Pengalaman Menuntut Ilmu KH. Hasan Mutawakkil Allallah S.H, M.M

Ketua PWNU Jawa Timur, Moch Hasan Mutawakkil muda pada tahun 1983 silam harus melakukan perjalan ke Eropa untuk studi banding.

Saat itu, dia ingin mendalami ilmu di Universitas Leiden, Denhaag, Belanda selama beberapa bulan, yang saat itu masih kuliah di Al Azhar, Mesir.

Masih ingat hari itu, menjelang Ramadan tepatnya tanggal 26 Sya’ban ketika pesawat yang dinaikinya, Luthansa lepas landas dari Kairo, Mesir menuju Frankfut, Jerman. Di Frankfut ia sempat menjalani puasa dengan siang hari cukup panjang, 14 jam.

“Sampai sekarang saya masih mengingatnya, betapa berkah Ramadan demikian saya rasakan di negeri orang, di Frankfurt, Jerman, meski memang cukup berat saat menjalaninya,” ujarnya.

Perjalanan pun dilanjutkan. Saat hendak mengurus visa di Frankfut, Mutawakkil sempat ditanya petugas, apakah mempunyai uang minimal 2.000 dolar AS atau sekitar Rp 2 juta karena saat itu nilai tukar rupiah sekitar 1.000/dollar AS.

Dia memilih tidak menjawab dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. “Saya terkejut karena uang yang saya pegang hanya 200 dollar AS,” ujarnya yang ketika itu berencana ke Belanda dengan menumpang kereta api (KA).

Sadar uang yang dikantonginya sangat sedikit, dia pun terpaksa buka puasa dan sahur seadanya. “Saat buka puasa dan makan sahur, saya hanya makan roti, kentang, dan sedikit mayonese. Sepotong daging tidak saya makan karena khawatir kehalalannya,” ujarnya.

Selama di Frankfurt dia terus berdoa meminta kemudahan dari Allah. Dia ingat betul, meski saat itu baru berumur 14 tahun, tapi dia sudah memiliki pegangan teguh terhadap Islam.

Dalam penderitaanya di Frankfut, dia yakin sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan, barangsiapa menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya di akhirat kelak.

Tak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun ketika dia memohon pertolongan-Nya, secara mengejutkan kemudahan dan jalan lempang bisa dicecap.

“Malam itu saya berdoa sampai terus-menerus sampai air mata tak terbendung, berharap Allah mempermudah jalan saya menuju Leiden, Belanda,” ujarnya.

Dengan tekad bulat, keesokan harinya Mutawakkil kembali menemui petugas visa di Stasiun KA Frankfut. Kali ini ia tidak ditanya lagi, apakah membawa uang minimal 2.000 dollar AS.

“Saya hanya ditanya, ‘Are you student? Setelah saya katakan, ‘I am student from Egypt’, visa saya langsung distempel, tanpa dikenai biaya,” ujarnya.

Mutawakkil mengaku, benar-benar merasakan berkah Ramadan di negeri orang. Akhirnya ia berhasil menempuh studi selama 4 bulan di Universitas Leiden, Belanda.

“Di Al Azhar saya di Fakultas Syariah, sementara saat di Leiden saya belajar kriminologi Islam,” ujarnya.

Dikatakannya, karena studi banding ke Belanda itu atas inisiatif sendiri, Mutawakkil pun harus menanggung biaya studi dan hidup dari koceknya sendiri.

Ketika uang yang tersisa 200 dolar habis untuk biaya perjalanan, di Belanda pun ia mencari kerja paro waktu. “Saya sempat menjadi pelayan restoran, untuk mendapat uang tambahan,” ujarnya.

Dengan bekerja di restoran, ia juga memperoleh pengalaman berharga. “Saya melihat hubungan kerja antara buruh dan majikan harmonis, ternyata akhlak Islam ada di Barat, bukan di Timur Tengah, di mana sebagian majikan sering berperilaku kasar kepada pekerjanya,” ujarnya.

Di tengah keasyikannya menuntut ilmu, ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, KH Saifourridzal pada 1985. Sesampai di Probolinggo, ia langsung mengamalkan ilmunya di Pesantren Zainul Hasan.

Tak berselang lama, ibundanya, Nyai Hafshowati dan ayahndanya, Kiai Saifouridzal berpulang ke sisi Allah. Sejak itu pula ia memangku Pesantren Zainul Hasan hingga sekarang.

Tak berhenti di bangku kuliah, Mutawakkil hingga saat ini pun masih terus belajar. Mengasuh sekitar 20.000 santri, membuatnya harus selalu beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Membaca buku menjadi makanan wajib, dari situ lah kita bisa terus mengisi hidup ini dnegan ilmu pengetahuan,” katanya.

Peran dan pengaruh Kiai Mutawakkil pun tidak bisa dipisahkan dari nama besar pesantren. Pesantren yang dulu bernama Genggong ini sudah berusia 171 tahun atau didirikan sekitar tahun 1839 oleh almarhum KH Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karangbong, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo.

Pesantren yang kini lebih dikenal dengan sebutan pesantren Zainul Hasan telah  mengalami tiga kali pergantian nama. Semua perubahan itu dilandasi sejarah pertumbuhan pesantren dan adanya gagasan untuk mengabadikan para pendiri pesantren sebelumnya. Perubahan nama ini terjadi pada periode kepemimpinan KH. Hasan Saifourridzal.

Nama Pondok Genggong dipakai sejak kepemimpinan KH Zainul Abidin sampai kepemimpinan KH. Moh Hasan tahun 1952. Nama pesantren kemudian berganti menjadi ‘Asrama Pelajar Islam Genggong’.

Pada tanggal 19 Juli 1959, dalam pertemuan dewan pengurus almukarom KH. Hasan Saifourridzal menetapkan perubahan nama menjadi Pesantren Zainul Hasan.

“Ini hasil perpaduan nama dari tokoh sebelumnya di mana kata Zainul diambil dari nama almarhum KH Zainul Abidin sebagai pembina pertama dan kata Hasan diambil dari nama almarhum KH Mochammad Hasan sebagai pembina kedua,” kata KH. Hasan Mutawakkil.

diambil dari Artikel “Surabaya Post”

About Akhi Bahtiar

I'm a student in College of Information Management and Computer of Amikom Yogyakarta. Alumni of Islamic boarding zainul hasan genggong Probolinggo. now stayed at yogyakarta . very fond of web-based programming. familiar with programming languages ​​such as PHP,MySQL,Ajax JQuery and many others. addition to being a student also worked as an assistant lecturers in the course of advanced web programming and freelance web developer in elance.com ... our Motto : "life is to be beneficial"

Posted on 29 Desember 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Pengalaman Menuntut Ilmu KH. Hasan Mutawakkil Allallah S.H, M.M.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: