Monthly Archives: November 2011

Tanya Jawab Seputar Kedudukan Rosulullah SAW , Dengan Mufti Mesir

Syaikh Dr. Ali Jum’ah al-Syafi’i  ” Tanya Jawab Seputar Kedudukan Rosulullah SAW”

Dr. Ali Jum'ah al-Syafi'iDr. Ali Jum’ah al-Syafi’i adalah Mufti resmi Republik Arab Mesir. Beliau bermazhab Syafi’i dalam fikih dan menganut faham Asy’ariyah dalam akidah. Beliau juga mengajar ushul fiqh di universitas al-Azhar dan masih rutin memberikan pengajian fikih dan tasawuf di berbagai masjid dan majelis ta’lim. Di bawah ini beberapa tanya jawab umat bersama Dr. Ali Jum’ah seputar kedudukan Rasulullah Saw. Diterjemah secara singkat dari buku “al-Bayan Lima Yusyghil al-Adzhan” cetakan al-Muqattham Kairo Mesir.

Apakah Saidina Muhammad Saw. adalah ciptaan Allah yang paling mulia nasabnya? Apa dalilnya?
Saidina Muhammad Saw. adalah manusia teragung sebagaimana sabdanya “Aku adalah penghulu seluruh manusia, dan akupun tidak bangga“. Bahkan beliau adalah ciptaan Tuhan yang paling agung. Beliau lebih mulia dari Arsyi. Dari itu, tidaklah layak jika dimuliakan seseorang (meskipun seorang nabi) atau makhluk apapun di atas kemuliaan beliau dalam hal apapun.
Garis keturunan yang mulia adalah keutamaan terpenting yang dimiliki beliau. Allah Swt. telah memuji garis keturunan beliau dalam ayat “Dan perpindahanmu di antara orang-orang yang sujud“. Saidina Ibnu Abbas Ra. menafsirkan ayat tersebut dengan perkataannya: “Dan perpindahan beliau dari (tulang rusuk) nabi ke nabi, dari Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, sampai akhirnya lahir menjadi seorang nabi terunggul”. Maka Rasulullah Saw. adalah nabi tersuci nasabnya secara mutlak.
Dalam sebuah hadits dikatakan: “Allah telah memilih Nabi Isma’il dari keturunan Nabi Ibrahim, lalu Allah memilih Bani Kinanah dari Keturunan Nabi Isma’il, kemudian Allah memilih Quraish dari keturunan Bani Kinanah, lalu Allah memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraish, dan akhirnya Allah memilihku dari keturunan Bani Hasyim“.
Apakah benar Allah Swt. menciptakan semua ciptaan-Nya karena / demi Rasulullah Saw.?
Ungkapan-ungkapan seperti itu harus difahami dengan benar dan jangan semudahnya menuduh kafir, fasiq, sesat dan bid’ah. Ini kaidah yang harus dipegang oleh umat Islam ketika mendengar ungkapan apapun dari saudara-saudara mereka yang seagama. Contohnya, seseorang beragama kristen ketika mengungkap bahwa Nabi Isa dapat menghidupkan orang mati, maka jangan cepat menuduh syirik kepada orang muslim yang senada dengan orang kristen tersebut, sebab orang kristen meyakini bahwa Nabi Isa memiliki kekuatan yang tulen tanpa sumber, sementara orang muslim meyakini bahwa kekuatan itu murni dari Allah dan berlandaskan restu Allah Swt.
Keyakinan sebagian umat Islam bahwa penciptaan Allah Swt. terjadi hanya karena / demi Rasulullah Saw. sama sekali tidak mengandung nilai syirik. Dimanakah letak kekufuran itu apabila seseorang meyakini bahwa Allah menciptakan suatu ciptaan karena seseorang? Keyakinan tersebut sama sekali tidak kontra dengan Islam, prinsip-prinsip akidah maupun dasar-dasar tauhid. Keyakinan tersebut sungguh benar apabila difahami dengan benar pula.
Allah berfirman: “Sungguh Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKu“. Nah, pengabdian tersebut tak dapat direalisasikan kecuali melalui Rasulullah Saw. Maka Rasulullah merupakan satu-satunya rujukan bagi umat manusia.
Apakah Rasulullah adalah cahaya? ataukah manusia seperti kita?
Rasulullah adalah cahaya, itu benar. Karena Allah berfirman: “Wahai ahli kitab, telah datang kepadamu cahaya dan kitab yang menerangkan“. Allah juga berfirman: “Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izinNya dan untuk jadi cahaya yang menerangi“. Jadi, tidak salah bila meyakini beliau sebagai cahaya selama Allah sendiri yang menyatakannya. Dalam banyak hadits juga akan ditemukan para sahabat mengatakan bahwa wajah Rasulullah seperti bulan, dan kecahayaan tersebut bersifat fisikis dan bukan sekedar pujian gombal saja dari para sahabat.
Namun, di waktu yang sama, kita tidak boleh menafikan kemanusiaan Rasulullah Saw. karena Allah juga berfirman “Katakanlah: Aku manusia seperti kalian, akan tetapi aku diwahyukan“. Mari kita yakini saja beliau sebagai cahaya berbentuk manusia, tanpa harus melakukan penelitian secara detail. Sungguh, Rasulullah Saw. lebih terang dari bulan dan lebih mulia dari semua ciptaan.
Apakah Rasulullah Saw. adalah awal ciptaan Allah Swt.?
Meskipun hadits yang menyatakan hal tersebut tidak shahih atau maudhu’, namun substansinya bisa saja benar, sebab alam-alam Allah begitu banyak seperti alam ghaib, alam roh, alam jin, alam mala’ikat, alam malakut, alam mulk, alam syahadah, dll. Disana terdapat cahaya-cahaya ciptaan Allah. Mungkin-mungkin saja Rasulullah Saw. adalah cahaya Allah yang pertama kali diciptakan sebagai penguat umat manusia di alam roh.
Apa urgensi cinta Ahlul-Bait? Dan apa batasan-batasannya?
Allah Swt. berfirman: “Katakanlah hai Muhammad: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap keluargaku“. Dalam banyak hadits, Rasulullah Saw. telah memerintahkan dan mewasiatkan kita untuk mencintai dan berpegang teguh kepada Ahlul-Bait, sebagai tanda cinta kepada Allah dan RasulNya. Selama akidah kita tetap benar maka tidak ada batasan dalam mencintai dan mengekspresikan cinta kita kepada Ahlul-Bait. Kita semua yakin bahwa tiada tuhan selain Allah dan Saidina Muhammad adalah utusan Allah. Semua nabi adalah ma’shum, sementara Ahlul-Bait dan para wali adalah mahfuz.
Apa hukum merayakan / mempringati maulid Nabi?
Perayaan / peringatan maulid Rasulullah Saw. adalah sebaik-baik perbuatan dan semulia-mulia pendekatan kepada Allah Swt. karena merupakan ekspresi cinta kepada Rasulullah Saw. dimana cinta Rasul adalah pokok utama sebuah keimanan.
Sudah banyak ulama’ dan fuqaha’ yang menulis tentang dianjurkannya perayaan maulid dengan mencantumkan argumen-argumen yang kuat semisal Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Syamsuddin al-Dimasyqi, Imam Ibnul-Jauzi, Imam al-Bushairi, dll.
Apakah kedua orangtua Rasul adalah musyrik dan di neraka?
Tidak, karena mereka adalah ahli fatrah yang belum didatangi seorang rasul. Juga karena Rasulullah adalah manusia suci yang lahir dari orang-orang suci. Adapun hadits-hadits yang secara tekstual dan kasat mata menyatakan bahwa kedua orangtua Rasul di neraka, harus difahami dengan benar. Contohnya, hadits yang menjelaskan bahwa Allah tidak mengizinkan Rasulullah beristighfar untuk ibunya, tidaklah selalu bermakna ibunya syirik dan di neraka, sebab Allah masih mengizinkan Rasulullah untuk menziarahi kuburan ibnunya, sementara kuburan orang-orang musyrik tidak boleh diziarahi.
Apakah boleh bertawassul dengan Rasulullah Saw. dalam do’a selepas beliau wafat?
Mazhab empat sudah ijma’ bahwa tawassul dengan Rasul hukumnya ja’iz bahkan mustahab, baik sewaktu beliau masih di dunia maupun setelah meninggal dunia.
Apakah Rasulullah Saw. masih hidup dalam kuburnya? Dan apa pengaruh kehidupan itu bagi kita yang masih di dunia?
Meskipun beliau telah meninggal dunia, namun hubungan beliau dengan kita belum terputus dan beliau masih punya kehidupan lain di alam yang berbeda. Rasulullah Saw. bersabda: “Kehidupanku penting bagimu dan kematianku juga penting bagimu, sebab perbuatanmu akan dilaporkan kepadaku, jika perbuatanmu baik maka aku bersyukur, dan jika buruk maka untukmu aku beristighfar“.
Dalam hadits lain: “Para nabi masih hidup dalam kubur-kubur mereka dan masih melakukan sembahyang“. Dalam hadits lain: “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad-jasad para nabi“. Jadi, Rasulullah dalam maqam beliau di Madinah, masih hidup dengan jasad dan rohnya sekalian, dan masih beribadah serta memberi syafaat dan beristighfar untuk umat. Hal ini tanpa menafikan bahwa beliau telah meninggal dunia.(sumber)
Iklan

Drama Mbah Maridjan di Puncak Merapi

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

Berperan tidaknya seorang pemimpin sangat tergantung pada karakter yang melekat pada dirinya, sementara karakter dibangun dalam proses pergumulan panjang yang kadang penuh dengan gejolak dan jatuh bangun serta berbagai suka duka. Semuanya itu membentu menjadi jiwa yang ulet, hati yang teguh dan kemauan yang kuat serta pengabdian yang tak kenal batas. Mbah Maridjan adalah salah satu contoh terakhir yang ditunjukkan kita pada saat ini. Ini sebuah pertunjukan yang sangat tepat dalam sebuah panggung politik nasional yang tidak memiliki karakter, sebab para pemimpinnya tidak memiliki jiwa yang ulet, hati yang tegih serta pengabdian yang mendalam. Semuanya bersifat kontraktual.

Dengan kekuatan spiritualnya Mbah Maridjan telah mampu menjaga keseimbangan antara mikrokosmos, manusia yang tercermin dalam dirinya, dengan makrokosmos yakni Gunung Merapi, selama belasan tahun mengabdi, dan selama itu pula berbagai letusan gunung terjadi, masyarakat selamat dan Mbah Maridjan Juga selamat. Sebagai pengabdian yang tulus, ia bertekad mengandikan dirinya seumur hidup untuk menjaga merapi, apalagi ini juga amanah dari Keraton Yogyakarta. Karena itu sebagai panglima Merapi tidak mungkin ia meninggalkan gelanggang, lari berarti meninggalkan tanggung jawab, pantang bagi seorang brahmana mengabaiakan tiugasnya, karena itu akan dipertahankan hingga denyut nadi penghabisan.

Tetapi sang aktor harus mati dalam episode letusan penghabisan, ini memberikan nilai dramatis dan sekaligus sebagai contoh yang dipentaskan di atas panggung Merapi yang dijaganya sendiri. Di atas panggung itu ia mencontohkan bagaimana seorang pemimpin mesti bertindak, dan bertanggung jawab, mengabdi sepenuhnya tanpa pamrih. Darma kematiannya memberikan pelajaran bagi pemipin kita bagaimana moral dan asketisme hidup mesti diperahankan. Asketisme itu tidak hanya menjaga keseimbangan antara sesama mikro kosmos  atau sesama manusia, tetapi juga sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan mikro-kosmos dengan makro-kosmos.

Sebagai seorang spiritualis, Mbah Maridjan adalah seorang Rois Syuriyah Nahdlatul Ulama, dengan demikian dia seorang Kiai. Dengan kekiaiannya itulah dia tunjukkan ketinggian moralnya dan sekaligus kerendahan hatinya. Dia lebih banyak berbuat dan memberi keteladanan dari pada omongan. Dia telah menyatukan antara ilmu dengan laku, karena itu omongan hanya akan mengganggu laku. Laku sendiri sudah merupakan pelajaran yang langsung bisa dicerna oleh para muridnya atau masyarakat yang peka. Dengan kekiaiannya itu pula dia bisa menjalankan tugas secara proporsional bagaimana bisa bertindak tanpa harus melanggar syariat agama, terutama saat melaksanakan ritual di atas sana dalam upaya menjaga keseimbangan hidup.

Kerakusan dan lari dari tanggung jawab merupakan wajah dari kepemimpinan saaat ini, sumber daya akan dikeruk tanpa batas, hutan ditebang tanpa menyisakan akar untuk tumbuh kembali, sehingga mengakibatkan longsor dan banjir yang tidaka mengenal ampun. Alam tidak dijaga dan dipelihara, tetapi dimakan habis untuk memenuhi semangat konsumsi yang tidak ada batas, sehingga masyarakat menjadi masyarakat konsumtif yang mengkonsumsi apa saja, malampaui apa yang sebenarnya dibutuhkan, hanya demi nafsu dan kesenangan, tanpa memperhatikan keterbatasasn alam.

Tidak hanya sumber daya alam yang dihabiskan, kekayaan rakyat yang disimpan dalam kas negara juga diambil tanpa sisa baik secara resmi maupun melalui manipulasi. Sehingga pengambilan itu tidak lagi dikategorikan lagi sebagai korupsi, hukum tidak lagi bisa mendeteksi perilaku seperti itu. Karena itu korupotor selalu lepas dari jerat hukum, karena hukum bisa diakali dan dimanipulasi melalui proses jual beli.  Semuanya terjadi karena para pimpinan haus kekuasaan, haus kekayaan serta haus popularitas, padahal semuanya terjadi dengan biaya yang sangat mahal, tidak mungkin dipenuhi tanpa disertai korupsi.

Semua orang termasuk politisi bicara keras bagaimana melestarikan alam, dan menghadapi cuaca yang berubah, serta berbusa-busa mencari cara untuk memberantas korupsi. Mbah Maridjan tentu tidak pernah bicara persoalan seperti itu, karena itu sama sekali bukan cara untuk menyelesaikan masalah, dan memang masalah tidak berada di situ. Tetapi Mbah Maridjan menjalankan satu sikap dan langkah yang bisa menyelesaikan solusi semua problem itu, yaitu hidup asketik. Dengan asketisme tidak butuh uang lebih lalu korupsi. Dengan asketisme itu pula dia tidak perlu merusak dan menebangi pohon, merusak sungai.  Sebaliknya malah merawat dan melindunginya. Itulah pelajaran yang diberikan oleh Mbah Maridan dalam drama yang dipentaskan di atas Gunung Merapi. (Abdul Mun’im DZ)

(sumber)

‎”Kedewasaan seseorang”

‎”Kedewasaan seseorang tidak bisa dilihat dari cara dia berjalan, gaya berbicara, selera musik, gaya berpakaian dan hal-hal yang terlalu gampang untuk dibuat-buat lainnya, kedewasaan seseorang hanya dapat dilihat dari kebijaksanaannya dalam menentukan pilihan.”

(Alexius Acchnur)

Bangkitkan Sejarah Melalui Kirab Resolusi Jihad NU

Cirebon, SGO Online
Barisan Kirab Resolusi Jihad Nahdatul Ulama (NU) memasuki Losari Kabupaten Cirebon Jawa Jawa Barat, Rabu (23/11) sekitar pukul 13.00 WIB. Pasukan kirab yang berangkat dari Surabaya, Jawa Timur, sejak Ahad (20/11) itu disambut Menakertrans, Muhaimin Iskandar, dan Korwil NU Jabar, Helmy Faisal Zaini.

Barisan Pasukan kirab yang berjumlah ratusan orang itu kemudian diarak menggunakan Singa Depok. Arak-arakan itu dimulai dari jembatan Sungai Cisanggarung, yang merupakan perbatasan Provinsi Jawa Tengah-Jawa Barat, hingga panggung acara di terminal Losari yang berjarak sekitar 100 meter.

Pasukan kirab yang menggunakan ratusan motor dan puluhan mobil itu mengarak bendera Merah Putih dan pataka NU. Selanjutnya, benda-benda tersebut diserahkan kepada Helmy Faisal Zaini.

Muhaimin Iskandar, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 10 November. Selain itu, kegiatan tersebut juga dimaksudkan untuk membangkitkan sejarah perjuangan para tokoh NU dalam menegakkan kedaulatan NKRI.

Menurut Muhaimin, bangsa Indonesia selama ini hanya mengenal tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan. Padahal, peristiwa 10 November tidak akan terjadi tanpa adanya peristiwa pada 22 Oktober 1945.

Saat itu, terang Muhaimin, Rais Akbar NU, KH Hasyim Asyari, bersama kiai-kiai besar NU lainnya telah menyerukan jihad fi sabilillah. Seruan itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia mempertahankan NKRI yang baru diproklamasikan.

Namun, kata Muhaimin, resolusi jihad yang diserukan para kyai NU pada 22 Oktober 1945 itu belum diakui secara resmi keberadaannya dalam sejarah Indonesia. Padahal, keberadaan resolusi jihad itu memiliki bukti otentik yang tersimpan di Museum Leiden Belanda. “Hal ini sangat disayangkan,” kata Muhaimin.

Hal senada diungkapkan perwakilan dari tokoh NU Kabupaten Cirebon, KH Lutfi Fuad Hasyim. Dia mengatakan, berdirinya NKRI tak dapat dipisahkan dari perjuangan para kyai dan santri.

Lutfi menyebutkan, salah satu tokoh yang terlibat dalam rapat pada 22 Oktober 1945  adalah KH Abdullah Abas. Tokoh yang berasal dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon itu bahkan dikenal sebagai Singa dari Jawa Barat.

Lutfi menjelaskan, KH Abdullah Abas merupakan ahli strategi perang. Karena itu, kedatangannya ke Surabaya pun disambut gembira masyarakat Surabaya. “Tapi sayang, tokoh-tokoh NU yang berperan pada masa itu tidak masuk dalam sejarah,” kata Lutfi.

Redaktur : Syaifullah Amin (sumber)