Monthly Archives: Desember 2010

Peristiwa terkenal di Pondok Pesantren Zainul Hasan, “Salaman Genggong”, Pertemuan antara Gus Dur dan Pak Harto pada tahun 1996

Soeharto

Namanya cukup dikenal dalam sejarah politik nasional bangsa Indonesia, saat ia ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjembatani pertemuan antara penguasa Orde Baru yakni presiden Soeharto dan Gus Dur dalam waktu tiga bulan soal hasil Muktamar Cipasung. Saat itu hubungan antara tentara dan NU memang sedang gawat-gawatnya. Keberhasilannya menjembatani pertemuan pertemuan besar itu berkat hubungannya dengan keluarga Cendana soal bisnis. Sehingga saat itu terkenal peristiwa “Salaman Genggong”, antara Gus Dur dan Pak Harto pada tahun 1996.

Keberhasilannya mempertemukan dua tokoh yang saling bersebrangan tentu di luar dugaan, karena setelah itu terjadi rekonsiliasi antara NU dengan pemerintah. Kemudian Gus Dur diterima pemerintah. Menurut Kyai yang telah dikaruniai 6 puteri ini, waktu mempertemukan Gus Dur dan Pak Harto banyak tantangannya. Selain harus menempuh prosedur birokrasi yang sangat tebal, ia juga menghadapi warning (peringatan) dari tentara untuk keamanan.

Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid)

”Bahkan di belakang dan depan rumah saya ada tank. Ternyata setelah acara berlangsung, justeru pak Harto sendiri yang di luar protokoler. Misalnya saat ia transit ke Pondok Genggong menurut protokol tidak lama, ia malah jalan kaki serta berbincang-bincang lama,” katanya.
Peristiwa “Salaman Genggong” menurut KH Mutawakil adalah pelajaran yang penting, sehingga sangat mengesankan dirinya saat ini. “Itu sebuah pelajaran pada saya bahwa kita tidak hanya mengandalkan rasio dan strategi (rasional) namun juga kita harus percaya barokah dari para ulama,” katanya mengenang.
Tokoh yang pernah menjadi ketua RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) tahun 1999-2004 ini dikenal sangat tawadhu terhadap ulama-ulama. Sehingga tak heran, ia sering menjadi tuan rumah event-event besar dalam dinamika politik dan kebangsaan. Seperti dipasrahi oleh PBNU untuk menyelenggarakan Munas I Pagar Nusa. Selain itu ia juga pernah menghidupkan Jami’atul Qura oleh PBNU dengan menyelenggarakan Munas di Genggong.
Dalam ranah politik, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk wilayah Jawa Timur juga pernah dipasrahkan, sekaligus dideklarasikan di Ponpes Genggong.”Walau selanjutnya saya tidak ikut-ikut,” kata KH Mutawakil dengan senyum khasnya.
Aktivitasnya yang lain adalah saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur. Di PWNU ia membidangi lembaga hukum, perekonomian dan tenaga kerja. Selain itu saat ini ia juga menjadi Ketua Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) wilayah Jawa Timur.
Khusus di Puskopontren, KH Mutawakil sebenarnya mempunyai keinginan untuk memajukan koperasi pesantren. Namun untuk memajukan kopontren itu tidak mudah, sebagab koperasi pesantren ini selama ini kekurangan SDM yang bisa mengelola ekonomi. “Sebenarnya dengan adanya kopontren yang ada di mana-mana itu sudah merupakan langkah maju untuk menjadikan pesantren sebagai sentral keagamaan, tetapi juga sebagai sentral ekonomi umat. Itu bisa terjadi, maka pesantren akan menjadi benteng paling kuat terhadap ketahanan agama. Memang selama ini Puskopontren ini mengalami stagnasi. Ini karena yang namanya koperasi itu erat kaitannya dengan birokrasi,” kata nya.

Iklan

VIDEO PROFIL PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG, PAJARAKAN, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR

SEBELUM DIPUTAR, KOMPUTER ANDA HARUS TELAH TERINSTAL ADOBE FLASH PLAYER DENGAN SETINGAN YANG SESUAI(download disini)

KOLEKSI FOTO-FOTO KELUARGA SOHIBUL BAIT PESANTREN ZAINUL HASAN GENGGONG, Probolinggo, Jawa Timur

KH. Mutawakkil Bersama KH. Hasan Saiful Islam

Para Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo

Tidak Mengandalkan Rasio Semata, Oleh Almukarrom KH. Hasan Mutawakkil Alallah, SH. MM.

Pada saat-saat yang menggentingkan, ia selalu mendapat tugas penting untuk menyelesaikan masalah. KH Mutawakil demikian ulama ini tidak hanya mengandalkan rasio dalam berfikir namun juga barokah dari ulama sehingga bisa sukses menyelenggarakan berbagai event besar terutama permasalahan kebangsaan

Siapa pun akan terkesima saat memasuki gerbang kompleks Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Jawa Timur. Di situ berdiri kokoh (bangunan permanen) lambang Nahdlatul Ulama (NU) yang cukup besar berukuran sekitar 5 x 4 meter persegi. Di bawah lambang tersebut tertulis, “Selamat Datang di Kota Santri Pesantren Zainul Hasan Genggong.”
Memasuki komplek pesantren ini sangat menyenangkan hati. Tiap pagi dan sore hari, muda-mudi berbusana rapi menyandang kitab suci, hilir mudik silih berganti pulang pergi mengaji. Gambaran penuh nuansa keagamaan yang kental. Pesantren ini sudah berusia 163 tahun, tepatnya didirikan tahun 1839 M/1250 H oleh almarhum KH. Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karang Bong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur.
Pesantren Zainul Hasan yang kini memiliki sekitar 20.000 santri ini mengalami tiga kali pergantian nama yang bermotifkan kepada sejarah pertumbuhan pesantren dan adanya gagasan untuk menggabadikan para pendiri Pondok Pesantren Zainul Hasan sebelumnya. Perubahan nama ini terjadi pada periode kepemimpinan KH. Hasan Saifourridzal. Nama Pondok Genggong sendiri diabadikan sejak kepemimpinan KH Zainul Abidin sampai kepemimpinan KH. Moh Hasan tahun 1952. Nama pesantren kemudian berganti menjadi “Asrama Pelajar Islam Genggong” dan terakhir “Pesantren Zainul Hasan.”
“Pada tanggal 19 Juli 1959, dalam pertemuan dewan pengurus almukarom KH. Hasan Saifourridzal menetapkan perubahan nama asrama pelajar Islam Genggong menjadi Pesantren Zainul Hasan. Ini hasil perpaduan nama dari tokoh sebelumnya di mana kata Zainul diambil dari nama almarhum KH. Zainul Abidin sebagai pembina pertama dan kata Hasan diambil dari nama almarhum KH. Moh Hasan sebagai pembinan kedua,” kata Pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, KH. Mohammad Hasan Mutawakkil Alallah.
Pesantren Zainul Hasan kini telah banyak menampakkan perannya sebagai pusat studi Islam di dalam pengembangan misi Islam pada masyarakat luas, sehingga dengan peran serta hanya mengajarkan ilmu agama umum saja. Tetapi dalam kehidupannya para santri banyak mendapatkan kesempatan untuk menghayati dalam kehidupannya sehari-hari, karena kebersatuan Pesantren Zainul Hasan dengan masyarakat itulah maka output pesantren tidak kebingungan meniti hidup dalam mengabdi kepada masyarakat.
Pada periode ketiga mulai tercetus ide-ide dan konsep-konsep baru untuk perkembangan pesantren di segala bidang di dalam ikut serta mengisi kemerdekaan serta ikut menunjang semua program pemerintah dalam perkembangan mental spiritual, ketahanan nasional, persatuan dan kesatuan bangsa lewat media dakwah baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren.
Menyadari peranan yang sangat besar dalam menyukseskan pembangunan manusia seutuhnya di samping juga makin meningkatnya kebutuhan hidup seseorang akibat pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, maka Pesantren Zainul Hasan telah melangkah untuk mengadakan pengembangan dan pembaruan dalam segala bidang meliputi perubahan sistem pendidikan, penambahan sarana proses belajar-mengajar, menyempurnakan dan menambah sarana fisik.
Pesantren Zainul Hasan tidak ketinggalan mengikuti pembaruan pendidikan setelah banyak mengkaji dan berhubungan dengan dunia luar. Peranan pondok pesantren sangat besar dalam membangun masyarakat, sehingga para ahli tiada putus-putusnya membicarakan lembaga pendidikan pondok pesantren ini. Untuk mengatasi kekurangan dalam Pesantren Zainul Hasan tumbuh gagasan untuk kesempurnaan dalam pondok pesantren harus ada pendidikan formal, pendidikan keterampilan dan perbaikan struktur kepengurusan dan lain-lain.
Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, Pesantren Zainul Hasan berupaya sekuat tenaga terhadap penyempurnaan kebutuhan serta perlengkapan secukupnya, sehingga dapat tercipta adanya peningkatan dan pengembangan pendidikan yang sejajar dengan lembaga-lembaga di luar pokok pesantren melalui perubahan, yakni sistem dan metode yang dipergunakan dalam pendidikan; kurikulum pesantren, Depag dan Diknas dikembangkan 100 persen; administrasi; fasilitas yang cukup dan sarana pendidikan yang memadai.
Menurut KH Mutawakil tipe pesantren di Indonesia ada tiga jenis. Pertama adalah pesantren salaf murni. Ciri-cirinya adalah tidak mau diintervensi oleh dunia luar dalam bentuk apa pun, termasuk kurikulum, intitusi lembaganya, mereka independen. Kedua, setengah-setengah, di satu sisi mencoba mempertahankan budaya dan segala sisi kehidupan salaf tapi di sisi lain juga membuka pintu bagi kebutuhan jaman. Yang ketiga adalah pesantren yang hilang identitasnya, karena ia terlalu membuka diri tanpa filterisasi sehingga kehilangan jati dirinya. Namun pesantren tipe ketiga ini tidak akan happy ending (berakhir baik) dan tidak akan ada kesakralannya.
”Kalau ada pesantren yang fasilitasnya lengkap tetapi tidak ada peminatnya, itu karena identitas dan manfaat ilmu dari pesantren tidak ada. Itu mirip asrama, namun bukan pesantren,” katanya.
Model pesantren model ketiga ini, masih lanjut bapak enam puteri ini hanya akan menjadi lembaga pendidikan yang komersial bukan keikhlasan dari pengelolanya. “Mereka akan mengeluarkan anak-anak pintar, tapi belum tentu benar. Padahal kualitas alumni pesantren menurutnya adalah ahlaknya, hubungannya dengan Allah dalam proses taqarub, ahlaq terhadap guru dan orang tua dan ahlaq sesama dan lingkungan itu khas pesantren salaf,” jelas Kyai Mutawakil.
Sementara di Ponpes Zainul Hasan ini, tujuan pendidikan dan pengajaran diarahkan kepada pembinaan manusia berkarakter Muslim, yaitu manusia Muslim yang berbudi luhur, berpengetahuan luas dan berjiwa ikhlas. Oleh karena itu para santri diharapkan dapat mengembangkan kebebasan berpikir dan ketulusan pengabdiannya, disamping memperoleh pengetahuan yang cukup dalam diri mereka. Out put pendidikan Pesantren Zainul Hasan dititikberatkan kepada pencetakan kader-kader Muslim ahlussunah waljamaah dan menjadi seorang mukmin.

Pengalaman Menuntut Ilmu KH. Hasan Mutawakkil Allallah S.H, M.M

Ketua PWNU Jawa Timur, Moch Hasan Mutawakkil muda pada tahun 1983 silam harus melakukan perjalan ke Eropa untuk studi banding.

Saat itu, dia ingin mendalami ilmu di Universitas Leiden, Denhaag, Belanda selama beberapa bulan, yang saat itu masih kuliah di Al Azhar, Mesir.

Masih ingat hari itu, menjelang Ramadan tepatnya tanggal 26 Sya’ban ketika pesawat yang dinaikinya, Luthansa lepas landas dari Kairo, Mesir menuju Frankfut, Jerman. Di Frankfut ia sempat menjalani puasa dengan siang hari cukup panjang, 14 jam.

“Sampai sekarang saya masih mengingatnya, betapa berkah Ramadan demikian saya rasakan di negeri orang, di Frankfurt, Jerman, meski memang cukup berat saat menjalaninya,” ujarnya.

Perjalanan pun dilanjutkan. Saat hendak mengurus visa di Frankfut, Mutawakkil sempat ditanya petugas, apakah mempunyai uang minimal 2.000 dolar AS atau sekitar Rp 2 juta karena saat itu nilai tukar rupiah sekitar 1.000/dollar AS.

Dia memilih tidak menjawab dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perjalanan. “Saya terkejut karena uang yang saya pegang hanya 200 dollar AS,” ujarnya yang ketika itu berencana ke Belanda dengan menumpang kereta api (KA).

Sadar uang yang dikantonginya sangat sedikit, dia pun terpaksa buka puasa dan sahur seadanya. “Saat buka puasa dan makan sahur, saya hanya makan roti, kentang, dan sedikit mayonese. Sepotong daging tidak saya makan karena khawatir kehalalannya,” ujarnya.

Selama di Frankfurt dia terus berdoa meminta kemudahan dari Allah. Dia ingat betul, meski saat itu baru berumur 14 tahun, tapi dia sudah memiliki pegangan teguh terhadap Islam.

Dalam penderitaanya di Frankfut, dia yakin sebuah hadits Rasulullah yang menyatakan, barangsiapa menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu, Allah akan memudahkan jalannya di akhirat kelak.

Tak perlu menunggu di akhirat, di dunia pun ketika dia memohon pertolongan-Nya, secara mengejutkan kemudahan dan jalan lempang bisa dicecap.

“Malam itu saya berdoa sampai terus-menerus sampai air mata tak terbendung, berharap Allah mempermudah jalan saya menuju Leiden, Belanda,” ujarnya.

Dengan tekad bulat, keesokan harinya Mutawakkil kembali menemui petugas visa di Stasiun KA Frankfut. Kali ini ia tidak ditanya lagi, apakah membawa uang minimal 2.000 dollar AS.

“Saya hanya ditanya, ‘Are you student? Setelah saya katakan, ‘I am student from Egypt’, visa saya langsung distempel, tanpa dikenai biaya,” ujarnya.

Mutawakkil mengaku, benar-benar merasakan berkah Ramadan di negeri orang. Akhirnya ia berhasil menempuh studi selama 4 bulan di Universitas Leiden, Belanda.

“Di Al Azhar saya di Fakultas Syariah, sementara saat di Leiden saya belajar kriminologi Islam,” ujarnya.

Dikatakannya, karena studi banding ke Belanda itu atas inisiatif sendiri, Mutawakkil pun harus menanggung biaya studi dan hidup dari koceknya sendiri.

Ketika uang yang tersisa 200 dolar habis untuk biaya perjalanan, di Belanda pun ia mencari kerja paro waktu. “Saya sempat menjadi pelayan restoran, untuk mendapat uang tambahan,” ujarnya.

Dengan bekerja di restoran, ia juga memperoleh pengalaman berharga. “Saya melihat hubungan kerja antara buruh dan majikan harmonis, ternyata akhlak Islam ada di Barat, bukan di Timur Tengah, di mana sebagian majikan sering berperilaku kasar kepada pekerjanya,” ujarnya.

Di tengah keasyikannya menuntut ilmu, ia dijemput pulang oleh sang ayahanda, KH Saifourridzal pada 1985. Sesampai di Probolinggo, ia langsung mengamalkan ilmunya di Pesantren Zainul Hasan.

Tak berselang lama, ibundanya, Nyai Hafshowati dan ayahndanya, Kiai Saifouridzal berpulang ke sisi Allah. Sejak itu pula ia memangku Pesantren Zainul Hasan hingga sekarang.

Tak berhenti di bangku kuliah, Mutawakkil hingga saat ini pun masih terus belajar. Mengasuh sekitar 20.000 santri, membuatnya harus selalu beradaptasi dengan kemajuan zaman. “Membaca buku menjadi makanan wajib, dari situ lah kita bisa terus mengisi hidup ini dnegan ilmu pengetahuan,” katanya.

Peran dan pengaruh Kiai Mutawakkil pun tidak bisa dipisahkan dari nama besar pesantren. Pesantren yang dulu bernama Genggong ini sudah berusia 171 tahun atau didirikan sekitar tahun 1839 oleh almarhum KH Zainul Abidin dari keturunan Maghribi (Maroko) di Desa Karangbong, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo.

Pesantren yang kini lebih dikenal dengan sebutan pesantren Zainul Hasan telah  mengalami tiga kali pergantian nama. Semua perubahan itu dilandasi sejarah pertumbuhan pesantren dan adanya gagasan untuk mengabadikan para pendiri pesantren sebelumnya. Perubahan nama ini terjadi pada periode kepemimpinan KH. Hasan Saifourridzal.

Nama Pondok Genggong dipakai sejak kepemimpinan KH Zainul Abidin sampai kepemimpinan KH. Moh Hasan tahun 1952. Nama pesantren kemudian berganti menjadi ‘Asrama Pelajar Islam Genggong’.

Pada tanggal 19 Juli 1959, dalam pertemuan dewan pengurus almukarom KH. Hasan Saifourridzal menetapkan perubahan nama menjadi Pesantren Zainul Hasan.

“Ini hasil perpaduan nama dari tokoh sebelumnya di mana kata Zainul diambil dari nama almarhum KH Zainul Abidin sebagai pembina pertama dan kata Hasan diambil dari nama almarhum KH Mochammad Hasan sebagai pembina kedua,” kata KH. Hasan Mutawakkil.

diambil dari Artikel “Surabaya Post”