Monthly Archives: Januari 2011

Koleksi Foto Para Masayikh Dan Ulama’

Alm. Al-arif billah KH.Hasan Saifurridzal

Alm. Al-arif billah KH. Damanhuri Romli

Masyayikh Genggong

Alm. Al-arif billah KH. Moh Hasan

Alm. Nyai Hj. Himami Hafshawaty

Alm Al-Arif Billah KH. Hasan Saifourridzal

Alm Al-Arif Billah KH. Moh Hasan

Alm. Al-arif billah KH. Damanhuri Romli

Alm KH.HUSNAN

Alm. Al Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki

Iklan

KUMPULAN MAQOLAH DAN KATA MUTIARA DARI ROSULULLAH SAW DAN SAHABAT-SAHABAT

Barangsiapa ridho terhadap takdir Allah maka takdir itu tetap berlaku atasnya dan ia mendapatkan pahalanya.Dan barangsiapa yang tidak ridho terhadap takdir-Nya, maka takdir itu pun tetap berlaku atasnya dan terhapuslah pahalanya.

(Ali bin Abi Thalib)

Kekayaan yang paling berharga adalah akal. Kefakiran yang paling besar adalah kebodohan. Sesuatu yang paling keji adalah sifat ujub (bangga diri). Dan kemuliaan yang paling tinggi adalah akhlak yang mulia.

(Ali bin Abi Thalib)

Wahai saudaraku, tinggikan dan muliakan saja perintah Allah, dimana saja. Maka Allah pasti akan menjadikanmu mulia dimana saja.(Hasan Al Basri)

Barangsiapa masuk ke kubur tanpa membawa bekal, tak ubahnya menyeberangi lautan tanpa perahu.

(Abu Bakar Ash Shidiq)

Barangsiapa yang takut kepada sesuatu, ia akan menjauhinya. Tapi barangsiapa yang takut kepada Allah ia akan datang mendekati-Nya.

(Abu Qosim Al Hakim)

Anak Imam Ahmad bin Hanbal yang bernama Abdullah berkata pada ayahnya, “Pak berilah saya wasiat.” Imam Ahmad menjawab, “Nak, berniatlah yang baik, engkau akan tetap baik selama berniat baik.”

Pelajari, pikirkan dan manfaatkanlah ilmu. Janganlah kalian mencarinya agar kalian tampak hebat. Karena kalau umur kalian panjang. dikhawatirkan ilmu akan dijadikan hiasan sebagaimana seseorang berhias dengan pakaiannya.

(Hubaib bin Ubaid Ar Rahabi)

Cukuplah seseorang dikatakan berilmu kalau ia merasa takut kepada Allah. Cukuplah seseorang dikatakan bodoh kalau ia merasa angkuh dengan ilmunya.

(Masyruq)

Tidak ada kebanggaan, kecuali bagi orang-orang yang berilmu karena mereka selalu dalam petunjuk. Bagi orang-orang yang mencari bimbingan dialah pemandu. Nilai seseorang ditentukan oleh kebajikan yang diperbuatnya.Sedang orang-orang yang bodoh adalah musuh bagi orang-orang yang berilmu. Kejarlah kemenangan dengan ilmu, niscaya engkau akan hidup selamanya. Manusia itu mati, sedang ahli-ahli ilmu pengetahuan itulah yang hidup sejati.

(Ali bin Abi Thalib)

Orang tidak mungkin mencapai tingkat muttaqin (taqwa) apabila tidak berilmu. Apa guna ilmu apabila tidak dibuktikan dalam perbuatan.

(Abu Darda’)

Tercapailah kesempurnaan pemuda dengan ilmunya, bukan dengan pangkatnya. Jabatan seorang ahli ilmu pengetahuan adalah setinggi-tinggi jabatan. Mereka mewarisi ilmu nabi-nabi, sehingga mendapat petunjuklah dengan mereka orang yang mengembara dalam kegelapan dan meraba-raba fatamorgana.

(Syaikh Imaduddin As Sakari)

Bumi tidak akan pernah kekenyangan karena hujan. Dan penuntut ilmu sejati tidak akan pernah merasa kenyang dari mencari ilmu.

(Zaid Rafi’)

Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rosulullah S.A. W bersabda:” Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, sebab prasangka buruk adalah ucapan yang paling bohong”.

{Muttafaq Alaih}

Rasulullah S.A.W bersabda:”Orang kuat itu bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah”.

(Muttafaq Alaih)

Aku tak tahu mengapa ulama kalian pergi berlalu, sedang orang-orang jahil (bodoh) kalian tidak mau mempelajari ilmu? Ketahuilah bahwa guru yang baik dan muridnya serupa pahalanya. Dan tak ada lagi kebaikan yang lebih utama dari kebaikan mereka.

(Abu Darda’)

Celakalah kalian! Tuntutlah ilmu! sesungguhnya saya khawatir kalau ilmu akan berpaling dari kalian menuju orang lain, lalu kalian akan terhina. Tuntutlah ilmu! Sebab ia merupakan kemuliaan di dunia serta di akhirat.

(Sufyan Ats Tsauri)

Selain nikmat Islam , seseorang tidak diberi nikmat yang lebih baik dari seorang sahabat yang sholih. Maka jika seorang di antara kalian melihat kasih sayang dari saudaranya, pertahankanlah itu.

(Umar bin Khatthab)

Jika engkau mendapatkan kekeringan dari saudaramu, maka itu adalah karena dosa yang engkau lakukan. Maka bertaubatlah kepada Allah. Dan jika engkau mendapati dari mereka kecintaan yang bertambah maka itu adalah kerena taat yang kau lakukan, maka bersyukurlah atasnya.

(Abu Bakar Mazani)

Dari Mahmud Ibnu Labid R.A bahwa Rasululah S.A.W bersabda : “Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpamu ialah syirik terkecil: yaitu riya’ “. Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.

Janganlah kamu bersahabat dengan orang-orang fasiq meski hanya untuk mengenal kejahatan mereka. Hindari musuhmu dan waspadalah terhadap temanmu sekalipun, kecuali orang yang memegang amanah.Sementara orang yang memegang amanah hanyalah orang yang takut kepada Allah dan tunduk untuk ketaatan.Lalu mintalah pemeliharaan dari Allah untuk terhindar dari maksiat dan bermusyawarahlah dengan orang-orang yang bertaqwa kepada Allah.

(Umar bin Khathtab)

Jangan temani tiga jenis manusia karena Allah murka kepada mereka:1. Jangan temani orang yang menentang Allah karena dia akan memutuskan hubunganmu dengan-Nya.2. Jangan temani orang yang durhaka kepada orang tua, karena dia orang yang terlaknat.3. Jangan temani pendusta, karena dia akan mendekatkan yang jauh kepadamu dan menjauhkan yang dekat denganmu.

(Ja’far Ash Shadiq)

Hendaknya engkau mencari sahabat yang jujur, niscaya engkau akan hidup aman dalam lindungannya. Mereka merupakan hiasan pada saat gembira dan hiburan saat berduka.Letakan urusan saudaramu pada tempat terbaik, sampai dia datang kepadamu untuk mengambil apa yang dititipkan kepadamu.Janganlah bersahabat dengan orang keji, karena engkau bisa belajar kefasikan. Jangan engkau bocorkan rahasiamu kepadanya.Dan mintalah pendapat dalam menghadapi persoalan kepada sahabat yang takut pada Allah.

(Umar bin Khatthab)

Perbanyaklah kawan sesanggup-sanggupmu karena mereka itulah pembela dan penolong bila engkau memerlukan bantuan. Seribu teman dan sahabat belum dapat disebut banyak. Tetapi musuh walaupun seorang itu sudah dianggap sangat banyak.

(Ali bin Abi Thalib)

Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rosulullah S.A.W bersabda :

“Liihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu”.

(Muttafaq Alaih)

Pergaulilah orang mukmin dengan hatimu, dan pergaulilah orang yang rusak dengan akhlaqmu.

Politik Islam – Seri Pemikiran Politik Hasan Al-Banna: Lima Babak Kebangkitan Umat

“Kebangkitan suatu bangsa di dunia selalu bermula dari kelemahan. Sesuatu yang sering membuat orang percaya bahwa kemajuan yang mereka capai kemudian adalah sebentuk kemustahilan. Tapi, di balik anggapan kemustahilan itu, sejarah sesungguhnya telah mengajarkan kepada kita bahwa kesabaran, keteguhan, kearifan, dan ketenangan dalam melangkah telah mengantarkan bangsa-bangsa lemah itu merangkak dari ketidakberdayaan menuju kejayaan.” (Hasan Al-Banna; Risalah Ila Ayyu Syain Nad u An-Naas.)

Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, kebangkitan dan kemajuan adalah sebuah keniscayaan yang mesti diyakini. Namun, kelemahan yang sedang mengungkung suatu bangsa seringkali memicu keputusasaan sehingga bayang-bayang ketidakpastian dan kemustahilan menjadi begitu kuat. Realitas kejiwaan masyarakat inilah yang ingin didobrak oleh Hasan Al-Banna, dengan salah satu ungkapannya: “Inna haqaiqa al-yaumi hiya ahlamu al-amsi, wa ahlama al-yaumi haqaiqu al-ghadi (Sesungguhnya kenyataan hari ini adalah mimpi kemarin, dan mimpi hari ini akan menjadi kenyataan esok hari).”
Di atas keyakinan ini, Hasan Al-Banna menyodorkan perpektif baru dalam menatap kebangkitan. Bahwa, kehancuran material adalah indikasi fenomenalogis yang zhahir dari kelemahan suatu bangsa, sementara akar penyebab kelemahan yang sebenarnya ada pada kehancuran jiwa masyarakatnya. Ini yang secara kuat dicemaskan oleh Abul Hasan An-Nadwi dengan ucapannya, “Kemanusiaan sedang ada dalam sakratul maut.” (Abul Hasan An-Nadwi, Madza Khasira al-Alam bi Inkhithathi al-Muslimin , 1969). Bahkan, kecemasan dunia modern yang digjaya seperti Amerika misalnya, juga terletak di sini. Laurence Gould pernah mengingatkan publik Amerika, “Saya tidak yakin bahaya terbesar yang mengancam masa depan kita adalah bom nuklir. Peradaban AS hancur ketika tekad mempertahankan kehormatan dan nilai-nilai moral dalam hati nurani warga kita telah mati.” (Hamilton Howze, The Tragic Descent: America in 2020 , 1992).
Dari pemahaman inilah, Hasan Al-Banna menyimpulkan bahwa pilar kekuatan utama untuk bangkit adalah kesabaran (ash-shabru), keteguhan (ats-tsabat), kearifan (al-hikmah), dan ketenangan (al-anat) yang kesemuanya menggambarkan kekuatan kejiwaan (al-quwwah an-nafsiyah) suatu bangsa. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi kejiwaannya஦quot; (QS. 13:11)
Transisi politik merupakan titik-berangkat (muntholaq) untuk membangun kembali umat. Kepada para pelaku perubahan (anashir at-taghyir), Hasan Al-Banna mengingatkan dua pandangan dasar (an-nadhoriyah al-asasiyah) yang mesti dipegang teguh. Pertama, sekalipun jalan ini sangat panjang dan berliku, tetapi tidak ada pilihan lain selain ini. Kedua, bahwa seorang pekerja pertama kali harus bekerja menunaikan kewajibannya, baru kemudian boleh mengharap hasil kerjanya.
Dalam proses pembangunan kembali umat, Hasan Al-Banna menyimpulkan adanya lima babak yang akan dilalui. Kesimpulan ini berangkat dari analisa sejarah perjalanan bangsa-bangsa dan upaya memahami arahan-arahan Rabbani (taujihat rabbaniyah). Apa kelima babakan itu?
1. Kelemahan (adh-dho fu).
Faktor utama kelemahan adalah terjadinya kesewenang-wenangan rezim kekuasaan yang tiranik. Kekuasaan inilah yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan memberangus potensi-potensi kebaikannya dengan dalih kepentingan kekuasaan. “Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, membunuh anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang yang membuat kerusakan.” (QS. 28:4) Itulah sebabnya tujuan pertama transisi politik menurut Al-Banna adalah membebaskan umat dari belenggu penindasan dalam kehidupan politik.
2. Kepemimpinan (az-zuaamah).
Sejarah perubahan menunjukkan bahwa upaya bangkit kembali dari kehancuran membutuhkan seorang pemimpin yang kuat. Kepemimpinan ini mesti muncul pada dua wilayah, yaitu pemimpin di tengah-tengah masyarakat (az-zuaamah ad-da wiyah) yang menyeru kepada kebaikan dan pemimpin pemerintahan (az-zuaamah as-siyasiyah) yang sejatinya muncul atau menjadi bagian dari mata rantai barisan penyeru kebaikan itu. “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi஦quot; (QS. 24:55). Ini artinya kekuatan-kekuatan Islam mesti mempersiapkan diri secara sistematis, sehingga masa transisi politik menjadi kesempatan untuk meneguhkan kepemimpinan dakwah dan untuk meraih kepemimpinan politik. Inilah tantangan sekaligus rintangan terberat kaum muslimin pada hari ini.
3. Pertarungan (ash-shiraa u)
Ketika suatu bangsa memasuki masa transisi politik, Al-Banna mengingatkan akan muncul dan maraknya berbagai kekuatan ideologis yang lengkap dengan tawaran sistem dan para penyerunya. Akan terjadi kompetisi terbuka untuk menanamkan pengaruh, meraih dukungan dan memperebutkan kekuasaan.
Ada dua karakter dasar ideologi-ideologi kuffar. Pertama, secara hakiki ia berlawanan dengan ideologi Islam. Dan kedua, untuk menjamin eksistensinya di muka bumi, ideologi-ideologi kuffar itu akan berupaya menghancurkan ideologi Islam. Pertarungan terberat adalah pada upaya untuk membebaskan diri dari mentalitas, sikap, perilaku dan budaya yang sudah terkooptasi oleh ideologi materialisme-sekuler. Pertarungan ini tidak bisa dimenangkan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan bangunan keimanan baru yang memantulkan izzah (harga diri) umat di hadapan peradaban-peradaban kuffar.
4. Iman (Al-Iman)
Pertarungan ideologi di fase transisi menuju kebangkitan adalah masa-masa ujian berat bagi umat. Pertarungan akan memunculkan dua golongan manusia. Pertama, mereka yang tidak istiqamah dengan cita-cita Islam dan menggadaikan perjuangannya demi keuntungan-keuntungan material. Perjuangan bagi mereka adalah bagaimana mengumpulkan sebanyak-banyaknya perhiasan dunia sesuatu yang tidak mereka miliki sebelumnya. Golongan kedua, adalah mereka yang istiqamah dan iltizam dengan garis dan cita-cita perjuangan. Besarnya kekuatan musuh justru menambah keimanan mereka dan semakin mendekatkan diri mereka kepada Allah. Inilah golongan yang sedikit, tapi dijanjikan kemenangan oleh Allah. Proses kebangkitan umat tidak akan berjalan tanpa keberadaan mereka; orang-orang yang akan menorehkan garis sejarah panjang perjuangan yang diliputi berbagai keistimewaan dan keajaiban.
5. Pertolongan Allah (Al-Intishar)
Inilah hakikat kemenangan bagi umat, yaitu ketika Allah swt. telah menurunkan pertolongannya untuk mencapai kemenangan sejati. Kemenangan tidak semata diukur oleh terkalahkannya musuh. Tetapi, kemenangan adalah ketika tangan-tangan Allah ikut bersama kita menghancurkan seluruh kekuatan musuh. Inilah awal tumbuhnya kehidupan baru di mana Allah akan menerangi dengan cahayaNya dan Allah akan menaungi kehidupan umat dengan Keperkasaan dan Kasih-sayangNya. Di sinilah pembalikan keadaan (tabdil) dalam kehidupan akan terjadi. Kemakmuran, keamanan, kedamaian dan keadilan akan menjadi nikmat yang bisa dimiliki setiap makhluk yang mendiami negeri itu. “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang besar.” (QS. Al-Fath: 1-3)

 

dikutip dari ebook by Mahfudz Siddiq, Direktur SIDIK Foundation

Wasiat Rosulullah SAW (dari sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a)

Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah S.a.w. Diantara isi percakapan tersebut adalah wasiat beliau kepadanya. Berikut petikannya ;

Aku berkata kepada Nabi S.a.w, “Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku.” Beliau bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan.” “Ya Rasulullah, tambahkanlah.” pintaku.

Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit.
Ya Rasulullah, tambahkanlah.” kataku.
Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah.
Lagi ya Rasulullah.
Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku.
Lagi ya Rasulullah.
Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka.
Tambahilah lagi.
Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya.
Tambahlah lagi untukku.
Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui).

Kemudian beliau memukulkan tangannya kedadaku seraya bersabda,”Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara` sebagaimana orang yang menahan diri (dari meminta), tidaklah disebut menghitung diri sebagaimana orang yang baik akhlaqnya.

Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah S.a.w kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau. Wallahu A`lam.

dikutip dari ebook Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

 

100 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman

1. Bersyukur apabila mendapat nikmat;
2. Sabar apabila mendapat kesulitan;
3. Tawakal apabila mempunyai rencana/program;
4. Ikhlas dalam segala amal perbuatan;
5. Jangan membiarkan  hati larut dalam kesedihan;
6. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan;
7. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan;
8. Jangan usil dengan kekayaan orang;
9. Jangan hasud dan iri atas kesuksesan orang;
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksesan;
11. Jangan tamak kepada harta;
12. Jangan terlalu ambisius akan sesuatu kedudukan;
13. Jangan hancur karena kezaliman;
14. Jangan goyah karena fitnah;
15. Jangan bekeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri;
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram;
17. Jangan sakiti ayah dan ibu;
18. jangan usir orang yang meminta-minta;
19. Jangan sakiti anak yatim;
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar;
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil;
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid);
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu;
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah dan di masjid;
25. Biasakan shalat malam;
26. Perbanyak dzikir dan do’a kepada Allah;
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat;
28. Sayangi dan santuni fakir miskin;
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah;
30. Jangan marah berlebih-lebihan;
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan;
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah;
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran;
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila
karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi;
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syetan;
36. Jangan percaya ramalan manusia;
37. Jangan terlampau takut miskin;
38. Hormatilah setiap orang;
39. Jangan terlampau takut kepada manusia;
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala;
41. Bersihkan harta dari hak-hak orang lain;
42. Berlakulah adil dalam segala urusan;
43. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah;
44. Bersihkan rumah dari patung-patung berhala;
45. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran;
46. Perbanyak silaturahmi;
47. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam;
48. Bicaralah secukupnya;
49. Beristri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya;
50. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu;
51. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur;
52. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin;
53. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga;
54. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan;
55. Hormatilah kepada guru dan ulama;
56. Sering-sering bershalawat kepada nabi;
57. Cintai keluarga Nabi saw;
58. Jangan terlalu banyak hutang;
59. Jangan terlampau mudah berjanji;
60. Selalu ingat akan saat kematian dan sadar bahwa kehidupan
dunia adalah kehidupan sementara;
61. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat
seperti mengobrol yang tidak berguna;
62. Bergaullah dengan orang-orang shaleh;
63. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar;
64. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu;
65. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita;
66. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan
dengan kejahatan lagi;
67. Jangan membenci seseorang karena paham dan pendirian;
68. Jangan benci kepada orang yang membenci kita;
69. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuai pilihan;
70. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan;
71. Jangan melukai hati orang lain;
72. Jangan membiasakan berkata dusta;
73. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian;
74. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab;
75. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan;
76. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita;
77. Jangan membuka aib orang lain;
78. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih

berprestasi dari kita;                                              
79. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana;
80. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan;
81. Jangan minder karena miskin dan jangan sombong karena kaya;
82. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama, bangsa dan negara;
83. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain;
84. jangan membuat orang lain menderita dan sengsara;
85. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa;
86. Hargai prestasi dan pemberian orang;
87. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan;
88. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan;
89. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan

kondisi diri kita;
90. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisik atau mental kita  menjadi

terganggu;
91. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana;
92. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai- pandailah untuk

melupakan jasa kita;
93. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan

jangan  berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain
terhina;
94. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut
teman kita, sebelum dicek kebenarannya;
95. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban;
96. Sambutlah uluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban
dan keramahan dan tidak berlebihan;
97. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang di luar
kemampuan diri;
98. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tantangan.
Jangan lari dari kenyataan kehidupan;
99. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan
setiap kejahatan akan melahirkan kerusakan;
100. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya
dengan memiskinkan orang;

dikutip dari ebook Tarbiyah Islamiyah

40 KEWAJIBAN SEORANG MUSLIM (SYEKH IMAM HASAN AL-BANNA)

  1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah  tidak kurang dari 1 juz. Usahakan untuk mengkhatamkan Al Quran dalam waktu tidak lebih sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.
  2. Hendaklah engkau membaca  Al Quran dengan baik, memperhatikan dengan seksama, dan merenungkan artinya.
  3. Hendaklah engkau menkaju Sirah Nabi dan sejarah para generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia. Buku yang dirasa mencukupi kebutuhan ini minimal adalah buku Hummatul Islam. Hendaklah engkau banyak membaca hadits Rasulullah SAW, minimal hafal empat puluh hadits:ditekankan untuk menghapal Al-Arbain An-Nawawi. Hendaklah engkau juga mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang fiqih.
  4. Hendaklah engkau bersegera melakukan general check up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenaimu. Disamping itu perhatikanlah factor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah factor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.”
  5. Hendaklah engkau menjauhi sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.
  6. Hendaklah engkau perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat bekerja, karena agama ini dibangun atas dasar kebersihan.
  7. Hendaklah engkau jujur dalam berkata dan jangan sekali-sekali berdusta.
  8. Hendaklah engkau menepati janji:janganlah mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.
  9. Hendaklah engkau menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun.
  10. Hendaklah engkau senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah keseriusan itu menghalangimu dari canda yang benar, senyum, dan tawa.
  11. Hendaklah engkau memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka terhadap kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Hendaklah  engkau juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taklid, dan tak terlalu berlunak hati. Hendaklah engkau jugaa menuntu-dari orang lain-yang lebih randah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.
  12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari berbuat kebaikan, janganlah mata keridhaan engkau pejamkan dari perilaku buruk, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengkuan jasa baik, dan hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu dan merugikan orang yang paling dekat denganmu.
  13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras dan terlatih dalam aktivitas sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik. Hendaklah engkau juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebajikan.”
  14. Hendaklah engkau berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manusia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan dengan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat bagi orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, minta izin jika masuk maupun keluar rumah, dll.
  15. Hendaklah engkau pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau membangun perpustakaan khusus, seberapapun ukurannya. Konsentrasilah terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis, dan kkuasailah persoalan Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah.
  16. Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun engkau seorang kaya. Utamakanlah proyek yang mandiri, betapapun kecilnya, dan cukuplah dengan apa yang ada pada dirimu, betapapun tingginya kapasitas keilmuanmu.
  17. Janganlah engkau terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sesempit-sempit pintu rezeki, namun jangan pula engkau tolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah engkau melepasnya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas dakwahmu.
  18. Hendaklah engkau perhatikan tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kualitasnya), jangan menipu, tepatilah kesepakatan.
  19. Hendaklah engkau penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa dikurangi dan dilebihkan, dan janganlah menunda-ninda pekerjaan.
  20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari judi dengan segalam macam bentuknya, apapun maksud dibaliknya. Hendaklah engkau menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan beasar yang ada dibaliknya.
  21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitasmu dan sucikanlah ia sama sekali dari riba.
  22. Hendaklah engkau memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek ekonomi Islam. Engkau pun hendaklah menjaga setiap keping mata uang agar tidak jatuh ke tangan orang non-Islam dalam keadaan bagaimanapun. Janganlah makanan dan berpakaian kecuali produk negri Islammu sendiri.
  23. Hendaklah engkau memiliki kontribusi finansial dalam dakwah, engkau tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun kecil penghasilanmu.
  24. Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan pada masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan.
  25. Hendaklah engkau bekerja-semampu yang engkau lakukan-untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupanmu. Misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, prabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara datang dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaklah engkau menjaga sunah dalam setiap aktivitas tersebut.
  26. Hendaklah engkau memboikot peradilan setempat atau seluruh peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah, dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrahmu secara total.
  27. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunah, seperti shalat malam, puasa tiga hari-minimal-setiap bulan, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.
  28. Hendaklah engkau bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di sebagian besar waktumu.
  29. Hendaklah engkau melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakanlah untuk senantiasa berjamaah di masjid jika itu mungkin dilakukan.
  30. Hendaklah engkau berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika engkau mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika engkau telah mampu.
  31. Hendaklah engkau senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu kapan saja kesempatan itu tiba.
  32. Hendaklah engkau senantiasa meperbarui taubat dan istighfarmu. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil , apalagi dosa besar. Sediakanlah-untuk dirimu-beberapa saat sebelum tidur untuk menginstropeksi diri terhadap apa-apa yang telah engkau lakukan yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktumu, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah engkau pergunakan dia -sedikit pun- tanpa guna, janganlah engkau ceroboh dalam hal-hal syubhat agar tidak jatuh ke kubangan haram.
  33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar engkau menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau menundukkan pandanganmu, menekan emosimu, dan memotong habis selera-selera rendah dari jiwamu. Bawalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari yang haram dalam keadaan bagaimanapun.
  34. Hendaklah engkau jauhi khamer dan seluruh makanan dan minuman yang memabukkan sejauh-sejauhnya.
  35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak, serta jauhilah tempat-tempat maksiat.
  36. Hendaklah engkau perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.
  37. Hendaklah engkau mengetahui anggota katibahmu satu persatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka dengan selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya, hak kasih sayang, penghargaan, pertolongan, dan itsar. Hendaklah engkau senantiasa hadir di majelis mereka, tidak absen kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhlahsikap itsar dalam pergaulanmu dengan mereka.
  38. Hendaklah engkau hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa mashlahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.
  39. Hendaklah engkau menyebar dakwahmu di manapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.
  40. Hendaklah engkau senantiasa menjalin hubungan, baik secara ruhani maupun ‘amali, dengan jamaah dan menempatkan dirimu sebagai ‘tentara yang berada di tangsi yang tengah menanti instruksi komandan’.”

 

(Disadur dari Membina Angkatan Mujahid)

Tawaazun (Keseimbangan)

Manusia (An-Naas) dan Dienul Islam (agama Islam) kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah Allah. Mustahil Allah menciptakan Dienul Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah itu. Di dalam Al-Quran surah Ar-Ruum ayat 30, Allah berfirman yang terjemahannya sbb:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Dien yang hanif (Agama Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia dengan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memiliki naluri beragama (agama tauhid: Al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan.

Sesuai dengan fitrah Allah itu, manusia memiliki 3 dimensi, yaitu Al-jasad, Al-‘Aqal, dan Ar-Ruh. Islam menghendaki ke tiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawaazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada Al-Quran Surat Ar-Rahman ayat 7 sampai 9.

Ke tiga dimensi ini membutuhkan makanan (santapan). Al-jasad memerlukan Al-ghiza Al-jasadi (santapan fisik/jasmani). Al-‘Aqal memerlukan Al-ghiza Al-‘Aqli (santapan akal/pikiran) dan Ar-Ruh membutuhkan Al-ghiza Ar-Ruhi (santapan ruhani). Rasa lapar dari Al-Jasad lebih mudah terdeteksi daripada rasa lapar Al-‘Aqal. Dan rasa lapar Al-‘Aqal lebih mudah terdeteksi dibandingkan dengan rasa lapar Ar-Ruh. Jadi rasa lapar Al-Jasad itu paling mudah terdeteksi, sedangkan rasa lapar Ar-Ruh itu paling sulit untuk diketahui.

1.Al-GHIZA AL-JASAADI (SANTAPAN FISIK/JASAD).

Adapun Al-ghiza Al-Jasadi (santapan fisik) itu terdiri dari Al-Tha’am (makanan padat), As-Syiraab (makanan cair), An-Naum (tidur), Ar-Riyadhah (olah raga), Az-Zawaj (sexual need, nikah) dan Al-Libas (pakaian).

Islam mengajarkan agar manusia memakan makanan yang halalan thayyiba (halal dan baik untuk kesehatan).  Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik…..(QS Al-Baqarah ayat 168). Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu……(QS Al-Baqarah ayat 172). Persyaratan halal saja belumlah cukup. Selain halal kita dianjurkan memakan makanan yang baik (yang memiliki nutrisi yang baik yang tidak akan menimbulkan mudharat terhadap kesehatan kita).

Sedangkan tentang An-Naum (istirahat, tidur), Allah menjelaskan dalam Al-Quran Surat Al-Qashas mulai dari ayat 71 sampai 73. Dan Karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karunia-Nya (pada siang hari)…..QS Al-Qashas ayat 73.

Sehubungan dengan Ar-Riyadhah (olahraga), Allah berfirman dalam surat Al-Anfaal ayat 60: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka dengan kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh-musuh Allah ……Kekuatan fisik dalam bentuk kebugaran jasmani serta endurance yang tinggi sangat diperlukan untuk menghadapi musuh-musuh Allah.

Tentang Az-Zawaj (sexual need, nikah) Allah berfirman dalam Surat An-Nuur ayat 24: Dan kawinlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan..……Adapun hukum perkawinan ini dapat dilihat pada QS An-Nisaa’ ayat 22 sampai 25.

Kebutuhan akan pakaian (Al-Libas) Allah berfirman: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan….. (QS Al A’raaf ayat 31). Hai anak Adam sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik..….(QS Al-A’raaf ayat 26).

Kebutuhan fisik ini secara internal harus dipenuhi secara seimbang. Jangan sampai banyak makan kurang olah raga (gerak fisik). Atau kurang makan banyak tidur. Atau terlalu banyak olah raga sehingga kehilangan sexual desire sehingga hubungan suami isteri menjadi tidak harmonis. Atau mengurangi makan demi pakaian yang mahal/mewah dst. Pada dasarnya kebutuhan fisik ini harus dipenuhi dengan seimbang dan kita dilarang untuk berlebih-lebihan.

2. AL-GHIZA AL-‘AQLI (SANTAPAN AKAL).

Al-‘Aqal (akal) memerlukan santapan berupa Al-‘Ilm (ilmu). Al-Ghazali membedakan ‘ilmu ini kedalam 2 kelompok yaitu: Fardhu ‘Ain (wajib untuk semua orang) dan Fardhu Kifayah (wajib sampai ada orang yang menguasai ilmu tersebut). Jadi wajib kifayah ini artinya tidak semua orang wajib hukumnya untuk menguasai ilmu kedokteran, atau ilmu teknik, ilmu ekonomi dsb.

Yang termasuk kedalam kelompok fardhu ‘ain adalah Al-maabaadi Al-Islamiyah (Prinsip-Prinsip Dasar Ajaran Islam). Prinsip-prinsip dasar ajaran Islam itu adalah: Syahadatain, Ma’rifatullah (merupakan tujuan), Ma’rifatur-rasul (merupakan ikutan/teladan), Ma’rifatul Islam (merupakan jalan/path), Ma’rifatul Insan berupa risalatul insan (missi penciptaan manusia) dan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia).

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 138: Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah. Shibghah Allah artinya celupan Allah (beriman kepada Allah yang tidak disertai kemusyrikan). Syahadatain ialah persaksian Allah yang tersebut dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi atau Nasrani dan bahwa Allah akan mengutus Muhammad s.a.w.

Ma’rifatullah, berupa tujuan hidup kita hanyalah untuk Allah. Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam… (QS Al An’aam ayat 162). Kita wajib memiliki pengetahuan bahwa seluruh perbuatan kita, hidup dan mati kita hanyalah untuk Allah semata.

Ma’rifatur-rasul, merupakan ikutan/suri tauladan yang baik. Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik  bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah….(QS Al-Ahzaab ayat 21). Setiap muslim/muslimah harus memiliki pengetahuan bagaimana Rosulullah Muhammad s.a.w, melakukan shalat, puasa, zakat, dan ibadah lainnya serta seluruh perilaku beliau untuk diteladani.

Ma’rifatul Islam, berupa jalan (path) untuk mencapai tujuan (ma’rifatullah). Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab, kecuali sudah datang pengetahuan pada mereka, karena kedengkian yang ada diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. (QS Ali ‘Imran ayat 19). Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya (QS At-Taubah ayat 33). Wajib bagi setiap muslim/muslimah untuk mempelajari Al-Islam, karena hanya Islam-lah agama yang diridhai Allah. Karena itulah diperlukan suatu sistem kajian intensif, komprehensif dan berjamaah. Intensif berarti sedikit demi sedikit, tetapi mendalam, dan berkesinambungan, sedangkan komprehensif dimaksudkan tidak sepotong-sepotong ataupun parsial tetapi dipelajari secara keseluruhan, dimulai dari outline/kerangkanya terlebih dahulu, baru kemudian rinciannya sejalan dengan berjalannya waktu. Sedangkan berjamaah di sini agar mempelajari Islam dapat langsung dipraktekkan dan ada saling menasihati bila ada kekeliruan dan kemalasan.

Ma’rifatul Insaan, dibagi kedalam dua bagian, yaitu: risalatul insan dan wazifatul insan. Risalatul insan artinya misi penciptaan manusia yaitu hanya untuk menyembah Allah. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku/mangabdi kepada Allah….(QS Adz Dzaariyaat ayat 56). Sedangkan wazifatul insan (fungsi penciptaan manusia) adalah untuk dijadikan khalifah dimuka bumi…….Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi……(QS

Al-Baqarah ayat 30).

Sama halnya dengan santapan jasad, maka santapan akalpun secara internal harus seimbang. Jangan sampai ma’rifatullah saja tanpa ma’rifatur-rasul sehingga sembahyang, puasa, zakat, hidup dan mati dengan cara semaunya sendiri. Atau ma’rifatul Islam saja tanpa ma’rifatur-rasul, sehingga menjadi inkarus-sunnah. Atau wazifatul insan saja sehingga kerjanya setiap hari hanya shalat saja di masjid sampai keluarga terlantar dst.

3.AL-GHIZA AR-RUUHI (SANTAPAN ROHANI)

Karena laparnya Ar-ruuh ini susah terdeteksi, maka sering terjadi kelaparan ruh ini sudah sangat parah yaitu disaat terjadinya keguncangan spritual.

Adapun santapan ruh ini adalah zikir. Allah berfirman dalam Surat Thaha ayat 14: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Pada ayat ini dijelaskan bahwa shalat merupakan salah satu cara untuk zikrullah (mengingat Allah). Selanjutnya pada Surat Al-Anfaal ayat 2, Allah berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakkal.

Ayat ini menjelaskan tingginya sensitifitas ruh orang yang beriman; hatinya akan gemetar bila mendengar sifat-sifat yang mengagungkan Allah dan imannya bertambah bila mendengar ayat-ayat Allah. Dalam Surat Ar Ra’d ayat 28 Allah berfirman:

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Dalam berzikir kita kenal istilah zikrul-lisaani dan zikrul-qalbi, yaitu zikir secara lisan yang diikuti oleh hati (kalbu). Dari ketiga ayat diatas, terlihat dengan jelas bahwa mengingat Allah (zikrullah) itu bisa dilakukan dengan shalat yang khusyu’, dengan mengingat sifat-sifat keagungan Allah, dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, secara lisan dan diikuti oleh qalbu (hati). Hasil yang diperoleh dari mengingat Allah ini adalah tathmainnul qulub (hati yang tenteram), yaitu hati yang bersyukur disaat menerima rahmat Allah dan hati yang bersabar disaat menghadapi musibah.

Ke tiga dimensi (Al-Jasad, Al-Aqal, Ar-Ruh) harus seimbang dalam pengertian harus diberi santapan secara seimbang. Jika kita hanya memberikan santapan fisik saja, tanpa santapan akal dan ruh, maka kita hanya memuaskan kehendak fisik/jasad, tapi serta spritualitas yang sangat kering, sehingga hatipun tidak tenteram. Begitu juga halnya jika terlalu berat pada pemberian santapan akal saja, tanpa memperhatikan fisik dan ruh, maka manusia itu ibarat orang yang memiliki pengetahuan, tapi jasadnya sakit-sakitan dan hatipun tidak tenteram. Apalagi kalau ilmu yang diperoleh tanpa Al-maabaadi Al-Islamiyah (prinsip dasar ajaran Islam), manusia yang demikian tidak tahu tujuan hidup, tidak tahu siapa yang harus diteladani, tidak tahu apa yang harus dipedomani, serta tidak tahu apa misi dan fungsi manusia ini diciptakan.

Sebaliknya jika hanya dimensi Ruh saja yang diperhatikan, tanpa memberikan makanan fisik, dan akal berupa ilmu, terutama Al-maabaadi Al-Islamiyah, maka cara berzikirpun kehilangan pedoman sehingga menjadilah manusia-manusia yang hanya memuaskan kebutuhan ruh semata, sementara jasad dan akalnya memiliki ketidakseimbangan. Dan kondisi ini tentu akan menyalahi fithrah dari Allah SWT.

20 Prinsip Pergerakan Kita

1. Islam adalah sistem menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan, Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan ummat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

 

2. Al Qur’an yang mulia dan sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hukum-hukum Islam. Ia harus memahami Al Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tanpa takalluf 1) (memaksakan diri) dan ta’asuf (serampangan). Selanjutnya ia memahami sunnah yang suci melalui rijalul hadits (perawi hadits) yang terpercaya.

 

3. Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya kenikmatan yang ditanamkan Allah dalam hati hamba-Nya yang Dia kehendaki. Sedangkan ilham, lintasan perasaan, ketersingkapan (rahasia alam), dan mimpi bukanlah bagian dari dalil hukum-hukum syariat. Ia bisa juga dianggap sebagai dalil dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan teks-teksnya.

 

4. Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya merupakan sebuah kemungaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Al Qur’an atau ada riwayat dari Rasulullah SAW.

 

5. Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yang mengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum bias diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat. Ia mungkin berubah seiring dengan perubahan situasi, kondisi, dan tradisi setempat. Yang prinsip, ibadah itu diamalkan dengan kepasrahan total tanpa mempertimbangkan makna. Sedangkan dalam urusan selain ibadah (adat istidadat) maka harus mempertimbangkan maksud dan tujuannya.

 

6. Setiap orang boleh diambil atau ditolak kata -katanya, kecuali Al-Ma’shum (Rasulullah) SAW. Setiap yang datang dari kalangan salaf ra. dan sesuai dengan Kitab dan Sunnah, kita terima. Jika tidak sesuai dengannya, maka Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya lebih utama untu duiikuti. Namun demikian, kita tidak boleh melontarkan kepada orang-orang – oleh sebab sesuatu yang diperselisihkan dengannya – kata-kata caci maki dan celaan. Kita serahkan saja kepada niat mereka dan mereka telah berlalu dengan amal-amalnya.

 

7. Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah terhadap dalil-dalil hukum furu’ (cabang), hendaklah mengikuti pemimpin agama. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika -bersamaan dengan mengikutinya ini – ia berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalildalilnya. Hendaknya ia menerima setiap masukan yang disertai dengan dalil selama ia percaya dengan kapasitas orang yang memberi masukan itu. Hendaknya ia juga menyempurnakan kekurangannya dalam hal ilmu pengetahuan, jika ia termasuk orang yang pandai, hingga mencapai derajat penelaah.

 

8. Khilaf dalam masalah fiqih furu’ (cabang) hendaknya tidak menjadi faktor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahalanya. Sementara itu tidak ada larangan melakukan studi ilmiah yang jujur terhadap terhadap persoalan khilafiyah dalam naungan kasih sayang dan saling membantu karena Allah untuk menuju kepada kebenaran. Semua itu tanpa melahirkan sikap egois dan fanatik.

 

9. Setiap masalah yang amal tidak dibangun diatasnya, sehingga menimbulkan perbincangan yang tidak perlu, adalah kegiatan yang dilarang syar’i. Misalnya memperbincangkan berbagai hukum tentang masalah yang tidak benar-benar terjadi atau memperbincangkan makna ayat-ayat Al Qur’an yang kandungan maknanya tidak dipahami oleh akal pikiran, atau memperbincangkan perihal perbandingan keutamaan dan perselisihan yang terjadi diantara para sahabat, padahal masing -masing dari mereka memiliki keutamaan sebagai sahabat Nabi dan pahala niatnya. Dengan ta’wil (menafsiri baik perilaku para sahabat) kita terlepas dari pesoalan.

 

10. Ma’rifah kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalah setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam. Sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya, kita cukup mengimaninya sebagaimana adanya, tanpa ta’wil dan ta’thil, tidak juga memperuncing perbedaan yang terjadi diantara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada, sebagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya mencukupan diri dengannya. “ Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami’” (QS Ali Imran:7)

 

11. Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan sarana yang sebaik-baiknya, yang tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.

 

12. Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah 2), bid’ah tarkiyah 3), dan iltizam terhadap ibadah mutlaqah (yang tidak ditetapkan, baik cara maupn waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fiqih. Setiap orang mempunyai pendapatnya sendiri. Namun jika tidak mengapa jika dilakukan penelitian untuk mendapatkan hakekatnya dengan dalil dan bukti-bukti.

 

13. Cinta kepada orang-orang shalih, memberikan penghormatan kepadanya, dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT. Sedangkan para wali adalah mereka yang disebut dalam firman-Nya:

 

“ Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka itu bertaqwa”

 

Karena pada mereka itu benar terjadi jika memenuhi syarat-syarat syar’inya. Itu semua dengan suatu keyakinan bahwa mereka – semoga Allah meridhai mereka – tidak memiliki mudharat dan manfaat bagi dirinya – baik ketika masih hidup maupun setelah mati – apalagi bagi orang lain.

 

14. Ziarah kubur, kubur siapapun, adalah sunnah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi meminta pertolongan kepada penghuni kubur, siapapun mereka, berdoa kepadanya, memohon pemenuhan hajat, – baik dari dekat maupun dari kejauhan, bernadzar untuknya, membangun kuburnya, menutupinya dengan satir, memberikan penerangan, mengusapnya (untuk mendapatkan barakah), bersumpah dengan selain Allah, dan segala sesuatu yang serupa dengannya adalah bid’ah besar yang wajib diperangi. Jangan pula mencari ta’wil (pembenaran) terhadap berbagai perilaku itu, demi menutup pintu fitnah yang lebih parah lagi.

 

15. Doa apabila diiringi dengan tawasul kepada Allah dengan dalah satu makhluk -Nya adalah perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, bukan termasuk masalah aqidah.

 

16. Istilah – keliru – yang sudah mentradisi tidak akan mengubah hakekat hukum syar’inya. Akan tetapi ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu dan kita berpatokan dengannya. Disamping itu kita harus berhati-hati terhadap berbagai istilah menipu 6) yang sering digunakan dalam pembahasan masalah dunia dan agama. Ibrah itu ada pada esensi (dibalik) suatu nama, bukan pada nama itu sendiri.

 

17. Aqidah adalah pondasi segala aktivitas (aktivitas hati lebih penting dari ativitas fisik). Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntunan syari’at, meskipun kadar tuntunan masing – masingnya berbeda.

 

18. Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, serta menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat.

 

“ Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin. Barangsiapa mendapatkannya, ia adalah orang yang paling berhak atasnya”

 

19. Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayah masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak pernah berbeda (selalu beririsan) dalam masalah yang qath’i (absolut/mutlak). Hakekat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat yang tsabitah (jelas). Sesuatu yang zhanniy (interpretable) harus ditafsirkan agar sesuai dengan yang qath’i. Jika yang berhadapan adalah dua hal yang sama-sama zhanniy, maka pandangan yang syar’i lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenarannya atau gugur sama sekali.

 

20. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata -kata kufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama, mendustakan Al Qur’an secara terang – terangan, menafsirkannya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur.

 

Sepuluh Hal yang Harus Ada Pada Sebuah Pergerakan

Pertama

 

AL-FAHM : Wahai saudaraku yang tulus, yang saya maksud dengan fahm (pemahaman) adalah engkau yakin bahwa ‘fikrah kita adalah fikrah Islamiyah yang bersih’. Hendaknya engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas-batas ushulul ‘isyirin (20 prinsip pergerakan)

 

Kedua

 

IKHLAS: Yang kami kehendaki dengan sikap ikhlas adalah bahwa akhul muslim dalam setiap kata, aktivitas dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha dan pahala -Nya tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.

 

“Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah karena Allah Tuhan Semesta Alam. Tidak ada sekutu baginya dan dengan itulah aku diperintahkan.” (QS Al An’am:162 -163)

 

Dengan begitu pahamlah akhul muslim mekna slogan abadinya: “Allah tujuan kami, Allah Maha Besar, segala puji bagi Allah”

Ketiga

AMAL: Yang saya maksud dengan amal (aktivitas) adalah buah dari ilmu dan keikhlasan.

 

“Katakanlah, ’Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah amu kerjakan.”(QS At Taubah:105).

 

Tingkatan amal yang dituntut:

 

  • Perbaikan diri sendiri

 

  • Pembentukan keluarga muslim

 

  • Pembimbingan masyarakat

 

  • Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing (non-Islam) baik secara politik, ekonomi, maupun moral

 

  • Perbaikan keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintahan Islam yang baik

 

  • Usaha persiapan seluruh aset negeri di dunia untuk kemaslahatan Islam

 

  • Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seluruh negeri.

 

Keempat

JIHAD: Yang saya maksud dengan jihad adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap hingga hari kiamat.

 

“ Barangsiapa mati, sedangkan ia belum pernah berperang atau berniat untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah “ (Al Hadits)

 

Peringkat pertama jihad adalah pengingkaran dengan hati dan peringkat terakhirnya adalah berperang dijalan Allah. Diantara keduanya terdapat jihad dengan pena, tangan, dan lisan berupa kata -kata yang benar dihadapan penguasa yang zhalim.. Tidaklah dakwah menjadi hidup kecuali dengan jihad. Kadar ketinggian dakwah dengan keluasan bentangan ufuknya adalah penentu bagi sejauh mana keagungan jihad dijalan-Nya dan sejauh mana pula harga yang harus ditebus untuk mendukungnya. Keagungan pahala yang diberikan kepada mujahid.

 

“ Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benar jihad ” (QS Al Hajj: 78)

 

Dengan demikian engkau telah mengerti slogan abadimu: Jihad adalah jalan kami

 

Kelima

PENGORBANAN: Yang saya maksud dengan tadhhiyah (pengorbanan) adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan didunia ini kecuali harus disertai dengan tadhiyah. Demi fikroh kita, janganlah engkau mempersempit pengorbanan, karena sungguh ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah. Barangsiapa yang bersantai-santai saja ketika bersama kami maka ia berdosa.

 

“ Sesungguhnya Allah telah membeli dari dari kaum mukmin, diri dan harta mereka” (At Taubah:111)

 

“ Jika engkau semua taat, niscaya Allah akan memberimu balasan yang baik” Dengan demikian engkau telah mengetahui makna slogan abadimu: “Gugur dijalan Allah adalah setingi –tinggi cita-cita kami”

 

Keenam

TAAT: Yang saya maksudkan dengan taat adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun dalam keadaan mudah, saat bersemangat maupun malas. Hal demikian karena tahapan dakwah ada tiga:

 

  • Ta’rif: ketaatan yang tanpa reserve tidaklah dituntut, bahkan tidak lazim. Seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem den prinsip jamaah.

 

  • Takwin: tahapan khusus hanya dengan kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang lama masanya dan berat tantangannya. Slogan utama dalam persiapan ini: “totalitas ketaatan”

 

  • Tanfidz: Sikap menerima dengan kesetiaan kepada bai’at ini. Tunaikan tanggung jawab yang telah dipikulkan kepadamu dan siapkan dirimu untuk setia kepadanya.

 

Ketujuh

 

TSABAT: Yang saya maksud dengan tsabat (teguh pendirian) adalah bahwa seorang akh hendaknya sentiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang menghantarkan kepada tujuan, betapapun jauh jangkauannya, dan lama masanya hingga bertemu Allah dalam keadaan yang tetap demikian. Dengan demikian ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu menang atau syahid di jalan-Nya. “Sebagian dari orang-orang yang beriman ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, diantara mereka ada yang gugur dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya” (QS Al Ahzab:23)

 

Kedelepan

TAJARRUD:Yang saya maksud dengan tajjarud (totalitas) adalah bahwa engkau harus membersihkan pola pikir dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena ia adalah setinggitinggi dan selengkap-lengkap fikrah.

 

“(Itulah) celupan Allah. Celupan siapakah yang lebih baik daripada celupan Allah” (QS Al Baqarah:138)

 

Manusia, dalam pandangan akh yang tulus, adalah salah satu dari enam golongan, yakni muslim yang pejuang, muslim yang duduk-duduk, muslim pendosa, dzimmi / mu’ahid (orang kafir yang terikat oleh perjanjian damai), muhayid (orang kafir yang dilindungi), atau muharib (orang kafir yang memerangi). Masing-masing dari mereka memiliki hukum sendiri dalam timbangan Islam. Dalam batas inilah individu atau lembaga ditimbang, berhak-ah ia mendapat loyalitas atau sebaliknya: Permusuhan.

 

 

 

 

Kesembilan

UKHUWWAH: Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh dan semulia-mulianya ikatan. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri). Akh yang tulus melihat saudara-saudara lainnya lebih utama daripada diri sendiri, karena jika tidak bersama mereka, ia tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan orang lain. Sesungguhnya serigala hanya memakan domba yang terlepas secara sendirian. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuang bangunan, yang satu mengokohkan yang lainnya. “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan,  sebagian mereka mejadi pelindung bagi lainnya (QS At Taubah:71)

 

Kesepuluh

TSIQOH: Yang saya maksud dengan tsiqoh (kepercayaan) adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendalam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Pemimpin adalah unsur penting dalam dakwah; tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan – yang timbal balik – antara pemimpin dan pasukan menjadi neraca yang menentukan sejauh mana kekuatan sistem jama’ah, ketahanan khithah-nya, keberhasilannya mewujudkan tujuan, dan ketegarannya menghadapi berbagai tantangan. Kepemimpinan – dalam dakwah ikhwan – menduduki posisi guru dalam hal fungsi kepengajaran; posisi syaikh dalam aspek kependidikan ruhani; dan posisi pemimpin dalam aspek penentuan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kami menghimpun pengertian ini secara keseluruhan, dan tsiqah kepada pemimpin adalah segala-galanya bagi keberhasilan dakwah.

 

 

 

40 Kewajiban Seorang Aktivis Dakwah

 

Ada 40 Kewajiban yang senantiasa diperintahkan oleh seorang mursyid kepada kita. Tentu hal ini bukanlah hadist karena ia merupakan hasil ijtihad seorang mujtahid besar dalam kurun ini. Bacalah dan laksanakanlah, kelak engkau akan merasakan betapa syumulnya Islam ini

 

1. Hendaklah engkau memiliki wirid harian dari Kitabullah (Al Qur’an) yang tidak kurang dari satu juz. Berusahalah dengan sungguh – sungguh untuk mengkhatamkan Al Quran dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.

 

2. Hendaklah engkau membaca Al Qur’an dan memperbaiki bacaannya, mendengarkannya, memperhatikannya dengan seksama dan merenungkan (men -tadabburi) makna (arti) ayat-ayatnya.

 

3. Hendaklah engkau mengkaji Shirah Nabawiyah yang suci dan sejarah para pendahulu (salafus shalih) sesuai dengan waktu yang tersedia untukmu. Buku yang dirasa mencukupi kebutuhan ini minimal adalah ‘Hummatul Islam’ (Pembela-pembela Islam). Hendaklah engkau juga banyak membaca haditsAl Arba’in An-Nawawiyah. Hendaklah engkau mengkaji risalah tentang pokok-pokok aqidah dan cabang-cabang dalam bidang fiqih.

 

4. Hendaklah engkau bersegera melakukan pemeriksaan menyeluruh (general check-up) secara berkala, segera mengobati penyakit yang ada padamu. Disamping itu perhatikanlah faktor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah faktor-faktor yang mengganggu kesehatan.

 

5. Hendaklah engkau menghindari sikap berlebihan dalam mengkonsumsi kopi, teh dan minuman perangsang sejenisnya. Janganlah engkau meminumnya kecuali dalam keadaan terpaksa (darurat) dan hendaklah engkau menghindarkan diri sama sekali dari rokok.

 

6. Hendaklah engkau memperhatikan masalah kebersihan dalam segala hal, menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, tempat makan, badan dan tempat kerja, karena agama ini dibangun diatas dasar kebersihan.

 

7. Hendaklah engkau menjadi orang yang selalu jujur dalam berkata dan jangan sekali-kali berdusta.

 

8. Hendaklah engkau menjadi orang yang selau setia (menepati) janji dan ucapan. Janganlah mengingkarinya bagaimanapun kondisi yang engkau hadapi.

 

9. Hendaklah engkau menjadi seorang pemberani yang tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah sikap terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan menguasai diri ketika marah sekalipun.

 

10. Hendaklah engkau menjadi orang yang memiliki wibawa (kharisma) yang lebih mengutamakan keseriusan. Namun hendaknya kewibawaan yang serius tersebut tidak menghalangimu dari canda yang benar (tidak melampaui batas), senyum dan tertawa.

 

11. Hendaklah engkau menjadi orang yang memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang halus (sensitif), dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakani berbahagia untuk yang pertama (kebaikan) dan merasa tersiksa untuk yang kedua (keburukan). Hendaklah engkau menjadi orang yang rendah hati (tawadhu’) tanpa harus menghinakan diri, renda h, lemah dan mengambil muka. Tidak bersikap taklid dan tidak terlalu berlunak hati. Dan hendaklah engkau menuntut (posisi) yang lebih rendah dari martabatmu agar engkau dapat mencapai martabat sesungguhnya.

 

12. Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dala m memutuskan hukum dalam suatu perkara pada setiap keadaan / situasi. Janganlah kemarahan melalaikanmu dari berbuat kebaikan, janganlah mata keredhoanmu buta dari melihat keburukan, janganlah permusuhan membuatmu lupa dari pengakuan jasa baik (orang lain). Dan hendaklah engkau berkata benar meskipun itu merugikanmu atau merugikan orang yang paling dekat denganmu, atau meskipun itu pahit rasanya.

 

13. Hendaklah engkau menjadi pekerja keras (dengan banyak aktivitas) dan terlatih memberikan pelayanan-pelayanan sosial. Hendaklah engkau merasa bahagia ketika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar menjenguk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung orang yang lemah, meringankan beban orang yang tertimpa musibah, meskipun hanya (menghibur) dengan ucapan-ucapan yang baik. Hendaklah engkau senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.

 

14. Hendaklah engkau berhati lembut (belas kasihan), dermawan, lapang dada (toleran), pemaaf, lemah lembut kepada sesama manusia maupun hewan. Juga baik dalam pergaulan dengan semua orang, berakhlak mulia dan menjaga etika-etika Islam dalam berinteraksi, mengasihi yang kecil dan menghormati yang tua, memberi tempat pada orang lain dalam majelis, tidak memata -matai, tidak menggunjing, tidak mengumpat, tidak berteriak-teriak, meminta izin ketika mendatangi suatu tempat/rumah atau meninggalkannya, dan lain sebagainya.

 

15. Hendaklah engkau meningkatkan kemampuan membaca dan pandai menulis, memperbanyak bacaan risalah-risalah Ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah engkau berusaha memiliki perpustakaan pribadi, seberapapun ukurannya, walau sangat sederhana. Bila engkau seorang spesialis, hendaklah engkau memperdalam (menekuni) spesifikasi keilmuan dan keahlianmu. Dan hendaklah engkau benar-benar mengenal (menguasai) masalah-masalah keislaman secara umum, sehingga memiliki gambaran tentangnya dan dapat menentukan hukumya yang sejalan dengan tuntutan-tuntutan fikrah.

 

16. Hendaklah engkau memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun kayanya engkau. Utamakanlah proyek -proyek yang mandiri, tidak mengekang serta mengikat (wiraswasta), meskipun sangat kecil dan sederhana. Dan terjunlah dibidang ini bagaimanapun bakat ilmiahmu.

 

17. Janganlah engkau terlalu berharap / berambisi menjadi pegawai negeri. Anggaplah itu sebagai sesempit-sempit pintu rezeki. Namun jangan menolak bila diberi peluang untuk itu. Dan janganlah engkau meninggalkannya kecuali jika benar-benar bertentangan dengan tugas -tugas da’wahmu.

 

18. Hendaklah engkau benar – benar memperhatikan penunaian tugasmu, dalam hal kualitas, kecermatan, kejujuran (tidak menipu) dan ketepatan waktu yang telah disepakati (disiplin).

 

19. Hendaklah engkau baik-baik dalam menuntut hakmu, dan tunaikanlah hak orang lain dengan sempurna tanpa diminta. Tidak dikurangi atau dilebihkan. Dan janganlah sekali-kali menunda –nunda (penunaian hak tersebut).

 

20. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari perjudian dan segala jenisnya, apapun motif dibelakangnya. Hendaklah engkau juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang  dapat segera diperolehnya.

 

21. Hendaklah engkau menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitas (bidang mu’amalat) dan sucikanlah dirimu dan hartamu dari riba secara total.

 

22. Hendaklah engkau membantu dan memelihara sumber kekayaan (umat) Islam secara umum dengan mendorong pendirian dan berkembangnya perusahaan, lembaga perekonomian Islam, pabrik dan proyek. Hendaklah engkau menjaga setiap keping mata uang agar tidak jatuh ke tangan orang non Islam dalam kondisi bagaimanapun. Juga jangan memakai (pakaian) dan mengkonsumsi (makanan) kecuali hasil produksi negeri Islammu sendiri.

 

23. Hendaklaah engkau berpartisipasi dalam da’wah dengan memberikan sebagian hartamu. Tunaikanlah kewajiban zakat hartamu, dan sisihkanlah sebagian yang jelas dari hartamu untuk orang yang meminta, dan orang yang kekurangan, betapapun kecilnya penghasilanmu.

 

24. Hendaklah engkau menabung sebagian dari penghasilanmu, sekecil apapun untuk persediaan masa -masa sulit. Janganlah sekali-kali menyusahkan dirimu untuk mengejar kesempurnaan (kebutuhan tersier)

 

25. Hendaklah engkau bekerja semampunya untuk menghidupkan tradisi-tradisi Islam dan menghilangkan tradisi-tradisi asing dalam setiap aspek kehidupan. Misalnya ucapan salam penghormatan, bahasa, sejarah, kalender (penanggalan), pakaian, perabot rumah tangga, jadwal dan cara kerja juga istirahat, makan, minum, cara datang dan pergi, gaya dan ekspresi pelampiasan kesedihan dan kegembiraan, dan lain sebagainya. Hendaklah engkau menjaga sunnah yang suci dalam aktivitas tersebut.

 

26. Hendaklah egkau memboikot peradilan-peradilan swasta setempat atau seluruh hukum peradilan yang tidak Islami. Demikian juga klub-klub, gelanggang, penerbitan-penerbitan, organisasi-organisasi, sekolah dan lembaga yang jelas-jelas menentang fikrohmu yang Islami. Boikotlah semua itu dengan  sebenar-benarnya.

 

27. Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat, mempersiapkan diri untuk menghadapinya, menempuh fase demi fase menuju keridhoan Allah SWT dengan tekad kuat dan semangat membaja, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah, seperti shalat malam, puasa tiga hari – minimal – setiap bulan, memperbanyak dzikir dengan lisan dan hati, dan berusaha sekuat tenaga mengamalkan doa yang diajarkan oleh Rasulullah pada setiap kesempatan.

 

28. Hendaklah engkau memperbaiki thaharah (bersuci) dengan baik dan usahakan selalu dalam keadaan “prajurit yang berada di barak dan sedang menunggu instruksi komandan”berwudlu (suci) di sebgaian besar waktumu.

 

29. Hendaklah engkau meningkatkan kualitas shalatmu dengan baik, biasakan tepat waktu dan lakukanlah berjamaah di masjid tepat waktu bila mungkin dilakukan.

 

30. Hendaklah engkau berpuasa dibulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji ke Baitullah bila mampu, dan berusahalah untuk menunaikannya bila sekarang mampu melaksanakannya.

 

31. Hendaklah engkau senantiasa menyertai dirimu dengan niat jihad dan mencintai mati syahid. Persiapkanlah dirimu untuk itu kapan saja bila kesempatan itu tiba.

 

32. Hendaklah engkau senantiasa memperbaharui taubat dan istighfarmu. Jaga diri dan berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar. Sediakanlah untuk dirimu waktu khusus sebelum tidur untuk mengintrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah kamu lakukan, yang baik maupun yang buruk. Bersungguh-sungguhlah dalam memperhatikan dan memelihara waktu, karena waktu adalah kehidupan. Janganlah engkau gunakan – sedikitpun – waktumu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan waspadalah (jangan ceroboh) terhadap hal-hal yang syubhat, agar tidak tercebur ke dalam

kubangan yang haram.

 

33. Hendaklah engkau berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar engkau dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah engkau bersungguh-sungguh memerangi nafsumu, agar dapat dengan mudah mengendalikannya. Hendaklah engkau menundukkan pandangan, mengendalikan emosi, dan memerangi selera-selera rendah dari dorongan naluri-jiwa(insting). Dan selalu mengarahkannya kepada yang halal lagi baik, serta membentenginya dari hal yang haram dan tercela, dalam keadaan bagaimanapun.

 

34. Hendaklah engkau menghindari sejauh-jauhnya dari arak (khamar), dan segala makanan dan minuman yang memabukkan, segala yang melemahkan sejauh-jauhnya.

 

35. Hendaklah engkau menjauh dari pergaulan orang jahat, persahabatan yang rusak dan tidak bermoral, dan jauhilah tempat-tempat maksiat serta dosa.

 

36. Hendaklah engkau memerangi tempat-tempat iseng (hiburan) yang sia -sia dan haram, jangan sekalikali mendekatinya, serta jauhilah segala gaya hidup glamour (mewah) atau bersantai-santai.

 

37. Hendaklah engkau mengenali atau mengetahui anggota katibahmu satu per satu dengan sempurna (pengetahuan yang lengkap), dan kenalkan juga dirimu pada mereka dengan selengkapnya.  Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya, hak kecintaan dan kasih sayang,  penghargaan, pertolongan dan itsar. Hendaklah senantiasa engkau menghadiri majelis (pertemuan) mereka, dan tidak absen kecuali udzur darurat yang tidak dapat dielakkan. Dan hendaklah engkau berpegang teguh sikap itsar dan memprioritaskan mereka dalam pergaulanmu.

 

38. Hendaklah engkau menghidari hubungan dengan organisasi atau jamaah manapun, bila hubungan tersebut tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.

 

39. Hendaklah engkau menyebarkan da’wahmu disemua tempat, dimanapun, dan memberikan informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Janganlah engkau berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya (pimpinan).

 

40. Hendaklah engkau senantiasa menjalin hubungan baik, kontak ruhani dan operasional (‘amali) de

hUMOR dari Gus dur; Orang NU Gila

Rumah Gus Dur di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan, sehari-harinya tidak pernah sepi dari tamu. Dari pagi hingga malam, bahkan tak jarang sampai dinihari para tamu ini datang silih berganti baik yang dari kalangan NU ataupun bukan. Tak jarang mereka pun datang dari luar kota.

Menggambarkan fanatisme orang NU, kata Gus Dur, menurutnya ada 3 tipe orang NU. “Kalau mereka datang dari pukul tujuh pagi hingga jam sembilan malam, dan menceritakan tentang NU, itu biasanya orang NU yang memang punya komitmen dan fanatik terhadap NU,” tegas Gus Dur.

Orang NU jenis yang kedua, mereka yang meski sudah larut malam, sekitar jam dua belas sampai jam satu malam, namun masih mengetuk pintu Gus Dur untuk membicarakan NU, “Itu namanya orang gila NU,” jelasnya.

“Tapi kalau ada orang NU yang masih juga mengetuk pintu rumah saya jam dua dini hari hingga jam enam pagi, itu namanya orang NU yang gila,” kata Gus Dur sambil terkekeh.(okezone)

hUMOR; Mbah Maridjan “Beragama” NU

Mbah Maridjan

KH Hasyim Muzadi, saat itu masih menjabat sebagai ketua umum PBNU, membawa oleh-oleh menarik dari lereng Merapi saat terjadi letusan Merapi tahun 2006 lalu. Saat berkunjung ke tempat pengungsian, Hasyim berkesempatan bertemu dengan Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Pada kesempatan itu Hasyim menghadiahi sebuah jaket yang pada bagian belakangnya terdapat gambar logo Nahdlatul Ulama (NU).

Mengetahui hal itu, Mbah Maridjan kontan mengatakan, “Nggih niki agomo kulo. Agomo kulo niku NU,” (“Ya ini agama saya. Agama saya itu adalah NU”) serunya seraya menunjuk logo NU pada jaket tersebut.

Penasaran, Hasyim lantas bertanya, “Sanes Islam, Mbah?” (“Bukannya Islam, Mbah?”)

“Nggih sami mawon,”
(“Ya sama saja”) jawab Mbah Maridjan sambil tertawa.

Tokoh masyarakat setempat yang telah meninggal dunia akibat terkena wedhus gembel atau awan panas akibat letusan Merapi ini merupakan wakil rais syuriah Majelis Wakil Cabang NU Cangkringan, Sleman.

Original Content At Website NU