Monthly Archives: Agustus 2011

Suntik dan Infus Saat Berpuasa

Santri Genggong  >> Syariah >> Suntik dan Infus Saat Berpuasa

Suntik dan infus sama-sama memasukkan cairan ke dalam tubuh dengan alat bantu jarum. Bedanya, suntik berisi cairan obat-obatan, sedangkan infuse biasanya berupa nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Pada galibnya, orang sakit tidak memiliki nafsu makan, atau karena pertimbangan tertentu tidak dibenarkan mengkonsumsi makanan menurut cara normal. Di sini, infus menjadi sebuah solusi.


 

Karena perbedaan zat yang dikandung, suntik dan infus memiliki efek yang tidak sama. Setelah diinfus, tubuh akan terasa relative segar dan tidak lapar, meskipun juga tidak kenyang. Sementara suntik, murni obat untuk menyembuhkan penyakit, bukan menggantikan makanan dan minuman.

Suntik dan infus dengan fungsi yang berbeda, pada hakikatnya saling melengkapi. Penyakit susah disembuhkan jika tubuh kekurangan vitamin dan zat-zat lain yang sangat dibutuhkan. Sementara terpenuhinya kebutuhan gizi, tidak secara otomatis melenyapkan penyakit, tanpa ditunjang obat-obatan.
Definisi puasa yang paling praktis adalah meninggalkan makan/minum dan berhubungan seksual. Pengertian makan dan minum dalam konteks berpuasa, ternyata lebih luas dari sekedar memasukkan makanan dan minuman lewat mulut. Ia mencakup masuknya benda ke dalam rongga tubuh (al-jawf) lewat organ yang berlubang terbuka (manfadz maftuh), yaitu mulut, telinga, dubur, kemaluan, dan hidung.

Melihat ketentuan tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa suntik tidak membatalkan puasa. Sebab proses masuknya obat tidak melalui organ berlubang terbuka, tetapi jarum khusus yang ditancapkan ke dalam tubuh. Lagi pula, suntik tidak menghilangkan lapar dan dahaga sam sekali.

Adapun infuse, menurut Dr. yusuf Qardhawi dalam fatawi mu’ashirah, 324, merupakan penemuan baru, sehingga tidak diketemukan keterangan hukumnya dari hadits, shahabat, tabiin, dan para ulama terdahulu. Oleh karena itu, ulama kontemporer berbeda pendapat, antara membatalkan dan tidak. Dr. Yususf Qardhawi, meskipun cenderung kepada pendapat yang tidak membatalkan, menyarankan agar penggunaan infuse dihindari pada saat berpuasa. Alasannya, meskipun infuse tidak mengenyangkan, tetapi cukup menjadikan tubuh terasa relative segar.

Intinya, infuse dapat dilihat dari dua sisi, proses masuk dan efek yang ditimbulkan. Ditinjau dari sisi pertama, infuse tidak membatalkan puasa, seperti suntik, sebab masuknya cairan tidak melalui ogan tubuh yang berlubang terbuka. Tetapi, melihat fakta bahwa ia berpotensi menyegarkan badan dan menghilangkan lapar serta dahaga, kita patut bertanya: apakah menyatakan infuse tidak membatalkan puasa tidak berlawanan dengan tujuan puasa itu sendiri, yakni merasakan lapar dan dahaga sebagai  wahana latihan mengendalikan nafsu dan menumbuhkan empati kepada kaum mustadhafin.

Untuk menghadapi masalah yang disangsikan hukumnya, cara paling aman adalah meninggalkannya, sebagai diajarkan Rasulullah kaitannya dengan perkara syubhat (tidak jelas halal haramnya). Ini artinya, pendapat infuse membatalkan puasa lebih menerminkan sikap berhati-hati (al-ahwath) dalam beragama. Toh orang sakit mendapat dispensasi tebuka pada bulan puasa.
(sumber: Dialog Dengan Kiai Sahal Mahfudh, Ampel Suci)

 

Iklan

Bersetubuh di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan

Santri Genggong  >> Syariah >> Bersetubuh di Siang Hari Pada Bulan Ramadhan.

Ada macam-macam hal yang memabatalkan puasa Ramadhan dan beragam pula konsekuensinya. Ada yang sekedar harus meng-qadha’ (mengganti di hari lain), tetapi ada pula yang mengakibatkan sanksi berat. Terhitung yang berat adalah hubungan seks (jima’).

Dasar hukum sanksi ini hadits riwayat Bukhari dan Muslim tentang lelaki yang mengaku telah melakukan pelanggaran ini. Rasullah lalu mengurutkan tiga sanksi untuk menjadi kaffarah (penebus): pembebasan budak, puasa dua bulan berturut-turut, dan memberi makan enam puluh orang miskin.

Tiga kaffarah itu tidak dapat dipilih begitu saja, tetapi berlaku urut. Karena di zaman ini sanksi pertama tidak berlaku lagi, dengan sendirinya pelakunya harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika karena sebab yang dibenarkan syariat hukuman ini tidak mungkin dilakukan, baru dapat ditempuh sanksi terakhir berupa pemberian paket kepada 60 fakir miskin, masing-masing 1 mud (kurang lebih 6 ons) bahan makanan pokok.

Kaffarah ini berlaku antara lain jika hubungan seks itulah yang mengakibatkan batalnya puasa. Jika sebelumnya puasanya sudah batal atau dibatalkan, maka kaffarah di atas tidak berlaku.

Tetapi itu tidak berarti sanksinya menjadi lebih ringan. Meninggalkan atau membatalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah sebuah dosa yang sangat besar. Diriwayatkan At-Turmudzi, Rasulullah bersabda yang artinya: Barang siapa meninggalkan/membatalkan sehari puasa Ramadhan tanpa alasan yang meringankan dan tidak pula karena sakit, maka puasa sepanjang masa tidak cukup sebagai gantinya.

Membatalkan puasa sebelum berhubungan seks bukan hanya berarti memangkas sanksi. Setidaknya ada dua alasan moral untuk tidak melakukannya.
Pertama, puasa dua bulan berturut-turut adalah hukum yang secara spesifik telah ditetapkan Allah. Apakah anda ingin lari dari hukum-Nya?
Kedua, dengan membatalkan puasa untuk menghindarkan kaffarah, maka sesungguhnya seseorang telah melakukan akal-akalan, bermain siasat atas hukum Allah. Pertanyaannya secerdik itukah kita?

Bagaimanapun beratnya, begitulah hukum telah ditetapkan. Jika tidak ingin tertimpa beratnya hukum, sebaiknya kita berhati-hati. Tidak ada salahnya untuk mengurangi tindakan-tindakan lahiriah yang lazim digunakan untuk mengekspresikan rasa sayang, cinta, dan kemesraan suami istri. Jika dianggap perlu, ciptakan jarak sementara. Ikuti kegiatan-kegiatan kerohanian yang banyak diselenggarakan selama bulan Ramadhan. Prinsipnya, hindari segala sesuatu yang dapat menyebabkan Anda jatuh dalam pelanggaran ini.

Inilah sesungguhnya makna puasa: menahan dirI dari godaan nafsu, tidak untuk menghancurkannya tetapi untuk mampu mengendalikannya. Bukankah akan sampai juga waktu di mana dorongan nafsu itu dapat dipenuhi tanpa ancaman murka Tuhan.
(sumber: Dialog Dengan Kiai Sahal Mahfudh, Ampel Suci)

Doa Kemerdekaan Gus Mus

Kelompok Indonesia Optimis menyelenggarakan acara 17an secara virtual/digital. Gus Mus pun diminta membacakan doa kemerdekaan. berikut doa yang disampaikan oleh wakil rais aam PBNU ini.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Wahai Keindahan yang menciptakan sendiri segala
yang indah,
Wahai Pencipta yang melimpahkan sendiri segala anugerah
Wahai Maha Pemurah yang telah menganugerahi
kami negeri sangat indah dan bangsa yang menyukai keindahan,
Ya Allah yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah,
Demi nama-nama agungMu yang maha indah
Demi sifat-sifat suciMu yang maha indah
Demi ciptaan-ciptaanMu yang serba indah
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kepekaan menangkap dan mensyukuri keindahan anugerahMu.
Keindahan merdeka dan kemerdekaan
Keindahan hidup dan kehidupan
Keindahan manusia dan kemanusiaan
Keindahan kerja dan pekerjaan
Keindahan sederhana dan kesederhanaan
Keindahan kasih sayang dan saling menyayang
Keindahan kebijaksanaan dan keadilan
Keindahan rasa malu dan tahu diri
Keindahan hak dan kerendahan hati
Keindahan tanggung jawab dan harga diri
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kemampuan mensyukuri nikmat anugerahMu
dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridlai
Selamatkanlah jiwa-jiwa kami
dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami
Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
ke jalan indah menuju cita-cita indah kemerdekaan kami
Kuatkanlah lahir batin kami
untuk melawan godaan keindahan-keindahan imitasi
yang menyeret diri-diri kami dari keindahan sejati
kemanusiaan dan kemerdekaan kami
Merdekakanlah kami dari belenggu penjajahan apa saja
selain penjajahanMu
termasuk penjajahan diri kami sendiri
Kokohkanlah jiwa raga kami
untuk menjaga keindahan negeri kami.
Ya Malikal Mulki Ya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa
Jangan kuasakan atas kami –karena dosa-dosa kami–
penguasa-penguasa yang tak takut kepadaMu
dan tak mempunyai belas kasihan kepada kami.
Anugerahilah bangsa kami pemimpin yang hatinya
penuh dengan keindahan cahaya kasihsayangMu
sehingga kasihsayangnya melimpahruahi rakyatnya
Jangan Engkau berikan kepada kami pemimpin
Yang merupakan isyarat kemurkaanMu atas bangsa kami

Wahai Maha Cahya di atas segala cahya
Pancarkanlah cahyaMu di mata dan pandangan kami
Pancarkanlah cahyaMu di telinga dan pendengaran kami
Pancarkanlah cahyaMu di mulut dan perkataan kami
Pancarkanlah cahyaMu di hati dan  keyakinan kami
Pancarkanlah cahyaMu di pikiran dan sikap kami
Pancarkanlah cahyaMu di kanan dan kiri kami
Pancarkanlah cahyaMu di atas dan bawah kami
Pancarkanlah cahyaMu di dalam diri kami
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan ciptaanMu dan meresapinya
dapat menangkap keindahan anugerahMu dan mensyukurinya
Agar kami dapat menangkap keindahan jalan lurusMu dan menurutinya
dapat menangkap keburukan jalan sesat setan dan menghindarinya

Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan kebenaran dan mengikutinya
dapat menangkap keburukan kebatilan dan menjauhinya
Agar kami dapat menangkap keindahan kejujuran dan menyerapnya
dapat menangkap keburukan kebohongan dan mewaspadainya
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Sirnakan dan jangan sisakan sekelumit pun kegelapan
di batin kami.
Ya Maha Cahya di atas segala cahya
Jangan biarkan sirik dan dengki
hasut dan benci
ujub dan takabur
kejam dan serakah
dusta dan kemunafikan
gila dunia dan memuja diri
lupa akherat dan takut mati
serta bayang-bayang hitam lainnya
menutup pandangan mata-batin kami
dari keindahan wajahMu.
menghalangi kami
mendapatkan kasihMu
menghambat sampai kami
kepadaMu.

Ya Allah ya Tuhan kami,
Ampunilah dosa-dosa kami
Dosa-dosa para pemimpin dan bangsa kami
Merdekakanlah kami dan kabulkanlah doa kami.
Amin.
@.mustofa bisri

Tumpas Rasa Malas

Seandainya”, kalimat ini begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Disadari atau tidak, sebagian besar orang boleh jadi biasa mengucapkannya, “Seandainya aku melakukan ini, tentunya begini dan begini, tidak justru begini.” Ungkapan ini berkonotasi sebagai angan-angan semu dan sesuatu yang tidak akan terjadi.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam sangat tidak menyukai umatnya mengumbar kata-kata “seandainya”. Beliau mewanti-wantikan kepada mereka bahwa kalimat “lau” (seandainya) adalah tipu daya setan. Orang yang selalu mengumbar kata ini adalah pemalas yang hanya bisa berhasrat tapi tak bersemangat.

Jika kita sudah benar-benar dijangkiti rasa malas, maka cepat-cepatlah berusaha melawan dan membuangnya jauh-jauh. Malas adalah sifat buruk yang wajib dihindari oleh semua muslim. Malas adalah ciri-ciri orang munafik. Firman Allah dalam al-Qur’an (artinya):

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [4]: 142)

Jika kita mulai kedatangan tamu yang bernama ‘malas’ dan kita ingin mengusirnya, berikut ini beberapa tips yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

 

1) Perbanyak Doa

Doa adalah senjata orang mukmin, begitulah Nabi menegaskan. Ibnu Qayyim dalam karyanya al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa’ala ‘anid-Dawâ’ asy-Syâfi, menjelaskan bahwa obat mujarab untuk menyembuhkan jiwa orang mukmin yang sudah terjangkiti berbagai penyakit adalah berdoa dan bersungguh-sungguh dalam doa. Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menanggulangi rasa malas adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبُخْلِ والْجُبْنِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. رواه أبو داود

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesusahan, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan sifat malas, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir dan pengecut, dan aku berlindung pada-Mu dari hutang yang tak mampu ditanggung serta kesewenangan orang yang tak mampu dilawan.” (HR Abu Dawud)

 

2) Lawanlah Setan dan Nafsu

Malas sebenarnya berasal dari setan. Setan akan terus berusaha mengusik dan membujuk nafsu manusia untuk malas, baik dalam menunaikan ibadah maupun dalam aktivitas yang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

“Setan mengikatkan tiga ikatan di belakang kepala salah seorang dari kalian ketika tidur. Pada setiap ikatan setan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah.” Apabila salah seorang dari kalian terjaga dari tidur, lalu menyebut nama Allah, maka akan terlerai satu ikatan. Jika ia mengambil wudu, maka terlerai satu ikatan lagi. Dan jika ia salat, maka terlerailah semua ikatan. Jika demikian, maka ia akan bangun di waktu pagi dalam keadaan rajin serta lapang hatinya. Jika ia tidak (melakukannya), maka ia bangun pagi dalam keadaan buruk jiwanya dan diliputi rasa malas.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibn Hibban, dan lainnya)

Hadis ini menunjukkan bahwa malas berasal dari setan dan kita harus berusaha terus melawannya dengan tidak menuruti apapun yang dibisikkan olehnya. Jika setan sudah bisa dikalahkan, maka malaspun akan hilang.

 

3) Menimba Ilmu

Timbalah ilmu sebanyak mungkin. Dengan ilmulah seseorang akan menjadi orang yang rajin dan cekatan dalam hidupnya. Mengapa ilmu? Apa hubungan antara ilmu dengan rajin? Gambaran sederhananya begini: ketika seseorang sudah mengetahui (memiliki ilmu) tentang fadilah dan keutamaan ibadah tertentu, maka pastinya akan menyebabkan ia rajin melakukan ibadah tersebut. Hal itu apabila dia memiliki keyakinan yang kuat tentang apa yang dipelajari. Orang yang memiliki ilmu mengenai keutamaan salat jamaah, ia akan terdorong untuk rajin mengerjakan salat jamaah. Begitupun ketika seseorang tahu bahwa malas berasal dari setan dan merupakan sifat orang munafik, dia akan memiliki dorongan untuk mengusirnya.

Sejalan dengan hal tersebut, sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, “Salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isyak dan salat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan datang untuk salat walaupun harus merangkak.” (HR an-Nasa’i, ath-Thabrani, dan al-Baihaqi)

Sabda tersebut menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan mengenai hakikat sesuatu. Ilmu menyebabkan semangat dan sikap seseorang terhadap sebuah amal berubah 180 derajat. Ilmu akan menuntun seseorang untuk rajin dan cekatan dalam mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.

sumber artikel klik disini

Mencermati Gerakan Liberalisasi Islam di Pesantren

SEKITAR sebelas tahun yang lalu, pada bulan Jumadal Ula tahun 1421 H., buletin Istinbat pada edisinya yang ke-12, menurunkan kajian utama bertajuk “Ijtihad Gadungan, Memusuhi Islam”. Topik utama tersebut diturunkan sebagai respons balik terhadap sanggahan yang dimunculkan oleh buletin Memorandum terbitan salah satu pesantren di Situbondo, yang menggugat rumusan hukum waris yang diluncurkan buletin Istinbat sebelumnya, pada edisi ke-5, Rabiul Awal 1421 H.

Alkisah, buletin Istinbat edisi 5 pada rubrik Fatawa megangkat tema seputar fenomena pembagian harta warisan dengan dasar rela sama rela (‘an tarâdhin). Berdasarkan dalil-dalil kuat yang telah dihimpun redaksi, serta dengan merujuk pada hasil keputusan bahtsul-masail yang diselenggarakan di sejumlah pesantren, maka dirumuskan bahwa praktik membagi harta warisan dengan dasar rela sama rela, tanpa mengikuti aturan sebagaimana ditetapkan dalam al-Qur’an, adalah bid’ah dhalâlah (tercela) dan hukumnya haram. Hal demikian karena praktik tersebut telah menyalahi aturan hukum Islam (syara’) yang ditetapkan dengan dalil yang qath‘î (definitif) dari al-Qur’an dan Hadis.

Namun kemudian, selanjutnya rumusan hukum tersebut digugat oleh buletin Memorandum. Dalam hal ini mereka menurunkan sanggahan itu dalam tulisan berjudul “Konsep Fiqh Mawarits tidak Adil?” Dalam tulisan ini, buletin tersebut dengan tegas menyimpulkan bahwa pembagian harta warisan tidak harus mengikuti aturan dalam pembagian warisan sebagaimana ditetapkan dalam al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi boleh mengikuti model pembagian warisan yang telah mentradisi di masyarakat, yakni 1:1 bagi laki-laki dan perempuan. Agaknya, buletin Istinbat menilai sanggahan itu sebagai hal yang teramat serius, sehingga pada edisi 13, Istinbat kembali mengangkat tema ini dengan topik utama “Hukum Waris, Tradisi atau Qur’ani?”.

Apakah yang hendak penulis kemukakan dengan mengungkapkan ulang fakta tersebut? Bahwa tampak jelas di hadapan kita, jika ternyata fenomena pemahaman Islam yang ter-liberal-kan agaknya sudah menjangkiti sejumlah pesantren, bahkan sebelum model pemikiran itu menjadi demikian populer di Indonesia dengan di-launching-nya Jaringan Islam Liberal (JIL) pada bulan Maret 2001, dan menjadi sangat heboh ketika Ulil Abshar Abdalla, koordinator jaringan ini pada saat itu, memunculkan tulisan kontroversial di harian Kompas di bawah tajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”.

Sekilas, corak pemikiran liberalisme yang mewarnai pesantren–sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang paling konsisten memegangi ajaran dan tradisinya–tampak sebagai fakta yang agak aneh–dan mungkin membuat sebagian kita terbelalak. Namun belakangan, para peneliti yang concern di bidang ini mengungkapkan suatu fakta, bahwa ternyata upaya liberalisasi Islam di Indonesia bukanlah ide yang digagas baru kemarin sore dan dilontarkan secara sporadis. Liberalisasi Islam di Indonesia adalah upaya serius yang digagas sejak lama, bahkan sejak periode penjajahan di negeri ini, dengan grand design yang matang, direncanakan secara sistematis, plus pendanaan yang sangat memadai.

Memang, di negara-negara Barat yang sangat berambisi menghegemoni negara-negara dunia ketiga dalam berbagai aspeknya, upaya liberalisasi Islam adalah bagian dari proyek yang amat ambisius dan ditangani secara serius. Dalam hal ini, mereka membangun pusat-pusat penelitian dan studi bangsa timur pada umumnya, dan pusat kajian Islam khususnya, yang tentu saja dikaji berdasarkan pandangan hidup dan kepentingan dunia Barat. Selanjutnya, pasca kemerdekaan bangsa Indonesia, pusat-pusat kajian Islam (Islamic studies) di Barat rajin mengucurkan beasiswa bagi para pelajar Islam di Indonesia untuk belajar di lembaga pendidikan kajian Islam di Barat. Kelak, para lulusan dari Barat ini akan menguasai pos-pos strategis di Indonesia, baik di sektor pemerintahan maupun di bidang pendidikan tinggi Islam.

Jika pada masa lalu konsentrasi liberalisasi Islam oleh dunia Barat lebih diarahkan ke Perguruan Tinggi Islam (PTI), lalu bagaimana corak pemikiran ini juga bisa menyusup masuk ke pesantren-pesantren? Untuk menjawab hal ini kita perlu merujuk pada wacana seputar pesantren yang mengemuka dan cukup marak sejak dekade 1970-an. Sejak periode itu, kita mendapati para pakar dunia pesantren, baik yang terdiri dari out-put pesantren maupun kalangan pemerhati pendidikan dari luar pesantren, banyak menuangkan ide-ide, gagasan-gagasan, atau pemikiran-pemikiran mereka untuk kemajuan pesantren. Dalam hal ini mereka melakukan penelitian, riset, kajian, dan mencurahkan segenap daya pikir mereka dengan cukup serius, untuk membawa pesantren sejejar dengan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Dalam kerangka ini, pada tataran selanjutnya gagasan-gagasan yang didedikasikan oleh para pakar untuk dunia pesantren benar-benar diterapkan, salah satunya adalah ide untuk menyatukan konsep Perguruan Tinggi Islam (PTI) dan konsep pendidikan pesantren. Ide ini dipandang penting untuk diwujudkan karena dinilai masing-masing lembaga pendidikan (PTI dan pesantren) sama-sama memiliki nilai plus yang tidak ada pada yang lain. Jadi dalam wujud pendidikan baru yang terpadu ini, lembaga pendidikan Islam bisa menyatukan nilai-nilai positif yang sebelumnya menjadi karakter dan ciri khas masing-masing.

Tampaknya, konsep pendidikan semacam ini tampak disepakati keunggulannya, dan karenanya terus bergulir begitu saja tanpa ada otoritas apapun yang mengawal keberlang-sungannya, tanpa ada yang mempedulikan apakah pada praktiknya konsep ini akan berjalan sesuai gagasan awal atau tidak, termasuk ketika pesantren-pesantren selanjutnya berlomba-lomba mengadopsi konsep pendidikan terpadu ini ke dalam lembaga pendidikan masing-masing.

Bagaimanapun, pada umumnya pesantren-pesantren masih belum benar-benar siap untuk menerapkan pendidikan tinggi terpadu ini secara formal, sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia. Sebab dalam hal ini, mereka mesti menyiapkan sejumlah perangkat, kurikulum, dan tenaga pengajar (dosen) yang telah memenuhi kriteria; harus sudah menyelesaikan jenjang pendidikan tinggi tertentu, dan seterusnya. Karena itu, untuk menjembatani ketimpangan ini, dengan terpaksa pesantren mesti mendatangkan tenaga pengajar dari luar lingkungan mereka yang–tentu saja–mindset dan cara pandangnya tidak sepenuhnya searah dengan asas, visi-misi, kultur dan tradisi pesantren. Tentu saja tenaga pengajar ini harus didatangkan dari Perguruan Tinggi Islam. Dan, pada saat kita menerima informasi akurat bahwa liberalisasi Islam ternyata telah bergulir–atau mungkin telah mengakar–di Perguruan Tinggi Islam sejak berpuluh-puluh tahun lamanya, kita merasa seakan segalanya telah terlambat, karena corak pemikiran liberalisme sedikit banyak juga telah mewarnai pemikiran santri-santri pondok pesantren, tanpa ada yang menyadari sebelumnya. Kasus pemikiran sekelompok santri yang mencoba keluar dari rekomendasi tegas al-Qur’an, sebagaimana penulis kemukakan di awal tulisan ini, sebetulnya juga terjadi di Perguruan Tinggi Islam yang dikelola oleh pesantren.

Selanjutnya, jika sebelum periode reformasi (1998) gerakan liberalisasi Islam di pesantren digulirkan secara datar dan tampak ‘alamiah’, maka pasca periode reformasi, program liberalisasi Islam di pesantren itu digulirkan secara besar-besaran, tanpa tedeng aling-aling, baik kita suka atau tidak. Kini, lembaga-lembaga liberal yang mewujud dalam rupa dan bentuk yang amat beragam, berlomba-lomba melakukan kajian intensif terhadap ajaran-ajaran dan pemikiran-pemikiran Islam yang tertuang dalam khazanah pesantren, yang umumnya bersifat distorsif-apologetik, serta mendobrak kebenaran yang sejak lama dipegangi oleh kaum pesantren. Di samping itu, lembaga-lembaga kaum liberalis juga rajin menyelenggarakan pelatihan-pelatihan yang menyertakan kaum pesantren, mengajari mereka untuk juga bisa menerima ide-ide destruktif terhadap Islam sebagaimana yang mereka peluk.

Gambaran lugas dari usaha kalangan intelektual liberal yang berupaya melakukan liberalisasi terhadap ajaran Islam yang tertuang dalam khazanah pesantren, antara lain, adalah apa yang dilakukan oleh organisasi liberal yang menamakan diri mereka Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini dibidani antara lain oleh Sinta Nuriyah, Masdar F. Mas’udi, dan Husein Muhammad. Pada tahun 2001, FK3 meluncurkan buku kontroversial berjudul “Wajah Baru Relasi Suami Istri; Telaah Kitab ‘Uqudul-Lujain”. Sebagaiamana tersirat dari judulnya, isi buku ini memang mengkritik habis tatanan relasi suami-istri dalam Islam yang dituangkan oleh penulis kitab ‘Uqûdul-Lujain, Syekh Nawawi Banten. Forum ini mengklaim telah melakukan penelitian dan kajian selama empat tahun terhadap kitab ‘Uqûdul-Lujain. Penelitian tersebut mengungkapkan sejumlah kesalahan dalam kitab ‘Uqûdul-Lujain yang dinilai bisa menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Menurut kelompok liberal yang tergabung dalam FK3, kitab ‘Uqûdul-Lujain sangat diskriminatif dan merugikan perempuan. Tatanan relasi suami-istri yang tertuang dalam ‘Uqudul-Lujain dinilai sudah tidak relevan dengan konteks kehidupan masa kini, dan karena itu perlu dirombak total. Di samping itu, mereka menganggap Syekh Nawawi Banten cenderung tidak objektif dalam melakukan kajian, karena beliau hanya melakukan pembelaan terhadap kaum laki-laki. Padahal Syekh Nawawi Banten adalah seorang ulama yang disepakati keabsahan kajiannya oleh para ulama di seluruh Asia Tenggara. Bahkan di Mekah, beliau mendapat julukan sayyidu ‘ulamâ’il-Hijâz (penghulu para ulama Hejaz) lantaran kepakarannya di bidang fikih dan tafsir tak terbantahkan. Tentu saja, orang yang memiliki akal sehat akan dengan mudah menolak mentah-mentah kelompok yang ingin merombak tatanan Islam terkait dengan relasi suami-istri dan rumah tangga ini, terlebih setelah kemudian kelompok liberal ini justru menjadi pembela tindakan-tindakan amoral di garda depan. Merekalah kelompok yang tidak risau jika lelaki dan perempuan non-mahram berciuman dengan alasan silaturrahim dan tradisi, membela pornografi dan pornoaksi dengan dalih kebebasan berekspresi, menolak pemberangusan lokalisasi pekerja seks komersial dengan dalih profesi, dan lain sebagainya. Adakah moral seperti ini yang dianggap lebih beradab dan lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam daripada tatanan Islam yang diajarkan oleh para ulama dalam karya-karya mereka?

Di samping gerakan mengobrak-abrik ajaran Islam di pesantren, sebagaimana tergambar dengan jelas dari upaya riil yang dilakukan oleh FK3 di atas, kelompok liberalis juga berupaya menopang gerakan ini dengan cara memberikan pemahaman tentang ajaran-ajaran liberalisme yang sekiranya bisa diterima kalangan pesantren dengan tanpa kejanggalan atau penolakan. Upaya semacam ini rajin dilakukan oleh lembaga-lembaga dan organisasi kelompok liberalis, salah satunya adalah Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jakarta. Dalam hal ini, misalnya, P3M pernah giat menyelenggarakan “Pelatihan Fikih Tasamuh” (gagasan fikih toleransi) untuk kader-kader pesantren atau para santri. Di sini, pada dasarnya P3M mengajari kader-kader pesantren tentang pluralieme agama atau paham yang menganggap semua agama adalah benar. Bagaimanapun, semua insan pesantren faham betul jika menurut mereka, agama yang benar hanya Islam. Akan tetapi tajuk pelatihan yang berupa “Fikih Tasamuh” tampaknya sengaja dipilih oleh P3M agar akrab dengan dunia pesantren dan tidak menimbulkan rasa curiga. Dengan demikian, sebagaimana mudah diduga, orang-orang pesantren menghadiri undangan pelatihan ini tanpa ada rasa keberatan sama sekali, kendati kemudian mereka diajari tentang prinsip-prinsip pluralisme agama–yang mereka istilahkan dengan toleransi beragama atau kerukunan antar-pemeluk agama.

Berkenaan degan pelatihan Fikih Tasamuh yang diselenggarakan oleh P3M ini, penulis juga sempat mengikuti pelatihannya yang saat itu diseleng-garakan di salah satu pesantren di Tanah Merah Bangkalan (12-15 Januari 2007). Selanjutnya, acara serupa juga diselenggarakan di Wisma Rupalesta, Palembang (12-15 Maret 2007). Sebagaimana terpampang dengan jelas dalam programnya, bahwa P3M dibentuk agar semangat toleransi beragama benar-benar tercipta di lingkungan pesantren. Bahkan saati itu, Zuhairi Misrawi (Koordinator P3M) dalam salah satu penyampaiannya menyatakan bahwa sebetulnya orang Kristen juga percaya jika Tuhan itu satu, sementara faham trinitas lebih sebagai sifat atau nama Tuhan yang berbeda-beda. Tentu saja ini adalah penyesatan opini yang nyata.

Wallâhu A‘lam, barangkali ajaran-ajaran liberalisme yang diusung oleh para sales pemikiran Barat di Indonesia, dan dijajakan ke pesantren-pesantren ini, memang telah benar-benar meresap ke benak sebagian santri pondok pesantren. Sebab, selanjutnya penulis sendiri acap kali mendengar pernyataan-pernyataan santri pondok pesantren yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang diajarkan di pesantren, namun lebih mempresentasikan nilai-nilai Barat liberal yang biasa diusung oleh kalangan liberalis di Indonesia. Hal ini salah satunya penulis tangkap dari pernyataan salah seorang santri dalam acara simposium nasional bertajuk “Halaqah Empowering Civitas Akademika Ma’had Ali 2006”. Dalam acara yang diselenggarakan pada 21 Nopember 2006 di Asrama Haji Surabaya ini, salah serang utusan pesantren melontarkan kata-kata sedemikian: “Saya sudah muak dengan bahtsul-masail yang diselenggarakan di pesantren. Bagi saya, hal-hal seperti itu tidak dapat menyelesaikan masalah, tapi justru semakin menambah masalah”.

Bagaimanapun, ungkapan di atas tampak lebih mendekati pernyataan liberalis tulen daripada pernyataan seorang santri. Mencibir tradisi luhur pesantren nyaris tidak ada bedanya dengan mengolok-olok karya-karya para ulama. Keduanya adalah kebiasaan para pengasong pemikiran liberalisme dan sangat jauh dari nilai-nilai luhur pesantren. Simaklah misalnya salah satu ungkapan yang tertuang di dalam buku Fiqih Lintas Agama berikut: “Buku-buku fikih klasik sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sosial dan kemanusiaan, tidak kontekstual dan bersifat eksklusif… Karya-karya ulama klasik sangat diskriminatif, tidak manusiawi, melahirkan ketegangan antar-umat baragama, melahirkan kekerasan, berpihak kepada kepentingan dan untuk mengokohkan penguasa.” Jika ungkapan semacam ini muncul dari mulut seorang santri, itu artinya adab Islami yang luhur telah tercerabut dari akar tradisi mereka.

Bahtsul-masail adalah tradisi luhur pesantren yang diwariskan oleh para ulama terdahulu. Musyawarah fiqhiyyah ini diselenggarakan untuk mencapai mufakat dalam menyelesaikan persoalan aktual yang terjadi di masyarakat, dengan merujuk pada karya-karya ulama yang telah disepakati keabsahannya, karena menggunakan metodologi baku dalam menggali rumusan hukum dari landasan-landasan hukum Islam (al-Qur’an, Hadis, Ijmak, dan Kiyas). Jika pernyataan di atas dilontarkan oleh kelompok liberal atau mereka yang tidak memahami tradisi luhur dan khazanah pesantren, barangkali masih bisa dimaklumi. Namun apa jadinya jika kata-kata itu justru muncul dari seorang santri yang sedang menimba ilmu di pesantren? Maka tak ada asumsi lain yang bisa kita tarik sebagai kesimpulan, selain bahwa fakatanya sebagian pesantren memang telah di susupi pemikiran-pemikiran liberal.

Memang, belakangan dalam berbagai kesempatan seperti seminar dan bedah buku, penulis cukup sering mendapati santri pondok pesantren yang menyuarakan ide-ide liberalisme–yang mungkin tanpa mereka sadari, seperti klaim bahwa sebetulnya hermeneutika itu tidak berbeda dengan konsep tafsir al-Qur’an yang dirumuskan oleh para ulama, gagasan berpacaran secara ‘Islami’, bahkan pernah juga, dalam kesempatan bedah buku Menelaah Pemikiran Agus Mustofa, penulis temuai santri yang berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad e itu tidak ummi alias bisa baca tulis–suatu pendapat yang lumrahnya dihembuskan oleh kalangan liberalis yang mereka pelajari dari para orientalis Yahudi dan Kristen Barat.

sumber klik disini