ia akan bangun di waktu pagi dalam keadaan rajin serta lapang hatinya. Jika ia tidak (melakukannya), maka ia bangun pagi dalam keadaan buruk jiwanya dan diliputi rasa malas.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibn Hibban, dan lainnya)

Hadis ini menunjukkan bahwa malas berasal dari setan dan kita harus berusaha terus melawannya dengan tidak menuruti apapun yang dibisikkan olehnya. Jika setan sudah bisa dikalahkan, maka malaspun akan hilang.

 

3) Menimba Ilmu

Timbalah ilmu sebanyak mungkin. Dengan ilmulah seseorang akan menjadi orang yang rajin dan cekatan dalam hidupnya. Mengapa ilmu? Apa hubungan antara ilmu dengan rajin? Gambaran sederhananya begini: ketika seseorang sudah mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadilah dan keutamaan ibadah tertentu, maka pastinya akan menyebabkan ia rajin melakukan ibadah tersebut. Hal itu apabila dia memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari. Orang yang memiliki ilmu mengenai keutamaan salat jamaah, ia akan terdorong untuk rajin mengerjakan salat jamaah. Begitupun ketika seseorang tahu bahwa malas berasal dari setan dan merupakan sifat orang munafik, dia akan memiliki dorongan untuk mengusirnya.

Sejalan dengan hal tersebut, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isyak dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan datang untuk salat walaupun harus merangkak.” (HR an-Nasa’i, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi)

Sabda tersebut menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan mengenai hakikat sesuatu. Ilmu menyebabkan semangat dan sikap seseorang terhadap sebuah amal berubah 180 derajat. Ilmu akan menuntun seseorang untuk rajin dan cekatan dalam mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

sumber artikel klik disini

Mencermati Gerakan Liberalisasi Islam di Pesantren

SEKITAR sebelas tahun yang lalu, pada bulan Jumadal Ula tahun 1421 H., buletin Istinbat pada edisinya yang ke-12, menurunkan kajian utama bertajuk “Ijtihad Gadungan, Memusuhi Islam”. Topik utama tersebut diturunkan sebagai respons balik terhadap sanggahan yang dimunculkan oleh buletin Memorandum terbitan salah satu pesantren di Situbondo, yang menggugat rumusan hukum waris yang diluncurkan buletin Istinbat sebelumnya, pada edisi ke-5, Rabiul Awal 1421 H.

Alkisah, buletin Istinbat edisi 5 pada rubrik Fatawa megangkat tema seputar fenomena pembagian harta warisan dengan dasar rela sama rela (‘an tarâdhin). Berdasarkan dalil-dalil kuat yang telah dihimpun redaksi, serta dengan merujuk pada hasil keputusan bahtsul-masail yang diselenggarakan di sejumlah pesantren, maka dirumuskan bahwa praktik membagi harta warisan dengan dasar rela sama rela, tanpa mengikuti aturan sebagaimana ditetapkan dalam al-Qur’an, adalah bid’ah dhalâlah (tercela) dan hukumnya haram. Hal demikian karena praktik tersebut telah menyalahi aturan hukum Islam (syara’) yang ditetapkan dengan dalil yang qath‘î (definitif) dari al-Qur’an dan Hadis.

Namun kemudian, selanjutnya rumusan hukum tersebut digugat oleh buletin Memorandum. Dalam hal ini mereka menurunkan sanggahan itu dalam tulisan berjudul “Konsep Fiqh Mawarits tidak Adil?” Dalam tulisan ini, buletin tersebut dengan tegas menyimpulkan bahwa pembagian harta warisan tidak harus mengikuti aturan dalam pembagian warisan sebagaimana ditetapkan dalam al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi boleh mengikuti model pembagian warisan yang telah mentradisi di masyarakat, yakni 1:1 bagi laki-laki dan perempuan. Agaknya, buletin Istinbat menilai sanggahan itu sebagai hal yang teramat serius, sehingga pada edisi 13, Istinbat kembali mengangkat tema ini dengan topik utama “Hukum Waris, Tradisi atau Qur’ani?”.

Apakah yang hendak penulis kemukakan dengan mengungkapkan ulang fakta tersebut? Bahwa tampak jelas di hadapan kita, jika ternyata fenomena pemahaman Islam yang ter-liberal-kan agaknya sudah menjangkiti sejumlah pesantren, bahkan sebelum model pemikiran itu menjadi demikian populer di Indonesia dengan di-launching-nya Jaringan Islam Liberal (JIL) pada bulan Maret 2001, dan menjadi sangat heboh ketika Ulil Abshar Abdalla, koordinator jaringan ini pada saat itu, memunculkan tulisan kontroversial di harian Kompas di bawah tajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Sekilas, corak pemikiran liberalisme yang mewarnai pesantren–sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang paling konsisten memegangi ajaran dan tradisinya–tampak sebagai fakta yang agak aneh–dan mungkin membuat sebagian kita terbelalak. Namun belakangan, para peneliti yang concern di bidang ini mengungkapkan suatu fakta, bahwa ternyata upaya liberalisasi Islam di Indonesia bukanlah ide yang digagas baru kemarin sore dan dilontarkan secara sporadis. Liberalisasi Islam di Indonesia adalah upaya serius yang digagas sejak lama, bahkan sejak periode penjajahan di negeri ini, dengan grand design yang matang, direncanakan secara sistematis, plus pendanaan yang sangat memadai.

Memang, di negara-negara Barat yang sangat berambisi menghegemoni negara-negara dunia ketiga dalam berbagai aspeknya, upaya liberalisasi Islam adalah bagian dari proyek yang amat ambisius dan ditangani secara serius. Dalam hal ini, mereka membangun pusat-pusat penelitian dan studi bangsa timur pada umumnya, dan pusat kajian Islam khususnya, yang tentu saja dikaji berdasarkan pandangan hidup dan kepentingan dunia Barat. Selanjutnya, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, pusat-pusat kajian Islam (Islamic studies) di Barat rajin mengucurkan beasiswa bagi para pelajar Islam di Indonesia untuk belajar di lembaga pendidikan kajian Islam di Barat. Kelak, para lulusan dari Barat ini akan menguasai pos-pos strategis di Indonesia, baik di sektor pemerintahan maupun di bidang pendidikan tinggi Islam.

Jika pada masa lalu konsentrasi liberalisasi Islam oleh dunia Barat lebih diarahkan ke Perguruan Tinggi Islam (PTI), lalu bagaimana corak pemikiran ini juga bisa menyusup masuk ke pesantren-pesantren? Untuk menjawab hal ini kita perlu merujuk pada wacana seputar pesantren yang mengemuka dan cukup marak sejak dekade 1970-an. Sejak periode itu, kita mendapati para pakar dunia pesantren, baik yang terdiri dari out-put pesantren maupun kalangan pemerhati pendidikan dari luar pesantren, banyak menuangkan ide-ide, gagasan-gagasan, atau pemikiran-pemikiran mereka untuk kemajuan pesantren. Dalam hal ini mereka melakukan penelitian, riset, kajian, dan mencurahkan segenap daya pikir mereka dengan cukup serius, untuk membawa pesantren sejejar dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Dalam kerangka ini, pada tataran selanjutnya gagasan-gagasan yang didedikasikan oleh para pakar untuk dunia pesantren benar-benar diterapkan, salah satunya adalah ide untuk menyatukan konsep Perguruan Tinggi Islam (PTI) dan konsep pendidikan pesantren. Ide ini dipandang penting untuk diwujudkan karena dinilai masing-masing lembaga pendidikan (PTI dan pesantren) sama-sama memiliki nilai plus yang tidak ada pada yang lain. Jadi dalam wujud pendidikan baru yang terpadu ini, lembaga pendidikan Islam bisa menyatukan nilai-nilai positif yang sebelumnya menjadi karakter dan ciri khas masing-masing.

Tampaknya, konsep pendidikan semacam ini tampak disepakati keunggulannya, dan karenanya terus bergulir begitu saja tanpa ada otoritas apapun yang mengawal keberlang-sungannya, tanpa ada yang mempedulikan apakah pada praktiknya konsep ini akan berjalan sesuai gagasan awal atau tidak, termasuk ketika pesantren-pesantren selanjutnya berlomba-lomba mengadopsi konsep pendidikan terpadu ini ke dalam lembaga pendidikan masing-masing.

Bagaimanapun, pada umumnya pesantren-pesantren masih belum benar-benar siap untuk menerapkan pendidikan tinggi terpadu ini secara formal, sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia. Sebab dalam hal ini, mereka mesti menyiapkan sejumlah perangkat, kurikulum, dan tenaga pengajar (dosen) yang telah memenuhi kriteria; harus sudah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi tertentu, dan seterusnya. Karena itu, untuk menjembatani ketimpangan ini, dengan terpaksa pesantren mesti mendatangkan tenaga pengajar dari luar lingkungan mereka yang–tentu saja–mindset dan cara pandangnya tidak sepenuhnya searah dengan asas, visi-misi, kultur dan tradisi pesantren. Tentu saja tenaga pengajar ini harus didatangkan dari Perguruan Tinggi Islam. Dan, pada saat kita menerima informasi akurat bahwa liberalisasi Islam ternyata telah bergulir–atau mungkin telah mengakar–di Perguruan Tinggi Islam sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, kita merasa seakan segalanya telah terlambat, karena corak pemikiran liberalisme sedikit banyak juga telah mewarnai pemikiran santri-santri pondok pesantren, tanpa ada yang menyadari sebelumnya. Kasus pemikiran sekelompok santri yang mencoba keluar dari rekomendasi tegas al-Qur’an, sebagaimana penulis kemukakan di awal tulisan ini, sebetulnya juga terjadi di Perguruan Tinggi Islam yang dikelola oleh pesantren.

Selanjutnya, jika sebelum periode reformasi (1998) gerakan liberalisasi Islam di pesantren digulirkan secara datar dan tampak ‘alamiah’, maka pasca periode reformasi, program liberalisasi Islam di pesantren itu digulirkan secara besar-besaran, tanpa tedeng aling-aling, baik kita suka atau tidak. Kini, lembaga-lembaga liberal yang mewujud dalam rupa dan bentuk yang amat beragam, berlomba-lomba melakukan kajian intensif terhadap ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran Islam yang tertuang dalam khazanah pesantren, yang umumnya bersifat distorsif-apologetik, serta mendobrak kebenaran yang sejak lama dipegangi oleh kaum pesantren. Di samping itu, lembaga-lembaga kaum liberalis juga rajin menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang menyertakan kaum pesantren, mengajari mereka untuk juga bisa menerima ide-ide destruktif terhadap Islam sebagaimana yang mereka peluk.

Gambaran lugas dari usaha kalangan intelektual liberal yang berupaya melakukan liberalisasi terhadap ajaran Islam yang tertuang dalam khazanah pesantren, antara lain, adalah apa yang dilakukan oleh organisasi liberal yang menamakan diri mereka Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini dibidani antara lain oleh Sinta Nuriyah, Masdar F. Mas’udi, dan Husein Muhammad. Pada tahun 2001, FK3 meluncurkan buku kontroversial berjudul “Wajah Baru Relasi Suami Istri; Telaah Kitab ‘Uqudul-Lujain”. Sebagaiamana tersirat dari judulnya, isi buku ini memang mengkritik habis tatanan relasi suami-istri dalam Islam yang dituangkan oleh penulis kitab ‘Uqûdul-Lujain, Syekh Nawawi Banten. Forum ini mengklaim telah melakukan penelitian dan kajian selama empat tahun terhadap kitab ‘Uqûdul-Lujain. Penelitian tersebut mengungkapkan sejumlah kesalahan dalam kitab ‘Uqûdul-Lujain yang dinilai bisa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Menurut kelompok liberal yang tergabung dalam FK3, kitab ‘Uqûdul-Lujain sangat diskriminatif dan merugikan perempuan. Tatanan relasi suami-istri yang tertuang dalam ‘Uqudul-Lujain dinilai sudah tidak relevan dengan konteks kehidupan masa kini, dan karena itu perlu dirombak total. Di samping itu, mereka menganggap Syekh Nawawi Banten cenderung tidak objektif dalam melakukan kajian, karena beliau hanya melakukan pembelaan terhadap kaum laki-laki. Padahal Syekh Nawawi Banten adalah seorang ulama yang disepakati keabsahan kajiannya oleh para ulama di seluruh Asia Tenggara. Bahkan di Mekah, beliau mendapat julukan sayyidu ‘ulamâ’il-Hijâz (penghulu para ulama Hejaz) lantaran kepakarannya di bidang fikih dan tafsir tak terbantahkan. Tentu saja, orang yang memiliki akal sehat akan dengan mudah menolak mentah-mentah kelompok yang ingin merombak tatanan Islam terkait dengan relasi suami-istri dan rumah tangga ini, terlebih setelah kemudian kelompok liberal ini justru menjadi pembela tindakan-tindakan amoral di garda depan. Merekalah kelompok yang tidak risau jika lelaki dan perempuan non-mahram berciuman dengan alasan silaturrahim dan tradisi, membela pornografi dan pornoaksi dengan dalih kebebasan berekspresi, menolak pemberangusan lokalisasi pekerja seks komersial dengan dalih profesi, dan lain sebagainya. Adakah moral seperti ini yang dianggap lebih beradab dan lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam daripada tatanan Islam yang diajarkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka?

Di samping gerakan mengobrak-abrik ajaran Islam di pesantren, sebagaimana tergambar dengan jelas dari upaya riil yang dilakukan oleh FK3 di atas, kelompok liberalis juga berupaya menopang gerakan ini dengan cara memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran liberalisme yang sekiranya bisa diterima kalangan pesantren dengan tanpa kejanggalan atau penolakan. Upaya semacam ini rajin dilakukan oleh lembaga-lembaga dan organisasi kelompok liberalis, salah satunya adalah Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta. Dalam hal ini, misalnya, P3M pernah giat menyelenggarakan “Pelatihan Fikih Tasamuh” (gagasan fikih toleransi) untuk kader-kader pesantren atau para santri. Di sini, pada dasarnya P3M mengajari kader-kader pesantren tentang pluralieme agama atau paham yang menganggap semua agama adalah benar. Bagaimanapun, semua insan pesantren faham betul jika menurut mereka, agama yang benar hanya Islam. Akan tetapi tajuk pelatihan yang berupa “Fikih Tasamuh” tampaknya sengaja dipilih oleh P3M agar akrab dengan dunia pesantren dan tidak menimbulkan rasa curiga. Dengan demikian, sebagaimana mudah diduga, orang-orang pesantren menghadiri undangan pelatihan ini tanpa ada rasa keberatan sama sekali, kendati kemudian mereka diajari tentang prinsip-prinsip pluralisme agama–yang mereka istilahkan dengan toleransi beragama atau kerukunan antar-pemeluk agama.

Berkenaan degan pelatihan Fikih Tasamuh yang diselenggarakan oleh P3M ini, penulis juga sempat mengikuti pelatihannya yang saat itu diseleng-garakan di salah satu pesantren di Tanah Merah Bangkalan (12-15 Januari 2007). Selanjutnya, acara serupa juga diselenggarakan di Wisma Rupalesta, Palembang (12-15 Maret 2007). Sebagaimana terpampang dengan jelas dalam programnya, bahwa P3M dibentuk agar semangat toleransi beragama benar-benar tercipta di lingkungan pesantren. Bahkan saati itu, Zuhairi Misrawi (Koordinator P3M) dalam salah satu penyampaiannya menyatakan bahwa sebetulnya orang Kristen juga percaya jika Tuhan itu satu, sementara faham trinitas lebih sebagai sifat atau nama Tuhan yang berbeda-beda. Tentu saja ini adalah penyesatan opini yang nyata.

Wallâhu A‘lam, barangkali ajaran-ajaran liberalisme yang diusung oleh para sales pemikiran Barat di Indonesia, dan dijajakan ke pesantren-pesantren ini, memang telah benar-benar meresap ke benak sebagian santri pondok pesantren. Sebab, selanjutnya penulis sendiri acap kali mendengar pernyataan-pernyataan santri pondok pesantren yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren, namun lebih mempresentasikan nilai-nilai Barat liberal yang biasa diusung oleh kalangan liberalis di Indonesia. Hal ini salah satunya penulis tangkap dari pernyataan salah seorang santri dalam acara simposium nasional bertajuk “Halaqah Empowering Civitas Akademika Ma’had Ali 2006”. Dalam acara yang diselenggarakan pada 21 Nopember 2006 di Asrama Haji Surabaya ini, salah serang utusan pesantren melontarkan kata-kata sedemikian: “Saya sudah muak dengan bahtsul-masail yang diselenggarakan di pesantren. Bagi saya, hal-hal seperti itu tidak dapat menyelesaikan masalah, tapi justru semakin menambah masalah”.

Bagaimanapun, ungkapan di atas tampak lebih mendekati pernyataan liberalis tulen daripada pernyataan seorang santri. Mencibir tradisi luhur pesantren nyaris tidak ada bedanya dengan mengolok-olok karya-karya para ulama. Keduanya adalah kebiasaan para pengasong pemikiran liberalisme dan sangat jauh dari nilai-nilai luhur pesantren. Simaklah misalnya salah satu ungkapan yang tertuang di dalam buku Fiqih Lintas Agama berikut: “Buku-buku fikih klasik sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sosial dan kemanusiaan, tidak kontekstual dan bersifat eksklusif… Karya-karya ulama klasik sangat diskriminatif, tidak manusiawi, melahirkan ketegangan antar-umat baragama, melahirkan kekerasan, berpihak kepada kepentingan dan untuk mengokohkan penguasa.” Jika ungkapan semacam ini muncul dari mulut seorang santri, itu artinya adab Islami yang luhur telah tercerabut dari akar tradisi mereka.

Bahtsul-masail adalah tradisi luhur pesantren yang diwariskan oleh para ulama terdahulu. Musyawarah fiqhiyyah ini diselenggarakan untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan persoalan aktual yang terjadi di masyarakat, dengan merujuk pada karya-karya ulama yang telah disepakati keabsahannya, karena menggunakan metodologi baku dalam menggali rumusan hukum dari landasan-landasan hukum Islam (al-Qur’an, Hadis, Ijmak, dan Kiyas). Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh kelompok liberal atau mereka yang tidak memahami tradisi luhur dan khazanah pesantren, barangkali masih bisa dimaklumi. Namun apa jadinya jika kata-kata itu justru muncul dari seorang santri yang sedang menimba ilmu di pesantren? Maka tak ada asumsi lain yang bisa kita tarik sebagai kesimpulan, selain bahwa fakatanya sebagian pesantren memang telah di susupi pemikiran-pemikiran liberal.

Memang, belakangan dalam berbagai kesempatan seperti seminar dan bedah buku, penulis cukup sering mendapati santri pondok pesantren yang menyuarakan ide-ide liberalisme–yang mungkin tanpa mereka sadari, seperti klaim bahwa sebetulnya hermeneutika itu tidak berbeda dengan konsep tafsir al-Qur’an yang dirumuskan oleh para ulama, gagasan berpacaran secara ‘Islami’, bahkan pernah juga, dalam kesempatan bedah buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, penulis temuai santri yang berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad e itu tidak ummi alias bisa baca tulis–suatu pendapat yang lumrahnya dihembuskan oleh kalangan liberalis yang mereka pelajari dari para orientalis Yahudi dan Kristen Barat.

sumber klik disini