Category Archives: Agama Islam

Tuduhan “Penyembah Kuburan” pada Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki

Diantara tokoh karismatik yang menjadi sasaran tembak kaum wahabi untuk dirusak reputasinya dengan alasan terjerumus dalam berbagai lumpur bid’ah dan syirik, adalah Sayyid

Alm. Al Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki

Alm. Al Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki

Muhammad al-Maliki, yang memiliki banyak pengikut dan murid yang tersebar diberbagai penjuru Indonesia. Oleh karena reputasi keduanya sangat harum dan pengaruhnya cukup besar di Indonesia, kaum wahabi berusaha merusak citra beliau dengan menyebarkan buku yang isinya menghujat pribadi keduanya secara ideologis, bahwa beliau terjerumus dalam lumpur bid’ah dan kesyirikan.

Dalam kitab Hadzihi Mafahimuna, Shalih alu- Syaikh, berusaha menyematkan stigma negatif kepada al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dengan melakukan kritik terhadap hadits-hadits terkait ma­salah tawasul. Diantaranya dengan mengatakan bahwa al-Sayyid Muhammad sebagai penyembah kuburan dikarenakan beliau menganjurkan ziarah kubur dengan menulis bab khusus masalah ziarah dalam kitab-nya Mafahim Yajibu an Tushahhah.

Read the rest of this entry

Iklan

Pandangan Islam Mengenai Trinitas(Tritunggal) Ketuhanan

“Dan ingatlah ketika Allah berfirman “Hai Isa, putra Maryam, adakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?. Isa menjawab: Mahasuci Engkau , tidaklah paut bagiku mengatakan apa yan bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” QS. Al-Maidah: 116

Trinitas adalah keyakinan yang mendasar dalam agama Kristen. Dalam Islam, dalam hal ini Al- Qur’an, juga dibicarakan ihwal Trinitas. Lalu, bagaimana pandangan Islam tentang keyakinan ini?

 

Read the rest of this entry

Orang Tua Rosulullah SAW Pasti di Surga!

Rosulullah

Nabi Rosulullah Saw

Seorang mukmin tak akan mengingkari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir, nabi yang me­miliki kemuliaan dan derajat yang ter­tinggi, baik di langit maupun di bumi. Kemuliaannya dinyatakan oleh Allah SWT dengan firman-Nya yang artinya, “Dan sesungguhnya Engkau (ya Muham­­mad) benar-benar berada di atas akhlaq yang agung.” (QS Al-Qalam: 4).

Jika yang kecil menyifati sesuatu de­ngan “agung”, yang dewasa belum tentu menganggapnya agung. Tetapi jika Allah, Yang Mahabesar menyifati sesua­tu dengan kata “agung”, tidak dapat ter­bayangkan betapa besar keagungan­nya. Dan sudah tentu, makhluk yang agung tidak mungkin keluar kecuali dari rahim yang agung pula.

Kemuliaan Nabi Muhammad SAW mencakup segala hal, termasuk nasab­nya (keturunannya). Beliaulah manusia yang paling baik nasabnya secara mut­lak. Nasab beliau berada di puncak ke­muliaan. Musuh-musuh beliau pun mem­beri pengakuan atas hal tersebut.

Read the rest of this entry

Kajian Problematika Umat : Musim Hujan dan Percikan air hujan ditanah. najiskah ?

hukum najis percikan air hujan

ilustrasi air hujan

Seiring dengan datangnya musim hujan, banyak ruas jalan yang tergenangi air hujan maupun lumpur, sehingga disaat sedang mengendarai sepeda motor atau ketika sedang berjalan kaki  percikan air maupun lumpur tersebut mengenai pakaian yang kita kenakan. Bagaimanakah hukum pakaian tersebut?

Islam adalah agama pembawa rahmat bagi seluruh umat manusia, terkhusus bagi umat muslim. Kaitanya dengan masalah pakaian, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berhati-hati dalam menjaga kesucian pakaian dari najis, karena hal ini berpengaruh terhadap sah dan tidaknya shalat, baik yang menempel pada pakaian, badan maupun tempat shalat.

Namun demikian Islam juga memperhatikan kemudahan, agar tidak terjadi kesulitan. Oleh karena itu, ada beberapa najis yang dimaafkan, karena sulit dihilangkan ataupun dihindari.  Sebagaimana yang disebutkan dalam Kitab Al-Wajiz (Syarhul Kabir) karya Imam Al-Ghazali.

قال الغزالي : يُعْذَرُ مِنْ طِيْنِ الشَّوَارِعِ فِيْمَا يَتَعَذَّرُ الإِحْتِرَازُ عَنْهُ غَالِبًا

Imam Al-Ghazali berkata: Pakaian yang terkena percikan lumpur maupun air dijalan karena sulitnya menghindarkan diri darinya, maka hal ini dimaafkan. Read the rest of this entry

Tentang Puasa di Bulan Rajab

Rajab adalah bulan ke tujuh dari penggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab.

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan:

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab

Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab.

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): “Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'”

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab

Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab:

• Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

• “Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan.”

• Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya…..”

• “Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut“.

• Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku.”

• Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.

Yusuf Suharto
Kontributor NU Online, Sekretaris Aswaja NU Center Jombang

diambil dari nu.or.id

Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy

Dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang dihadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!” Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu Ialu berkata:

“Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab baduwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang baduwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?” “Belum,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”

“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab baduwi itu pula.

Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” Melihat Nabi dihadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.

“Tuan ini Nabi Muhammad?!” “Ya” jawab Nabi s.a.w. Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya:

“Wahal orang Arab! janganlah berbuat serupa itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita.

Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan bersabda: “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata:

“Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!” kata orang Arab baduwi itu.

“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?” Rasulullah bertanya kepadanya.

“Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,“ jawab orang itu. “Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!“

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata:

“Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!”

Betapa sukanya orang Arab baduwi itu, mendengar berita tersebut. la Ialu menangis karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya. {sumber nu.or.id}

Wasiat KH. Hasyim Asy’ari Untuk Menjaga Aqidah Kita

Al Ghazali menceritakan sebuah kisah, bahwa disebuah perbukitan nan elok, berdirilah sebuah rumah nan indah dan sedap dipandang mata. Disekeliling rumah itu dirimbuni pelbagai pepohonan yang rindang. Halamannya penuh dengan rerumputan dan bunga-bunga yang menebar keharuman. Begitu mempesona dan memberikan rasa nyaman bagi siapapun yg menghuninya, karena dirawat dengan perawatan yang alami.

Di kesenjaan usianya, si empunya rumah tersebut berwasiat kepada anaknya agar seantiasa menjaga dan merawat pohon dan rumput-rumput itu sebaik mungkin. Begitu pentingnya, samapi-sampai  ia berkata “Selama engkau masih bertempat tinggal dirumah ini, jangan sampai pohon dan tanaman ini rusak, apalagi hilang”.

 

Ketika tiba saatnya si empunya rumah meninggal dunia, sang anak menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh mendiang ayahnya dengan sungguh-sungguh. Rumah itu betul-betul  dirawat, demikian pula pohon dan rumputnya. Tidak hanya itu, si anak kemudian berinisiatif untuk mencari jenis tanaman lain yang menurutnya lebih indah dan lebih harum untuk ditanam dihalaman rumah. Maka, rumah itu semakin menggoda untuk dilihat dan dinikmati.

Si anak berbunga bunga hatinya. Dibenaknya terlintas kebanggaan bahwa dirinya telah berhasil menjalankan amanah dengan menjaga pepohonan dan rerumputan yang menjadi penyejuk rumah lebih dari yang diperintahkan oleh orang tuanya. Bahkan akhirnya, tumbuhan baru yang ditanam si anak mengalahkan “rumput asli” baik dari segi keelokan maupun harumnya.

Namun yang patut disayangkan, tanaman dan rumput yang pernah diwasiatkan oleh ayahnya akhirnya ditelantarkan, sebab menurutnya sudah ada rumput dan tanaman lain yang lebih bagus, lebih sejuk dipandang, lebih harum dan sebagainya. Bahkan saat “rumput asli” tersebut rusak, tak ada rasa penyesalan di hati si anak. “Toh sudah ada tanaman dan rumput yg lebih bagus” pikirnya.

Tetapi anehnya, ketika “rumput asli” peninggalan orang tuanya itu rusak dan musnah tak tersisa, bukan kenyamanan dan ketentraman yg didapat. Karena ternyata, rumah tersebut lambat laun menjelma menjadi tempat istirahat yang menakutkan. Betapa tidak, rumah tersebut dimasuki berbagai macam ular, baik besar maupun kecil yang membuat si anak terpaksa harus meninggalkan rumah tersebut.

Mencermati kisah ini, Al Ghazali memaknai wasiat orang tua tersebut dengan dua hal:

Pertama, agar si anak dapat menikmati keharuman rumput yang tumbuh disekitar rumahnya. Dan makna ini dapat ditangkap dengan baik oleh nalar si anak.

Kedua, agar rumah tersebut aman. Sebab aroma rumput dan tanamn tersebut dapat mencegah masuknya ular kedalam rumah yang tentu berpotensi mengancam keselamatan penghuninya. Namun makna ini tidak ditangkap oleh nalar si anak. ( Qodliyyah al Tasawwuf al Munqidz min al Dlolal, 140 ).

Kisah ini sangat relevan jika di analogikan dengan wasiat syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk menghindari ajaran beberapa tokoh yg menurut beliau tidak layak untuk dijadikan panutan oleh ummat islam indonesia, karena banyak hal yang bertentangan dengan apa yang diyakini dan diamalkan oleh ummat islam Indonesia yang dibawa oleh wali songo.

Kata Syaikh Hasyim asy’ari, sebagaimana telah maklum bahwa kaum muslimin di indonesia khususnya tanah jawa sejak dahulu kala menganut satu pendapat, satu madzhab dan satu sumber. Dalam fiqih, menganut madzhab Imam Syafi’i, dalam ushuluddin menganut madzhab Abu Hasan al Asy’ari dan Abu Manshur al Maturidi, dan dalam tasawuf menganut madzhab imam Ghazali dan Al junaidi.

Kemudian pada tahun 1330 H, muncullah berbagai kelompok dan pendapat yang bertentangan serta tokoh yang kontroversial yang berasal dari timur tengah, khusunya dari saudi.

Untunglah masih ada kelompok yang tetap konsisten dengan ajaran ulama salaf dan berpedoman pada kitab kitab mu’tabaroh/representatif, mencintai ahlul bait, para auliya, dan para sholihin, bertabaruk kepada mereka, berziarah kubur, mebacakan talqin untuk mayyit, meyakini adanya syafa’at, bertawasul dll . ( Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah: 9, Risalah Sunnah wal Bid’ah: 19) .

Wasiat Syaikh Hasyim Asy’ari tersebut bisa dimaknai dengan :

  1. Agar kaum muslimin khusunya warga nahdliyyin dalam mengamalkan ajaran islam, selalu berpegang kepada madzhab yang Mu’tabaroh yang telah disepakati oleh para ulama
  2. Menjaga aqidah ummat islam agar tidak terpengaruh atau dimasuki faham yang bertentangan dengan ajaran ulama salaf yang sudah turun temurun diamalkan oleh ummat Islam dunia khususnya Indonesia dan Nahdliyyin.

 

(Dikutip dari Majalah Risalah NU edisi 07)

Karomah Seorang Wanita Sholehah

…dia mengusir singa – singa itu tanpa pedang ataupun senjata...

Mutiara Dunia

Kisah ini adalah kisah nyata,tentang seorang wanita sholihah yang diberikan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Salah seorang sholih telah bercerita,”Suatu saat aku pergi ke Makkah untuk menunaikkan ibadah haji bersama dengan beberapa orang sahabatku dalam satu rombongan. Kami berangkat dengan mengendarai unta dengan menyusuri padang pasir yang kering serta panas. Tiba-tiba datanglah rombongan singa yang sangat besar dan terlihat tampak kelaparan. Kami terpaksa berhenti dan semua orang dalam rombongan kami spontan kalang kabut karena takut pada singa-singa itu.”

Kepala rombonganpun ketakutan dan memanggil petugas keamanan untuk mengusir rombongan binatang buas itu.Namun,petugas malah ketakutan dan spontan kalang kabut karena melihat singa yang kelaparan serta besar badannya.Kepala rombonganpun ahirnya bertanya, “Adakah diantara rombongan kita yang berani mengusir singa-singa itu?”

Belum selesai kepala bicara, tiba-tiba ada seorang anggota rombongan menjawab,”Memang tidak ada seorang lelaki pun diantara rombongan kita yang berani mengusir sekawanan singa itu, tapi aku rasa diantara rombongan kita ini ada seseorang yang mampu mengusir singa-singa itu tanpa pedang atau senjata. Dia adalah seorang wanita yang sholihah dan saat ini bersama kita.”

“Katakan dimana wanita sholihah itu dan siapa namanya..?”, tanya kepala rombongan yang dalam keadaan kebingungan. “ia ada dalam haudaj (tandu) untanya, Ummu Fatimah  namanya.”, jawabnya

Kepala rombongan segera menemui wanita itu di dalam tandunya. Setelah menatap wajahnya, ia tersontak kaget karena wanita tersebut ternyata sudah berusia lanjut dan buta kedua matanya. Kemudian ia meminta sambil berkata kepada wanita itu, “Ibu, kalau tidak keberatan, kami mohon kiranya Ibu sudi turun dari unta ini sebentar saja karena kami butuh pertolongan ibu.”

“Memangnya ada apa?”,tanya ibu Fatimah yang keheranan. “Kami dihadang beberapa ekor singa”, jawab sang kepala. “Lalu kenapa kalian takut pada singa itu, padahal kalian laki-laki?”, tanya ibu itu.

“Ya benar bu, kami takut pada binatang buas itu karena kami tak tahu cara menghalaunya”

“Baiklah kalau begitu. Lalu apa yang kalian inginkan dari diriku yang tua dan cacat ini?”

“Kami yang yakin hanya ibu sajalah yang dapat menghalau dan mengusir singa-singa itu”, tegas ketua rombongan.

“Tapi aku ini seorang wanita, apakah kalian senang jika aku dilihat oleh singa-singa jantan itu?”, mendengar perkataan wanita tersebut ketua rombongan hanya diam dan bungkam seribu bahasa.

“Begini, katakan saja pada singa-singa itu, bahwa ibu Fatimah menyampaikan salamnya, dan dia bersumpah atas nama Dzat yang tidak pernah lalai dan tidur”, kemudian katakan pada kawanan singa itu, “Menyingkirlah jangan menghalangi Ibu Fatimah dan rombongannya untuk berjalan ke tanah suci Mekkah.”

Berkata orang sholih yang ada dalam rombongan itu, “Demi Allah, belum selesai ibu itu mengucapkan kata-katanya, melainkan singa-singa itu menyingkir dan lari ketakutan”

“Tak diragukan, kalau wanita ini adalah seorang hamba Allah yang sholihah yang hanya benar-benar takut kepada Allah, sehingga semua mahluk tunduk dan segan kepadanya”, kata ketua rombongan dengan penuh keheranan.

Banyak wanita yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Orang sholih memiliki hati yang lembut penuh rahmat dan kasih sayang, setiap malam mereka bermunajat kepada Allah memohonkan ampun untuk kita. Dan memaafkan kesalahan orang lain. Mengingat perjalanan hidup kaum sholihin, akan menambah iman dan dapat menenangkan hati yang sedih. Kisah ini didapat dari kitab Jaami’ Karoomatil Awliya’ yang pernah dibacakan dihadapan Al Habib Ali Alhabsy, ulama salaf  Yaman.

(Salam: http://www.cintaallah.org)

Hidangan dan Makanan dalam Upacara Kematian (Ta’ziyah) – Seri Problematika Umat

Ilustrasi MakananMenghormati tamu memang dianjurkan dalam Islam. Bahkan dalam salah satu hadits disebutkan bahwa menghormati tamu merupakan artikulasi keimanan seseorang.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”. [Bukhari no. 6018, Muslim no. 47]

Bagaimana jika seorang tamu berkunjung dengan niatan berta’ziyah ikut berbela sungkawa karena kematian seorang anggota keluarga? Tentunya tata cara penghormatannya juga harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Karena situasinya sedang berkabung, maka menghormati tamu hendaknya dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan keperhatinan. Berbeda dengan menjamu tamu ketika berpesta (walimatul urusy atau walimatul khitan).

Namun tradisi yang telah berkembang di sebagian masyarakat justru sebaliknya. Mereka membuat acara berkabung ini dengan semacam pesta; dengan menyembelih sapi, atau kerbau ataupun dengan memasak makanan dalam porsi yang besar. Sehingga keadaan duka itu tidak terasa lagi, bahkan hilang sama sekali. Hal ini menyebabkan  fungsi ta’ziyah sebagai salah satu wahana pengingat mati (tadzkiratul maut), dengan harapan meningkatkan ketaqwaan tidak tercapai. Bahkan dapat membebani keluarga sohibul mushibah (yang ditinggal mati), lebih-lebih jika sohibul mushibah itu keluarga yang kurang mampu.

Begitu juga dengan berbagai macam suguhan yang dihidangkan ketika tahlil selama seminggu. Sesungguhnya hal itu tidak merupakan kewajiban dan tidak pula sebuah keharusan. Hal ini perlu dipahami karena seringnya masyarakat menyeleggarakan telung dino (tradisi memperingati hari ketiga dari kematian) atau mitung dino (tradisi memperingati hari ke tujuh dari kematian) dengan berbagai macam makanan dan jajanan.

Oleh karena itu hal ini perlu diluruskan kembali, bahwasannya berbagai macam tradisi peringatan kematian itu adalah anjuran syari’at Islam. Akan tetapi berbagai macam makanan dan sesuguhan itu yang selalu dihadirkan bersamaan denga tradisi tersebut adalah bentuk dari perkembangan tradisi dan harus dipilah-pilah lagi. Apabila salah memahami bisa-bisa jatuh pada hukum makruh yang harus dihindari. Misalkan keyakinan bahwa menyuguhkan hidangan/makanan dalam ta’ziyah atau nelung dino juga mitung dino dengan harus pada hari ketiga atau ke-tujuh dan tidak boleh pada selain hari itu, hukumnya bisa menjadi makruh.Meskipun hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala sedekah itu, hendaknya keyakinan semacam itu didudukkan pada tempatnya.

Hal ini persis dengan yang digambarkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fatati tamuwal Kubra al-Fiqhiyah:
(وَسُئِلَ) أَعَادَهُ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ عَمَّا يُذْبَحُ مِنَ النَّعَمِ وَ يُحْمَلُ مَعَ مِلْحٍ خَلْفَ الْمَيِّتِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ وَ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَلَى الْحَفَّارِيْنَ فَقَطْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ ثَالِثَ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ أَوْ إِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَ غَيْرِهِمْ وَ عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَ عَمَّا يُعْمَلُ تَمَامَ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ التِي حَضَرْنَ الْجَنَازَةَ وَ لَمْ يَقْصُدُوْا بِذَلِكَ إِلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبِلاَدِ حَتىَّ أَنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَ هُمْ حَسِيْسًا لاَ يَعْبَأُوْنَ بِهِ وَ هَلْ إِذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَ التَّصَدَّقَ فِي غَيْرِ الْأَخِيْرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَا ذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازًا أَوْ غَيْرَهُ. وَ هَلْ يُوْزَعُ مَا صُرِفَ عَلَى انْصِبَاءِ الْوَرَرَثَةِ عِنْدَ قِسْمَةِ التِّرْكَةِ وَ إِنْ لَمْ يَرْضَ بِهِ بَعْضُهُمْ وَ عَنِ الْمَيِّتِ عِنْدَ أَهْلِ المَيِّتِ إِلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ لِأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ مَا يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُوْمَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إِلاَّ إِنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْرَثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفَعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَ حَوْضِهِمْ فِي عَرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ. يرْجَى أَنْ يَكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مَنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ. وَ عَلَّلُوْا بِصَوْنِ عَرْضِهِ عَنْ حَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَةِ وَلاَ يَجُوْزُ أَنْ يُفْعَلَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ مِنَ التِّرْكَةِ حَيْثُ كَانَ فِيْهَا مَحْجُوْرٌ عَلَيْهِ مُطْلَقًا أَوْ كَانُوْا كُلَّهُمْ رُشَدَاءَ لَكِنْ لَمْ يَرْضَ بَعْضُهُمْ.

Dalam ibarat di atas dikisahkan bahwa Imam Ibnu Hajar ditanya, bagaimanakah hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa bersama mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur? Bagaimana dengan yang dilakukan pada hari ketiga kematian dalam bentuk penyediaan makanan untuk para fakir dan yang lain, dan demikian halnya yang dilakukan pada hari ketujuh, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri prosesi ta’ziyah jenazah? Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak? Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keinginan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah, walaupun sebagian ahli waris yang lain tidak senang menyalurkan sebagian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”; bagaimana hukumnya?

Beliau menjawab: semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk bid’ah yang tidak baik, meski tidak sampai pada derajat haram; kecuali jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (ratsa’) pada keluarga mayit.

Hal yang perlu diperhatikan pada saat menghormati tamu yang bertakziyah adalah jangan sampai memaksakan diri untuk menyajikan hidangan yang berlebihan, semata-mata agar dianggap pantas oleh orang lain. Hormatilah tamu dengan hidangan sepantasnya saja, karena sejatinya para tamu memahami kondisi tuan rumah yang sedang berkabung. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi SAW. Kedua, harta yang digunakan tidak boleh diambil/dikurangi dari tirkah (warisan). Sebab, tirkah yang belum dibagikan mutlak harus dijaga utuh, karena bisa jadi sebagian dari ahli waris tidak rela jika tirkah itu digunakan sebelum dibagikan.

Disarikan dari Ahkamul Fuqaha (Jakarta: Sekretariatan PBNU, 2010).

download e-book do’a-do’a penting(tahlil,qunnut,wirdan setelah sholat, dll)

Semua ebook ini adalah hasil googling, hak cipta terdapat pada masing-masing penulis. Jika isi ebook ini digunakan untuk kepentingan umat,pendidikan,dakwah dan beribadah Insyaallah semua penulis(pembuat dokumen E-Book ini) ikhlas dan ridho. akan tetapi untuk tujuan Profit/Mendapatkan Laba Uang maka izinlah kepada pemilik/pembuat dokumen ini, jika tak tercantum siapa yang membuatnya maka sarankan sebagian kecil hasil profitnya disodakohkan kepada yang layak mendapatkannya,  [Isi Konten E-book bukan tanggung  jawab Santrigenggong.wordpress.com ,  kami hanya mendistribusikan kepada anda]

( Mengingatkan jika ada pengarang kitab ulama yang namanya kurang begitu familiar maka kami sarankan browsinglah di internet untuk nama itu . ditakutkan tuntunan Do’a atau artikel tersebut tidak sejalan dengan Ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah , Hanya mengantisipasi dari pada malah meyesatkan anda. Bukan Hanya untuk konten ini, tapi semua konten atau baca’an-baca’an yg ada diinternet buku atau media lain )

 

. DOWNLOAD MP3 :

  1. Ratib Al-Haddad
  2. Ratib Al-Aththas
  3. Wirdul Latief
  4. Wirid As-Sakran
  5. Wirid Syekh Abubakar bin Salim , Wirdul Kabir wa Shaghir
  6. Hizb An-Nashr Lil Imam Al-Haddad

B. TEKS AMALAN SARKUB :

  1. Maulid Al-Barzanji (PDF)
  2. Maulid Adh-Dhiyaul Lami’ (PDF)
  3. Maulid Simtud Duar (PDF)
  4. Maulid Ad-Diba’i (PDF)
  5. Ratib Al-Haddad (PDF) – Arabic
  6. Ratib Al-Haddad (PDF) – Plus Terjemahan
  7. Wirdul Latief (doc)
C. E-BOOK BAHASA INDONESIA
  1. Ahlussunnah Membantah Ibn Taimiyah (PDF)
  2. Ahlussunnah Wal Jama’ah dan Ijtihad (CHM)
  3. Ajaran-ajaran Sesat Diluar Aswaja (PDF)
  4. Al-Firqah An-Najiyah – Golongan Yang Selamat (PDF)
  5. Aswaja An-Nahdliyah (PDF)
  6. Bahaya Hizbut Tahrir (PDF)
  7. Buku Pintar Berdebat Dengan Wahabi (PDF) [Hot Ebook!!, Segera Download!!]
  8. Fatwa Isu Penting (PDF) [Buku ini dikarang oleh Habib Salim bin Jindan untuk membongkar kesesatan Syi’ah]
  9. Gus Dur Siapa Sih Sampeyan? (PDF)
  10. Irsyadul Anam – Habib Utsman bin Yahya (PDF)
  11. Islamku, Islam Islam Anda, Islam Kita – KH. Abdurrahman Wahid (PDF)
  12. Kenalilah Akidahmu 1 (PDF) – Habib Munzir Al-Musawa
  13. Kenalilah Akidahmu 2 (PDF) – Habib Munzir Al-Musawa
  14. Kesahihan Dalil Tarawih 20 Rakaat (PDF)
  15. Khulashoh al-Madad al-Nabawiy (PDF) – Kumpulan Dzikir sehari-sehari oleh Habib Umar bin Hafidz
  16. Kumpulan Bahtsul Masa-il Jilid 1 (CHM)
  17. Kumpulan Bahtsul Masa-il Jilid 2 (CHM)
  18. Kumpulan Bahtsul Masa-il Jilid 3 (CHM)
  19. Kumpulan Humor Gus Dur di Internet (PDF)
  20. Mafaahiim Yajib An Tushohhah, Karya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki
  21. Masa-il Diniyyah Jilid 1-4 (CHM), atau PDF
  22. Maulid ar-Rasul Sebuah Ungkapan Cinta (PDF)
  23. Membongkar Kedok Kaum Salafiyyun (PDF)
  24. Membongkar Pemikiran dan Kepalsuan Ajaran Salafy (PDF)
  25. Membongkar Salafy Wahabi (CHM)
  26. Meniti Kesempurnaan Iman (PDF) – Habib Munzir Al-Musawa
  27. Mutiara Hikmah Buya Yahya (CHM)
  28. Nukilan Palsu dari Ianath Thalibin (PDF)
  29. Pluralisme Gus Dur (PDF)
  30. Risalah Amaliyah Nahdliyah (PDF), atau CHM
  31. Risalah Fiqih Wanita (CHM)
  32. Risalatul Mahidl (Problematika Darah Wanita) (PDF)
  33. Riwayat Perjuangan Jam’iyah Nahdlatul Ulama (CHM)
  34. Sang Penakluk (Gus Dur) (PDF)
  35. Sifat 20 Allah SWT (CHM)
  36. Syi’ah Imamiyah, Ideologi dan Ajarannya – Muh. Idrus Ramli (PDF)
  37. Tanya Jawab Bersama KH. Bisri Musthofa (CHM) , versi 2 
  38. Telaah Kritis Atas Doktrin Salafi Wahabi (PDF)
  39. Terjemah Daf’u Syubah At-Tasybih Ibn Al-Jawzi (CHM) , PDF
  40. Terjemah Jawaahirul Kalamiyah (PDF)
  41. Terjemah Uquudu Lujain Fii Bayaani (PDF)
  42. Web Offline WWW.NU.OR.ID Nahdlatul Ulama (CHM)
D. E-BOOK BAHASA ARAB
كتب شيخ الإسلام عبد الله الهرري – Kitab Syaikhul Islam Abdullah Al-Harary
إسم الكتاب المؤلف تحميل الزيارات
الروائح الزكية في مولد خير البرية شيخ الإسلام الهرري 775
مختصر كتاب الكواكب الدرية في مدح خير البرية المسماة البردة شيخ الإسلام الهرري 942
الدليل الشرعي على إثبات عصيان من قاتلهم علي من صحابي أو تابعي شيخ الإسلام الهرري 798
كتاب نصرة التعقب الحثيث على ما طعن فيما صح من الحديث شيخ الإسلام عبد الله الهرري 369
الفرض العيني في صفحات حل ألفاظ المختصر تلاميذ شيخ الإسلام الهرري 523
الدرة البهية في حل ألفاظ العقيدة الطحاوية شيخ الإسلام الهرري 776
مختصر عبد الله الهرري الكافل بعلم الدين الضروري شيخ الإسلام الهرري 832
صريح البيان في الرد على من خالف القرآن – الجزء الثاني شيخ الإسلام الهرري 486
صريح البيان في الرد على من خالف القرآن – الجزء الأول شيخ الإسلام الهرري 484
المقالات السنية في كشف ضلالات أحمد بن تيمية شيخ الإسلام الهرري 1335
الدر النضيد في أحكام التجويد شيخ الإسلام الهرري 581
رسالة في بطلان دعوى أولية النور المحمدي شيخ الإسلام الهرري 571
حل ألفاظ مختصر عبد الله الهرري شيخ الإسلام الهرري 705
الشرح القويم في حل ألفاظ الصراط المستقيم شيخ الإسلام الهرري 1328
عمدة الراغب في مختصر بغية الطالب شيخ الإسلام الهرري 741
 – RUDUD & TAHDZIR TERHADAP AJARAN SESAT الردود والتحذير
إسم الكتاب المؤلف تحميل الزيارات
التبصير في الدين و تمييز الفرقه الناجيه عن الفرق الهالكين أبي المظفر عماد الدين الاسفرايني 88
فتنة الوهابية مفتي مكة أحمد بن زيني دحلان 218
مختصر كتاب دفع شبه من شبه وتمرد الشيخ تقي الدين الحصني الشافعي 175
لائحة أقوال أهل الحق ضد الوهابية أتباع ابن تيمية ومحمد بن عبد الوهاب الأحباش 282
مرشد الحائر لبيان وضع حديث جابر أبو الفضل عبد الله بن محمد بن الصديق الغماري 164
رسالة في الرد على فرق الضلال الثلاث الوهابية والقطبية والتحريرية الأحباش 108
نصيحة الذهبي لابن تيمية الأحباش 160
الوهابية في العراء الأحباش 267
عمدة الكلام في إثبات التوسل والتبرك بخير الأنام فضيلة الشيخ جميل حليم الحسيني 616
التحذير من ناظم القبرصي – – – 378
تبيين ضلالات الألباني شيخ الوهابية المتمحدث جمع بعض تلاميذ الإمام الهرري 861
كتاب عمرو خالد في ميزان الشريعة الأحباش 431
كتاب سيد قطب وحزبه .. تاريخ أسود الأحباش 913
كتاب القرضاوي في العراء الأحباش 1150
كتاب تنبيه المسلمين من ضلالات يوسف القرضاوي الدكتور سيد إرشاد احمد البخاري 497
رسالة تحذير من فرق الضلال الثلاث الأحباش 495
كتاب النفع العميم في انتفاع أموات المسلمين بالقرءان العظيم الأحباش 252
الرد على الألباني الشيخ أبي الفضل عبد الله الغماري 504
الدليل الشرعي على مشروعية قراءة القرءان على أموات المسلمين الأحباش 275
العولمة المظاهر المتناقضة والآثار السلبية على الدول النامية فضيلة الشيخ احمد تميم 357

———————————————————————————————————————————

Lebih Lanjut Silahkan Kunjungi Link dibawah (menyediakan Informasi Bermanfa’at dan terupdate)