Menyapa Ahmadiyah; Sedikit dari Sekian Keragaman Iman Islam

Bentrok antar massa ormas dan warga penganut Ahmadiyah di Desa Manislor, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat menyusul tindakan penyegelan Masjid Ahmadiyah oleh aparat pemerintah Kabupaten Kuningan Senin (26/7) lalu, sekaligus menjadi bukti baru ketidak saktian Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri yang diterbitkan dua tahun lalu.

Melihat gejalanya dimana aksi kekerasan serupa selalu kambuh setiap jelang ramadhan, kasus saling serang antara massa ormas dengan penganut Ahmadiyah pekan kemarin sepertinya bukan kali terakhir. Apalagi dengan melihat kesan kekurang tegasan aparat selama ini, besar kemungkinan serangan demi serangan oleh massa kontra Ahmadiyah terhadap penganut sekte Al-Mirzaiyah ini akan terus berlanjut di hari-hari nanti, di kantong-kantong Ahmadiyah lainnya. Terkait ketidaktegasan ini tokoh ormas Islam Kuningan, Jawa Barat, Abdurahman Asegaf bahkan sempat menuding, merupakan salah satu alasan utama kenapa massa kontra Ahmadiyah terus bertindak pro aktif dengan mendatangi Masjid jemaah Ahmadiyah sehingga terletup bentrokan di Manislor.

Sekadar mengingatkan, setelah berdebat panjang soal polemik keberadaan Ahmadiyah di tengah-tengah masyarakat yang dinilai kian meresahkan, pada Juni 2008 lalu Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung menyepakati beberapa keputusan yang isinya mengikat terhadap para penganut ajaran Ahmadiyah. Isi keputusan yang kemudian dikenal dengan istilah SKB tersebut antara lain, memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam, agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran agama Islam pada umumnya, seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Poin keputusan yang berisi peringatan dan perintah ini sebenarnya sudah jelas. Apalagi kemudian dipertegas lagi pada pasal putusan berikutnya dengan memberikan ancaman sanksi sesuai aturan perundangan bagi siapa saja anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut.

Mengacu pada bunyi SKB ini, negara dalam hal ini pemerintah memang tidak secara tegas memerintahkan agar jemaah Ahmadiyah membubarkan diri. Peringatan dan perintah hanya untuk menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran umum agama Islam. Dari pasal ini, terjemahan komprominya adalah bahwa segala ajaran berikut aktifitas keagamaan jemaah Ahmadiyah tidak boleh disebarkan atau didakwahkan, terlebih menyangkut pengakuan Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodyani sebagai nabi baru mereka setelah Muhammad SAW.

Namun yang perlu digarisbawahi juga bagi masyarakat baik dalam kapasitas individu maupun tergabung dalam ormas yang kontra Ahmadiyah, SKB tiga menteri juga berisi poin lain yang mengatur, membatasi bagaimana sikap kita pada Ahmadiyah. Dalam poin ke-4 dan 5 dari enam poin SKB juga ditegaskan, pemerintah memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara untuk menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut Jemaah Ahmadiyah. Sebagai dasar eksekusinya pada poin ke-5, SKB ini juga mengancam akan memberikan sanksi hukum sesuai perundangan yang berlaku bagi siapa saja warga negara yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah tersebut.

Dengan kata lain, dalam konteks ini satu sisi keberadaan jemaah Ahmadiyah sudah diisolasi sedemikian rupa oleh negara, disisi lain masyarakat yang kontra Ahmadiyah juga tidak boleh sewenang-wenang. Sikap main hakim sendiri dengan mengusir atau menyerang warga komunitas Ahmadiyah yang dianggap melanggar ketentuan, sudah barang tentu juga harus berhadapan dengan hukum.

Sesembahan Ahmadiyah
Dalam hal sesembahan atau ketauhidan, jemaah Ahmadiyah sebenarnya juga mengakui Allah SWT sebagai al-kuds yang esa. Ini tentu sama dengan kepercayaan umat Islam pada umumnya bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah (QS Al-Ikhlas). Tak ada gesekan dalam konteks ini.

Beberapa hal yang membedakan yang mencolok barangkali adalah pengakuannya akan keberadaan Nabi Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodyani sebagai nabi baru mereka setelah Muhammad SAW (alislam.org).  Mengacu pada rukun iman sebagaimana diajarkan mayoritas muslim sunni, kesempurnaan menjalankan Islam adalah dengan mengimani adanya Allah SWT, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Nabi dan Rasul-Nya, dan terakhir mengimani hari kiamat. Dalam bab rukun iman ini, nama Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodyani sama sekali tidak dikenal dalam sejarah kenabian. Disinilah diantara letak perbedaan keimanan umat Islam dan Ahmadiyah.

Dalam hal lain, Ahmadiyah juga termasuk yang meyakini bahwa khilafah atau tampuk kepemimpinan islam harus terus ada dan dipertahankan hingga hari kiamat tiba (Syafi R Batuah,1980:8). Pada konteks ini diluar Ahmadiyah juga banyak kelompok muslim lain di Indonesia yang bahkan lebih terang-terangan memperjuangkan khilafah. Jadi, perbedaan pemahaman akan konsep khilafah masih diberi ruang dan bisa diperdebatkan.

Sebagai bentuk konsistensi atas keyakinan ini, pasca kepemimpinan Mirza Ghulam Ahmad Al-Qodyani (sekaligus sebagai pendiri Ahmadiyah) yang meninggal tahun 1908 di Lahore, khilafah Ahmadiyah kemudian dilanjutkan oleh Hadhrat Hafiz H. Hakim Nuruddin selaku Khalifah pertama hingga meninggal tahun 1914. Selanjutnya dipilih lagi Khalifah II Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad yang memerintah hingga tahun 1965. Lalu dilanjut lagi oleh Khalifah III Hadhrat Hafiz Nasir Ahmad hingga tahun 1982. Terakhir Khalifah IV dipegang oleh Hadhrat Mirza Taher Ahmad yang menjabat hingga sekarang.

Sama halnya dengan sejarah khilafah di zaman para sahabat pasca Nabi Muhammad SAW, khilafah pasca Mirza Ghulam juga saling terbelah pemahaman. Perpecahan kongsi ini dimulai pada periode Khalifah 1 Hadhrat H Hakim Nuruddin. Sepeninggal khalifah I ini, pengikut Ahmadiyah terbagi dua, yakni Ahmadiyah Qodian dan Ahmadiyah Lahore.

Sebab utama perpecahan terjadi karena perbedaan pandangan. Kalangan Ahmadiyah Qodian berpendapat bahwa perpecahan jemaat Ahmadiyah karena ketidak setujuan sementara tokoh Ahmadiyah terhadap pengangkatan Khalifah II, yaitu Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Beberapa tokoh yang tidak setuju diantaranya Mualvi Muhammad Ali dan Khawajah Kamaluddin. Kelompok Ahmadiyah Qodian ini lebih menghendakiMuhammad Ali sebagai Khalifah II. Namun karena dalam pemilihan khalifah Muhammad Ali hanya memperoleh dukungan suara sedikit, mereka kalah dan akhirnya memisahkan diri dan pindah ke Lahore. Disana, mereka membentuk gerakan sendiri dibawah pimpinan Mualvi Muhammad Ali, yang diberi nama Anjuman Ishaat Islam.

Sementara kalangan Ahmadiyah Lahore berpandangan bahwa perpecahan Jemaat Ahmadiyah adalah karena perbedaan pendapat tentang ketokohan Mirza Ghulam Ahmad. Dalam pandangan Ahmadiyah Lahore, Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid (Pembaharu) dan bukan Nabi sebagaimana diyakini jemaat Ahmadiyah Qodian. Namun meski demikian seperti dikatakan Syafi R Batuah, bahwa sebelum tahun 1914 keyakinan Muhamad Ali dan Khawajah Kamaluddin sama dengan orang-orang Ahmadiyah lain tentang kenabian dan kerasulan Mirza Ghulam Ahmad. Keyakinan bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi baru muncul setelah Khilafa Hadhrat Hafiz H. Hakim Nuruddin meninggal pada 1914. Jika pemahaman sebagaimana dianut kelompok Ahmadiyah kedua ini yang dikembangkan di Indonesia, dimana Mirza Ghulam Ahmad adalah pembaharu dan bukan nabi, tentu selesai masalah. Karena posisinya sebagai pembaharu tentu sama saja dengan tokoh-tokoh yang dihormati lainnya dalam khasanah islam.

Amini Perbedaan; Fastabikul Khairat
Mengaji dan mengikuti perkembangan demi perkembangan kasus Ahmadiyah ini, agaknya jalan keluar yang paling tepat bukanlah kekerasan. Dalam hal ini saya percaya, islam, agama yang dianut oleh sebagian besar massa kontra Ahmadiyah juga tidak mengajarkan kekerasan. Demikian juga dengan Ahmadiyah. Karena pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan hal itu.

Ada baiknya barangkali kalau kita sama-sama kembali belajar ilmu lama. Dulu, para ulama’ sepuh kita selalu mengajarkan, apabila menemui suatu masalah terutama itu yang berkait dengan selisih paham mengenai agama, maka berijtihadlah. Dan apabila masalah itu belum juga terpecahkan, maka kembalikanlah pada Allah SWT, Tuhanmu yang Maha mengetahui dan Maha memecahkan setiap masalah.
Mencoba mencermati kasus bentrok massa ormas dan warga Ahmadiyah di Desa Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat dengan perspektif kepala dingin, saya berpendapat, secara substansial ajaran Ahmadiyah memang memiliki poin yang berbeda yang menyimpang dari ajaran Islam yang lazim diterima oleh masyarakat Indonesia. Ini meski tidak menutup mata ada juga yang sama dengan ajaran Islam yang juga lazim diterima oleh masyarakat Indonesia.

Apapaun perbedaan dan persamaannya, terkait hal ini Negara sudah memberikan ketentuan atas dasar musyawarah dan pertimbangan-pertimbangan terbaik, yang tentunya setelah mendengar aspirasi, pendapat, dan keinginan semua pihak. Ketentuan sebagaimana diulas kembali diatas, berlaku untuk warga penganut Ahmadiyah, untuk masyarakat secara umum, dan untuk pemerintah daerah dimana berkewajiban memberikan pendidikan dan pengarahan keagamaan secara sistematis dan berkala. Inilah bentuk ijtihad bersama yang diterjemahkan dalam wujud intervensi Negara.

Dengan asumsi SKB tiga menteri ini dipatuhi oleh semua pihak dan dijalankan dengan tegas dan konsisten oleh pemerintah dalam hal ini aparat penegak hukum, sebenarnya tugas kita warga beragama tinggal satu saja, yakni fastabikul khairat;– berlomba-lomba dalam mencari kemuliaan akhirat–. Bukankah yang kita sembah yang menciptakan bumi dan segala isinya inilah yang menentukan seseorang itu mulia atau tidak? Terus terang kalau saya pribadi merasa malu dan tidak cukup memiliki muka untuk menyatakan bahwa mereka yang Ahmadiyah itu beragama dengan tidak benar, kafir, dan berbagai justifikasi miring lainnya.

Bicara soal kasus Ahmadiyah ini, saya teringat cerita Syaikh Kiai Romli Tamim Rejoso, Jombang, Jawa Timur dengan delapan gedung bioskop di depan kompleks pesantrennya (Tiga Guru Sufi,2010:115). Kiai Romli yang merupakan tokoh sufi sentral tanah Jawa ini merasa terganggu dengan keberadaan gedung bioskop tersebut. Namun apa boleh buat, meski berdiri tepat di depan kompleks pesantren yang sudah lebih lama didirikannya, sang Kiai rupanya tidak bisa berbuat banyak untuk memprotes. Sebab, gedung tersebut dibangun diatas tanah yang sah yang dipunyai oleh sang pemilik bioskop.

Perasaan terganggu makin menjadi keresahan yang sangat setelah Kiai Romli mengetahui ternyata tak lama berselang gedung bioskop tersebut sudah siap untuk memutar film perdananya. Mengiringi pemutaran biskop perdana itu, poster-poster artis setengah telanjang pun menghiasi dinding luar gedung bioskop yang berada persis di depan kompleks pesantren.

Lalu apa yang dilakukan Kiai Romli? Abuya tidak protes dengan mengerahkan para santrinya ke area gedung bioskop. Dia lebih menghitung kalau itu dilakukan justru akan menciptakan rasa takut banyak orang, baik para pengunjung bioskop maupun warga masyarakat sekitarnya. Sang kiai lantas memilih mengajak para santrinya bermunajat, mengadukan masalah yang dihadapi langsung kepada Allah Azza wa Jalla. Sang mursyid lantas memimpin para santri shalat dua rakaat dengan niat li daf’il balaya (menolak fitnah dan bencana-bencana). Alhasil tak sampai berapa pekan kemudian, pemilik gedung bioskop yang masih keturunan Tionghoa mengucap dua kalimat syahadat dihadapan Syaikh Kiai Romli Tamim.
Penggalan cerita ini memang lebih terasa seperti sebuah perjalanan sufistik seorang kiai. Tapi poin yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa sebagai umat beragama kita memiliki dua kewajiban spiritual yang harus berimbang, yakni bagaimana membangun diri untuk shaleh secara pribadi dan secara sosial.

Sebagai muslim yang dikenalkan islam ala sunni sejak lahir, syukur Alhamdulillah saya sedikit banyak juga diberi kesempatan mengenal islam dalam wajah berbeda yang begitu ragamnya di tanah air. Mulai dari islam-hindu di Tengger, Islam kejawen, agama adat samin, hingga macam-macam tarikat dalam islam, semua ada di Indonesia. Ahmadiyah, di mata saya hanyalah sebagian kecil dari sekian keragaman kehidupan beragama umat dari sebuah agama yang bernama islam.

DIDIK SUYUTHI
*Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Pemikiran PB PMII

Artikel Ini Di Ambil Dari PB PMII

About Akhi Bahtiar

I'm a student in College of Information Management and Computer of Amikom Yogyakarta. Alumni of Islamic boarding zainul hasan genggong Probolinggo. now stayed at yogyakarta . very fond of web-based programming. familiar with programming languages ​​such as PHP,MySQL,Ajax JQuery and many others. addition to being a student also worked as an assistant lecturers in the course of advanced web programming and freelance web developer in elance.com ... our Motto : "life is to be beneficial"

Posted on 15 Januari 2011, in Agama Islam. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Menyapa Ahmadiyah; Sedikit dari Sekian Keragaman Iman Islam.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: