Antara Dunia dan Akhirat

Assalamu’alaikum wr.wb.

Ketika kita mendengar kalimat dunia, maka akan terlintas dalam benak kita segala bentuk nyata dari ragam dan corak yang identik dan berhubungan dengan definisi dunia. Mobil, rumah, sepeda motor, gunung, lautan, langit, bumi, sapi dan hewan hewan lainnya termasuk makhluk penghias dunia yaitu anak anak dan wanita. Seluruhnya sangat familiar dan bersentuhan langsung dengan semua panca indera kita ini.

Namun ketika kita mendengar kalimat akhirat, maka mendadak rasio kita berputar 180 derajat. Daya pikir kita langsung di ‘paksa’ berimajinasi membayangkan sebuah alam yang belum pernah kita rasakan apalagi alami. Petunjuk petunjuk yang diberikan kepada kita memiliki modal awal sebelum petunjuk itu memberikan kita pemahaman utuh tentang akhirat itu sendiri yaitu iman. Iman merupakan sebuah modal wajib jika kita akan menyelami sebuah alam yang sangat mengharuskan kita untuk tidak hanya berimajinasi memakai akal pikiran saja namun membutuhkan penggalian iman dalam hati yang sesak dengan husnudz dzon (baik prasangka) serta keyakinan penuh kepada Sang Pencipta Akhirat, Allah swt.

Akhirat dalam pengertiannya diartikan sebagai tempat akhir atau ujung. Di alam itu kita diajak untuk menyelami sebuah makna mendalam tentang alam setelah semua hitungan berakhir dan semua dunia berujung. Bukan hanya berisi sebuah alam ‘baru’ paska dunia berakhir namun segala ‘kegiatan’ yang berlangsung didalamnya. Kekuatan alamnya absolut bertumpu pada Rahmat dan Keadilan Allah, Sang Maha Perkasa. Kedekatan atau jaga jarak para manusia yang dibangkitkan pada saat itu dengan Sang Kholiq sangat terasa hubungannya. Mereka tidak kuasa atas mereka sendiri secara jasmani dan rohani. Lidah mereka sudah tidak akan mewakili akal pikiran mereka. Berbeda dengan dunia yang dapat dipermainkan oleh nafsu para kholifahnya dengan pandai bersilat lidah dan pandai beradu argumen yang panjang!

Nah, di alam itu kita seakan berat untuk membayangkan bagaimana seutuhnya ‘skenario’ Allah. Kita hanya mendapat garis besarnya saja yakni kebangkitan dari alam kubur, Hisab kemudian titian Shirothol Mustaqim. Golongan yang ada pun pada saat itu hanya terbagi dua. Ashabul Yamin dan Ashabus Syimaal. Ahlul Jannah dan Ahlun Naar. Surga dan neraka pun sulit bagi kita untuk menggambarkannya secara utuh karena Sang Rasul pun sulit dalam menggambarkannya pada para sahabat yang mulia. Gambaran beliau Sang Baginda Agung hanyalah kalimat yang sudah cukup gambarkan kelebihan surga itu:
ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر
“Tidak ada satu matapun yang melihat (keindahan/kedahsyatan siksaan) nya dan tidak ada satu telingapun yang mendengar (nikmat/siksaan) nya dan tidak ada satu suara batinpun yang hinggap (demi menggambarkan nikmat maupun siksaaan itu) terhadap hati seorang manusia”
Sekali lagi, iman disini lebih berperan bagi ‘para aktor dan aktris’ yang bermain didalamnya yaitu seluruh makhluk hidup. Para awwalin dan aakhirin. Ummat pada zaman lampau, saat ini dan yang akan datang. Termasuk kita yang akan menjadi calon pemain di dalamnya! Dengan iman, imajinasi yang berat tadi terasa sangat ringan untuk kemudian menjadi sebuah file memori bukan hanya dalam otak kita tapi juga hati nurani kita masing masing.

Dunia dan akhirat memang dua alam yang berbeda jauh. Baik dalam hal kenikmatan maupun sebaliknya. Termasuk pula dalam hal kondisi dan situasi. Sangat jauh berbeda. Tidakkah kita mau berpikir seberapa besar nanti kebahagiaan yang akan kita dapat di akhirat tersebut? Dunia ya saat ini, hari ini. Telah hinggap kenikmatannya dalam diri kita namun apakah semua nikmat itu dapat sebanding dengan nikmat di alam akhirat nanti? Tentu tidak! Dan tentu sangat konyol jika ada orang yang mempunyai sebuah keinginan untuk dapat keuntungan lebih di dunia dan keuntungan lebih di akhirat tanpa perjuangan karena Allah. Istilah kasarnya, nyari seneng di dunia (dengan melakukan maksiat dan hura hura) dan juga seneng di akhirat (masuk surga tanpa di hisab). Ini sebuah kebodohan yang nyata!

Seorang alim allamah dan waliyullah, sumber dari sebagian keturunan habaib yang mulia berjuluk Fakhrul Wujuud (Kebanggaan Dunia yang Ada ini), Assyaikh Abu Bakar bin Salim ‘alihi rohmatullahi Tabaaroka wa Ta’ala berkata:

“Dunia dan akhirat itu ibarat ibu dan anak perempuannya. Jika kita menikahi anaknya, maka haram bagi kita untuk menikahi ibunya. Dan jika kita menikahi ibunya, maka kita haram menikahi anak perempuannya tersebut!”

Nah, teman teman sekalian pilih yang mana? Pilihlah dengan bijak!🙂

Moga bermanfaat. Amiin

Wassalamu’alaikum wr. wb.
oleh Val Hasan

About Akhi Bahtiar

I'm a student in College of Information Management and Computer of Amikom Yogyakarta. Alumni of Islamic boarding zainul hasan genggong Probolinggo. now stayed at yogyakarta . very fond of web-based programming. familiar with programming languages ​​such as PHP,MySQL,Ajax JQuery and many others. addition to being a student also worked as an assistant lecturers in the course of advanced web programming and freelance web developer in elance.com ... our Motto : "life is to be beneficial"

Posted on 11 Februari 2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Antara Dunia dan Akhirat.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: