BAHTSUL MASA’IL

Petunjuk Halaman Konsultasi dan Bahtsul Masa’il :

  • Jika Ingin Bertanya silahkan tuliskan pertanyaan anda dalam komentar dibawah ini, (pertanyaan bersifat umum atau non pribadi)
  • Jika Pertanyaan anda menyangkut prihal pribadi baik berupa curhatan keluh kesah/kritik/saran bisa melalui halaman kirim pesan ke admin atau via email ke thesocpro[at]gmail[dot]com
  • Jika ingin menambahkan komentar/tanggapan anda/jawaban/respon bisa langsung klik reply/balas dibawah komentar aktif tersebut
  • semua komentar akan kami moderasi

………………………………………………………………… ?

  1. bagai mana carnya meng hadapi permaslahan khilafiyah di per masyrakatan

    • Masalah khilafiyah merupakan hal-hal yang dipertentangkan atau pendapat yang berbeda tentang suatu masalah, khususnya yang berkaitan dengan masalah fiqih. Ini merupakan masalah yang sudah lama muncul dan selalu menjadi pertanyaan setiap generasi, bahkan ada yang menganggap suatu masalah sebagai prinsip sedangkan yang lain menganggapnya hanya masalah kecil yang tidak boleh dibesar-besarkan. Hal terbaik yang harus dilakukan atau kesepakatan masalah khilafiyah yang harus diambil adalah bahwa dalam berbagai perkara, termasuk perkara fiqih rujukan nomor satu kita adalah Al-Qur’an dan Hadits. Karenanya, hal yang dipersoalkan harus dikembalikan atau dirujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Namun perlu pula disadari bahwa dalam Al-Qur’an dan Hadits itu terdapat ruang penafsiran yang dilakukan para ulama sehingga menimbulkan perbedaan pendapat meskipun dalilnya sama. Karenanya perbedaan pendapat dalam penafsiran suatu dalil harus kita hormati. Bila kita bisa toleran terhadap penganut agama lain, mengapa kita tidak bisa toleran terhadap perbedaan dikalangan sesama muslim, selama jelas landasan hukumnya.
      Cara yang bijak untuk menjelaskan masalah khilafiyah adalah dengan memberikan penjelasan tentang masing-masing pendapat, pendapat A mengatakan begini dan begitu dengan segala alasannya, demikian pula dengan pendapat B. Bahkan bisa jadi ada pendapat C yang merupakan pendapat pertengahan diantara keduanya sehingga sebenarnya kita tidak mengembangkan pendapat baru. Manakala perbandingan sudah diberikan, diharapkan jamaah menguasai masalah yang diperdebatkan itu dan ia bisa memilih pendapat berdasarkan argumentasi yang kuat, sementara sang ustadz juga harus menegaskan pendapat yang dianutnya dengan tetap menghormati jamaah yang meyakini pendapat yang lain.
      Hal yang harus kita tekankan kepada jamaah adalah bagaimana ukhuwah Islamiyah tetap dijaga, dipelihara dan ditingktkan. Dalam konteks masjid, bisa saja hal-hal yang memang jelas landasannya ditampung semuanya, misalnya shalat tarawih dan witir ada yang sebelas dan dua puluh tiga rekaat. Untuk menapung keduanya, bisa saja dengan tarawih dulu bersama-sama dengan delapan rekaat, sesudah itu ceramah Ramadhan dan sesudahnya shalat witir yang sebelas rekaat, sedangkan yang dua puluh tiga menunggu dulu. Sesudah yang sebelas selesai witir mereka keluar dari masjid dan yang dua puluh tiga melanjutkan hingga selesai.

      Namun, satu hal yang harus kita ingat bahwa orang yang senang meruncingkan masalah khlifiyah kadangkala apa saja dinyatakan masalah khilafiyah, padahal sebenarnya tidak ada di dalam Islam, karena memang sama sekali tidak ada landasan hukumnya. dan jangan pula mengolok-olok baik mengkafirkan,mensesatkan seseorang karena perbedaan pendapat dan penafsiran. Bersikaplah bijak dalam mengadapi masalah. sekian sahabat Santri dan semoga bermanfa’at(rujukan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: