Tawaazun (Keseimbangan)

Manusia (An-Naas) dan Dienul Islam (agama Islam) kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah Allah. Mustahil Allah menciptakan Dienul Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah itu. Di dalam Al-Quran surah Ar-Ruum ayat 30, Allah berfirman yang terjemahannya sbb:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien yang hanif (Agama Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia dengan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memiliki naluri beragama (agama tauhid: Al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.

Sesuai dengan fitrah Allah itu, manusia memiliki 3 dimensi, yaitu Al-jasad, Al-‘Aqal, dan Ar-Ruh. Islam menghendaki ke tiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawaazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada Al-Quran Surat Ar-Rahman ayat 7 sampai 9.

Ke tiga dimensi ini membutuhkan makanan (santapan). Al-jasad memerlukan Al-ghiza Al-jasadi (santapan fisik/jasmani). Al-‘Aqal memerlukan Al-ghiza Al-‘Aqli (santapan akal/pikiran) dan Ar-Ruh membutuhkan Al-ghiza Ar-Ruhi (santapan ruhani). Rasa lapar dari Al-Jasad lebih mudah terdeteksi daripada rasa lapar Al-‘Aqal. Dan rasa lapar Al-‘Aqal lebih mudah terdeteksi dibandingkan dengan rasa lapar Ar-Ruh. Jadi rasa lapar Al-Jasad itu paling mudah terdeteksi, sedangkan rasa lapar Ar-Ruh itu paling sulit untuk diketahui.

1.Al-GHIZA AL-JASAADI (SANTAPAN FISIK/JASAD).

Adapun Al-ghiza Al-Jasadi (santapan fisik) itu terdiri dari Al-Tha’am (makanan padat), As-Syiraab (makanan cair), An-Naum (tidur), Ar-Riyadhah (olah raga), Az-Zawaj (sexual need, nikah) dan Al-Libas (pakaian).

Islam mengajarkan agar manusia memakan makanan yang halalan thayyiba (halal dan baik untuk kesehatan).  Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik…..(QS Al-Baqarah ayat 168). Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu……(QS Al-Baqarah ayat 172). Persyaratan halal saja belumlah cukup. Selain halal kita dianjurkan memakan makanan yang baik (yang memiliki nutrisi yang baik yang tidak akan menimbulkan mudharat terhadap kesehatan kita).

Sedangkan tentang An-Naum (istirahat, tidur), Allah menjelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Qashas mulai dari ayat 71 sampai 73. Dan Karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari)…..QS Al-Qashas ayat 73.

Sehubungan dengan Ar-Riyadhah (olahraga), Allah berfirman dalam surat Al-Anfaal ayat 60: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah ……Kekuatan fisik dalam bentuk kebugaran jasmani serta endurance yang tinggi sangat diperlukan untuk menghadapi musuh-musuh Allah.

Tentang Az-Zawaj (sexual need, nikah) Allah berfirman dalam Surat An-Nuur ayat 24: Dan kawinlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan..……Adapun hukum perkawinan ini dapat dilihat pada QS An-Nisaa’ ayat 22 sampai 25.

Kebutuhan akan pakaian (Al-Libas) Allah berfirman: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan….. (QS Al A’raaf ayat 31). Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik..….(QS Al-A’raaf ayat 26).

Kebutuhan fisik ini secara internal harus dipenuhi secara seimbang. Jangan sampai banyak makan kurang olah raga (gerak fisik). Atau kurang makan banyak tidur. Atau terlalu banyak olah raga sehingga kehilangan sexual desire sehingga hubungan suami isteri menjadi tidak harmonis. Atau mengurangi makan demi pakaian yang mahal/mewah dst. Pada dasarnya kebutuhan fisik ini harus dipenuhi dengan seimbang dan kita dilarang untuk berlebih-lebihan.

2. AL-GHIZA AL-‘AQLI (SANTAPAN AKAL).

Al-‘Aqal (akal) memerlukan santapan berupa Al-‘Ilm (ilmu). Al-Ghazali membedakan ‘ilmu ini kedalam 2 kelompok yaitu: Fardhu ‘Ain (wajib untuk semua orang) dan Fardhu Kifayah (wajib sampai ada orang yang menguasai ilmu tersebut). Jadi wajib kifayah ini artinya tidak semua orang wajib hukumnya untuk menguasai ilmu kedokteran, atau ilmu teknik, ilmu ekonomi dsb.

Yang termasuk kedalam kelompok fardhu ‘ain adalah Al-maabaadi Al-Islamiyah (Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Islam). Prinsip-prinsip dasar ajaran Islam itu adalah: Syahadatain, Ma’rifatullah (merupakan tujuan), Ma’rifatur-rasul (merupakan ikutan/teladan), Ma’rifatul Islam (merupakan jalan/path), Ma’rifatul Insan berupa risalatul insan (missi penciptaan manusia) dan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia).

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 138: Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. Shibghah Allah artinya celupan Allah (beriman kepada Allah yang tidak disertai kemusyrikan). Syahadatain ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad s.a.w.

Ma’rifatullah, berupa tujuan hidup kita hanyalah untuk Allah. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam… (QS Al An’aam ayat 162). Kita wajib memiliki pengetahuan bahwa seluruh perbuatan kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah semata.

Ma’rifatur-rasul, merupakan ikutan/suri tauladan yang baik. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik  bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah….(QS Al-Ahzaab ayat 21). Setiap muslim/muslimah harus memiliki pengetahuan bagaimana Rosulullah Muhammad s.a.w, melakukan shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya serta seluruh perilaku beliau untuk diteladani.

Ma’rifatul Islam, berupa jalan (path) untuk mencapai tujuan (ma’rifatullah). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sudah datang pengetahuan pada mereka, karena kedengkian yang ada diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. (QS Ali ‘Imran ayat 19). Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya (QS At-Taubah ayat 33). Wajib bagi setiap muslim/muslimah untuk mempelajari Al-Islam, karena hanya Islam-lah agama yang diridhai Allah. Karena itulah diperlukan suatu sistem kajian intensif, komprehensif dan berjamaah. Intensif berarti sedikit demi sedikit, tetapi mendalam, dan berkesinambungan, sedangkan komprehensif dimaksudkan tidak sepotong-sepotong ataupun parsial tetapi dipelajari secara keseluruhan, dimulai dari outline/kerangkanya terlebih dahulu, baru kemudian rinciannya sejalan dengan berjalannya waktu. Sedangkan berjamaah di sini agar mempelajari Islam dapat langsung dipraktekkan dan ada saling menasihati bila ada kekeliruan dan kemalasan.

Ma’rifatul Insaan, dibagi kedalam dua bagian, yaitu: risalatul insan dan wazifatul insan. Risalatul insan artinya misi penciptaan manusia yaitu hanya untuk menyembah Allah. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mangabdi kepada Allah….(QS Adz Dzaariyaat ayat 56). Sedangkan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia) adalah untuk dijadikan khalifah dimuka bumi…….Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi……(QS

Al-Baqarah ayat 30).

Sama halnya dengan santapan jasad, maka santapan akalpun secara internal harus seimbang. Jangan sampai ma’rifatullah saja tanpa ma’rifatur-rasul sehingga sembahyang, puasa, zakat, hidup dan mati dengan cara semaunya sendiri. Atau ma’rifatul Islam saja tanpa ma’rifatur-rasul, sehingga menjadi inkarus-sunnah. Atau wazifatul insan saja sehingga kerjanya setiap hari hanya shalat saja di masjid sampai keluarga terlantar dst.

3.AL-GHIZA AR-RUUHI (SANTAPAN ROHANI)

Karena laparnya Ar-ruuh ini susah terdeteksi, maka sering terjadi kelaparan ruh ini sudah sangat parah yaitu disaat terjadinya keguncangan spritual.

Adapun santapan ruh ini adalah zikir. Allah berfirman dalam Surat Thaha ayat 14: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Pada ayat ini dijelaskan bahwa shalat merupakan salah satu cara untuk zikrullah (mengingat Allah). Selanjutnya pada Surat Al-Anfaal ayat 2, Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal.

Ayat ini menjelaskan tingginya sensitifitas ruh orang yang beriman; hatinya akan gemetar bila mendengar sifat-sifat yang mengagungkan Allah dan imannya bertambah bila mendengar ayat-ayat Allah. Dalam Surat Ar Ra’d ayat 28 Allah berfirman:

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul-lisaani dan zikrul-qalbi, yaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati (kalbu). Dari ketiga ayat diatas, terlihat dengan jelas bahwa mengingat Allah (zikrullah) itu bisa dilakukan dengan shalat yang khusyu’, dengan mengingat sifat-sifat keagungan Allah, dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, secara lisan dan diikuti oleh qalbu (hati). Hasil yang diperoleh dari mengingat Allah ini adalah tathmainnul qulub (hati yang tenteram), yaitu hati yang bersyukur disaat menerima rahmat Allah dan hati yang bersabar disaat menghadapi musibah.

Ke tiga dimensi (Al-Jasad, Al-Aqal, Ar-Ruh) harus seimbang dalam pengertian harus diberi santapan secara seimbang. Jika kita hanya memberikan santapan fisik saja, tanpa santapan akal dan ruh, maka kita hanya memuaskan kehendak fisik/jasad, tapi serta spritualitas yang sangat kering, sehingga hatipun tidak tenteram. Begitu juga halnya jika terlalu berat pada pemberian santapan akal saja, tanpa memperhatikan fisik dan ruh, maka manusia itu ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tapi jasadnya sakit-sakitan dan hatipun tidak tenteram. Apalagi kalau ilmu yang diperoleh tanpa Al-maabaadi Al-Islamiyah (prinsip dasar ajaran Islam), manusia yang demikian tidak tahu tujuan hidup, tidak tahu siapa yang harus diteladani, tidak tahu apa yang harus dipedomani, serta tidak tahu apa misi dan fungsi manusia ini diciptakan.

Sebaliknya jika hanya dimensi Ruh saja yang diperhatikan, tanpa memberikan makanan fisik, dan akal berupa ilmu, terutama Al-maabaadi Al-Islamiyah, maka cara berzikirpun kehilangan pedoman sehingga menjadilah manusia-manusia yang hanya memuaskan kebutuhan ruh semata, sementara jasad dan akalnya memiliki ketidakseimbangan. Dan kondisi ini tentu akan menyalahi fithrah dari Allah SWT.

About Akhi Bahtiar

I'm a student in College of Information Management and Computer of Amikom Yogyakarta. Alumni of Islamic boarding zainul hasan genggong Probolinggo. now stayed at yogyakarta . very fond of web-based programming. familiar with programming languages ​​such as PHP,MySQL,Ajax JQuery and many others. addition to being a student also worked as an assistant lecturers in the course of advanced web programming and freelance web developer in elance.com ... our Motto : "life is to be beneficial"

Posted on 15 Januari 2011, in Agama Islam, Artikel Islam. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Tawaazun (Keseimbangan).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: